Noda

Noda
Sedikit Hal Tentang Reza


__ADS_3

Perasaanku semakin bergejolak, kala Bu Fatimah mengulangi pertanyaannya. Aku benar-benar tidak tahu mengapa hati ini bereaksi, dan bahkan sekarang wajahku pun ikut memanas. Perasaan ini tak beda jauh saat pertama kali aku menatap wajah Daniel. Mengapa?


"Kirana."


"Aku, aku masih tidak tahu, Bunda. Aku bingung harus menjawab apa." Kuusap wajahku dengan telapak tangan. Kuseka bintik-bintik keringat yang membasahi kening dan pelipis.


"Ya sudah tidak perlu buru-buru, masih ada banyak waktu untuk berpikir, Kirana.


Hanya saja, ada hal yang harus kamu tahu. Dia pasti mencintaimu dan menerima masa lalumu. Dia tidak akan mengecewakan ataupun menyakitimu," kata Bu Fatimah.


Kulihat raut wajah beliau sangat serius, tidak ada sedikit pun gurat kebohongan di dalamnya. Mengapa Bu Fatimah bisa seyakin itu?


"Bunda," panggilku.


"Iya, Kirana."


"Kenapa Bunda seyakin itu? Apakah keponakan Bunda sudah tahu siapa aku?" tanyaku, penasaran.


"Bunda yakin, karena Bunda sangat mengenalinya. Kirana, tata hatimu dengan baik dan pikirkan matang-matang apa yang Bunda tanyakan barusan. Bunda tahu perasaanmu masih untuk Daniel, tapi kalian sudah dipastikan untuk berpisah. Belajar mencintai dalam ikatan pernikahan, itu bukanlah sesuatu yang sulit, Kirana. Saling bertatapan, saling bersentuhan, saling berbagi suka dan duka. Bunda yakin, benih-benih rasa itu akan tumbuh dalam waktu singkat," jawab Bu Fatimah, yang sedikit menyimpang dari pertanyaanku.


"Aku belum bisa menjawab sekarang, Bunda. Aku ... aku masih butuh waktu untuk berpikir," ucapku sedikit gugup.


Bu Fatimah tersenyum sambil mengangguk. Lantas beliau kembali merangkulku dengan erat. Kami saling diam hingga lantunan azan asar berkumandang. Kemudian kami beranjak dan bersama-sama berangkat ke masjid. Di sana, aku kembali mengadu pada Sang Ilahi. Memohon petunjuk atas pilihan yang harus kuambil setelah ini.


_______


Langit biru cerah membentang, berhiaskan mega putih yang tampak samar-samar. Keanggunan surya terpampang jelas di angkasa raya, tak ada yang berani menutupi cahayanya yang keemasan. Lukisan hari yang indah, memesona, nan penuh warna. Aku akan memanfaatkan hari yang cerah ini untuk berkunjung ke rumah Ibu.

__ADS_1


Aku berdiri di depan cermin, di dalam kamar. Kutatap pantulan diriku yang sudah rapi. Kubalut tubuhku dengan jubah warna merah. Dengan hiasan pita di pinggang, dan sedikit renda di bagian dada, sederhana namun cukup manis. Jubah yang kukenakan tampak serasi dengan kerudung cokelat muda yang menutupi rambutku.


"Manis," gumamku, memuji diri sendiri.


Tak lama kemudian, Bibi memanggilku dari luar ruangan. Beliau memberitahuku bahwa Mayra sudah datang menjemput.


Perasaanku masih tidak nyaman, saat mengingat keputusan Daniel. Itu sebabnya aku mengajak Mayra berkunjung ke rumah Ibu. Aku ingin berbagi cerita bersamanya.


Aku keluar kamar sambil menggendong Dara. Tak lupa kusambar tas selempang yang berisi dompet dan ponsel.


"Bi, aku ke rumah Ibu dulu, ya. Tadi aku sudah izin sama Bunda," pamitku pada Bibi.


"Iya, Mbak, hati-hati, ya," jawab Bibi. "Uhh anak cantik mau jalan-jalan. Hati-hati ya, Nak, jangan nakal, jangan nangis. Titip salam ya untuk Nenek." Bibi mengusap-usap pipi Dara dengan lembut.


Aku tersenyum dan kemudian melangkah pergi setelah menjawab ucapan Bibi.


Aku menuju ruang tamu dan menemui Mayra yang sudah menungguku di sana.


"Tante, May, bukan kakak," sahutku.


"Kakak aja lah, Ra, kalau tante ketuaan. Aku 'kan masih imut-imut," jawab Mayra.


"Terserah kamu aja deh, May, penting kamu seneng." Aku memutar bola mata, dan Mayra hanya menanggapinya dengan tawa.


Lantas kami beranjak dan melangkah bersama. Kemudian naik ke mobil Mayra. Kami mulai meluncur dan membelah jalanan Kota Malang yang cukup padat.


Sekitar setengah jam perjalanan, Mayra menghentikan mobilnya di depan restoran. Kami sepakat minum sebentar dan membeli makanan untuk dibawa ke rumah Ibu. Mayra memilih tempat duduk di dekat jendela, dan aku pun mengikutinya. Kami berbincang sambil menunggu pesanan datang.

__ADS_1


"May, kemarin Daniel ke rumah," ucapku memulai obrolan.


"Terus?"


"Dia tetap pada keyakinannya. Kami benar-benar berpisah, May." Aku menjawab sambil menghela napas panjang.


Mayra menatapku dengan sendu. Mungkin dia paham dengan apa yang aku rasakan.


"Sabar ya, Ra, mungkin ... dia memang bukan jodohmu. Percayalah, pasti ada jodoh lain yang sudah dipersiapkan untukmu." Mayra mengusap lenganku sembari mengulas senyum.


"Amin, mudah-mudahan aja, May," sahutku.


"Sebenarnya, ada seseorang yang amat merindukan kamu, Ra. Berulang kali dia menghubungiku, demi mencari informasi tentangmu. Dia ingin bertemu dan bicara empat mata denganmu, Ra," kata Mayra. Nada suaranya terdengar sungguh-sungguh.


"Siapa?" tanyaku padanya.


"Reza."


"Aku tidak mau bertemu dengannya. Aku terlanjur kecewa, May. Tolong jangan berikan alamat Bunda, ataupun nomor ponselku padanya." Aku menatap Mayra dengan intens.


"Banyak hal yang belum kamu tahu, Ra. Reza tidak seperti yang kamu kira. Waktu itu dia memang salah, tapi ... ada sedikit hal yang kamu lewatkan," terang Mayra.


"Sedikit hal? Apa maksudmu, May?" tanyaku dengan cepat.


"Sebenarnya___"


Mayra menghentikan kalimatnya karena pelayan datang mengantarkan pesanan kami.

__ADS_1


"May, ada apa dengan Reza? Hal apa yang aku lewatkan?" Kuulangi pertanyaanku, sebab Mayra malah meneguk minumannya.


Bersambung...


__ADS_2