Noda

Noda
Buah Cinta yang Malang


__ADS_3

"Katakan di mana anakku, May!"


Aku memekik sambil gemetaran. Menatap mereka yang saling memandang dan tak jua bicara, hatiku mulai berkecamuk hebat. Prasangka-prasangka buruk berputar memenuhi pikiran.


Karena mereka masih tak menjawab, walau polisi sudah berulang kali membentaknya, kini Kak Darren yang ambil tindakan. Ia beranjak dan mendekati Amanda, sembari melemparkan tatapan tajam.


"Di mana Dara?" tanya Kak Darren.


"Ren, aku ... aku ... ini, ini nggak seperti yang kamu lihat. Aku___"


"Cepat katakan di mana Dara!" pungkas Kak Darren dengan intonasi yang makin tinggi.


"Ren___"


"Cepat!" teriak Kak Darren.


"Dia ... dia ... dia ada di halaman belakang," jawab Amanda dengan lirih, nyaris seperti bisikan.


"Halaman belakang, dengan siapa di di sana?" Kak Darren kembali bertanya.


"Dia ... dia___" Amanda menunduk dan tak meneruskan jawabannya.


"Ikut kami, tunjukkan di mana dia sekarang!" Polisi membentak sambil mendorong tubuh Amanda, memaksanya berjalan dan menujukkan keberadaan Dara.


Aku turut beranjak, meski tubuhku sangat lemah dan nyaris tak bertenaga. Melihatku yang sedikit terhuyung, Kak Darren setengah berlari menghampiriku. Lantas menopang tubuhku agar tidak terjatuh.


"Sayang, keadaanmu seperti ini. Tunggulah di sini bersama Reza, biar aku yang menemui Dara," kata Kak Darren.


"Darren benar, kamu sangat lemah, Ra," timpal Reza.

__ADS_1


"Tidak." Aku menggeleng. "Aku ingin secepatnya bertemu dengan Dara," sambungku.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menggendongmu." Kak Darren menjawab sambil meraih pinggangku. Mendekapku dalam gendongan dan membawaku melangkah mengikuti Amanda.


"Kak___"


"Sayang, diamlah! Aku tidak tega melihatmu tertatih sendiri. Melihat keadaanmu yang seperti ini, aku sangat hancur, merasa bodoh karena tidak bisa menjagamu. Tolong jangan menolak sedikit hal yang bisa kulakukan untukmu," jawab Kak Darren.


"Bukan salah Kak Darren, ini terjadi karena aku yang ceroboh. Terlalu percaya dengan seseorang yang sebenarnya sangat kejam," jawabku dengan penuh sesal.


"Sayang, aku janji sama kamu, akan membuat perhitungan dengan Amanda dan Mayra. Tindakannya hari ini, kupastikan akan disesali seumur hidup. Mereka tak akan bisa tersenyum setelah ini," ujar Kak Darren dengan tegas.


"Jangan melakukan yang macam-macam, Kak. Biarkan polisi yang mengadilinya," sahutku.


Sebelum Kak Darren menjawab, polisi sudah membuka pintu, yang langsung menampilkan alam luar. Menyadari sempitnya bangunan ini aku sempat berpikir, mungkinkah ini rumah Mala?


"Kenapa berhenti?" bentak polisi kepada Amanda.


Lagi-lagi Amanda sekadar menunduk, dan hal itu membuatku makin tak karuan. Aku memaksa turun dan bergegas mendekati Amanda, Kak Darren memapahku dari samping.


"Di mana Dara? Cepat katakan di mana anakku?" bentakku dengan diiringi deraian air mata.


Amanda menatapku dengan tajam, "kamu tidak berhak membentakku!"


"Jangan banyak bicara! Cepat katakan di mana anak korban atau peluru ini akan bersarang di kakimu!" Lagi-lagi polisi membentak Amanda.


Amanda tersenyum miring, tanpa mengalihkan tatapannya.


"Dia sudah mati dan aku menguburnya di sini."

__ADS_1


Jawaban Amanda bak halilintar yang menyambar tepat di ulu hati, membuatku lemas dan langsung terjatuh. Beruntung Kak Darren sigap menangkap, sehingga tubuhku tak terjerembab ke tanah. Aku hendak memaki iblis yang menjelma dalam wujud manusia, tetapi lidahku kelu dan tak ada daya untuk bicara. Aku hanya membatin dan merayu Tuhan, semoga ini sekadar kekeliruan atau hanya penggalan mimpi buruk yang datang sebagai bunga tidur.


"Sayang, Sayang!" panggil Kak Darren dengan nada panik. Mungkin ia sadar kalau tubuhku makin lemah.


"Amanda, jangan sembarangan bicara! Kamu tidak akan sanggup menanggungnya jika itu benar terjadi!" geram Kak Darren.


"Aku tidak sembarangan, Ren. Dia memang sudah mati." Amanda bicara sambil tertawa.


Ketika aku masih meringkuk lemah dalam dekapan Kak Darren, seorang polisi dengan cekatan memindahkan batang pisang.


Tak lama kemudian, Reza, Mayra, dan salah seorang polisi menyusul kami. Reza membawa cangkul dan menyerahkannya kepada polisi yang sedang memindahkan batang pisang.


"Maafkan aku, Kirana. Aku tidak punya pilihan," bisik Mayra. Ia berdiri di sebelahku dalam pengawasan polisi.


Aku tak menjawab dan sekadar Kak Darren yang menyahut. Ia memarahi Mayra yang kala itu terus menunduk. Usai menatap Mayra, aku kembali menilik gerakan polisi yang kini mulai menggali gundukan tanah. Aku terus berdoa semoga ini bukanlah kebenaran. Namun, harapan itu pupus dalam hitungan menit.


Kain putih berenda tampak terselip di antara gumpalan-gumpalan tanah. Aku hafal benar itu apa, ujung baju Dara. Ketika hatiku masih kacau berantakan, tiba-tiba polisi mengangkat sosok mungil yang tak lain adalah Dara.


"Innalillahi wainnailaihiroji'un."


Ucapan polisi bak angin lalu bagiku. Hirap tenaga dan segala cahaya dalam hidup kala kulihat wajah Dara pucat pasi dan penuh tanah. Ada noda merah kecokelatan di dadanya, mungkin itu adalah bekas darah.


Aku tak bicara, tetapi segera beranjak dan hendak menghampiri polisi yang sedang melangkah ke arahku. Namun, belum sempat tubuh ini berdiri sempurna, tiba-tiba hanya kegelapan yang kurasakan. Sayup samar kudengar seseorang memanggil namaku, tetapi lidah tak sanggup menyahut. Makin lama suara itu makin menghilang dan segalanya senyap dalam sekejap.


Bersambung...


Kamu sadis, Thorr!!!


Enggak, aku manis, romantis lagi. Nggak percaya, tanya aja di kolom komentar.

__ADS_1


__ADS_2