
Cukup lama aku menilik wajah Daniel, mencari jawaban dari rasa penasaran. Namun detik kian berlalu, Daniel tak juga menjelaskan apapun.
"Niel, apa maksudmu? Butik ini milik orang tua Reza, dan rumah dia juga nggak jauh dari sini. Lantas kamu menyuruhku tinggal di sini, dan kerja di butik ini. Hubungan kamu dengan Reza nggak cukup baik, 'kan? Lalu kenapa kamu melakukan ini?" tanyaku dengan cepat.
Sebelum kami berangkat, Daniel sudah memberitahuku. Dia akan menempatkan aku di butik milik temannya, aku tidak menyangka jika teman yang dimaksud adalah Reza. Saat bertemu di makam, mereka sempat bertengkar, kupikir hubungan mereka akan tetap memburuk. Namun entahlah, aku masih tak mengerti, mengapa tiba-tiba Daniel membawaku ke sini.
"Kirana, tenanglah, dengarkan penjelasanku. Kamu 'kan lagi hamil, aku tidak mengijinkan kamu bekerja full time. Jadi itu sebabnya, aku menempatkan kamu di sini. Butik ini sudah berada dalam penanganan Reza, dan dia teman kita, jadi dia pasti mengerti kondisi kamu. Jika kamu bekerja di tempat lain, terkadang mereka banyak menuntut, Ra, aku tidak mau itu. Aku akan ikut bertanggung jawab atas biaya hidup kamu, jadi jangan bekerja terlalu keras, tidak baik untuk bayi kita." Daniel menerangkan sembari menggenggam tanganku.
"Tapi, Niel, kenapa harus di tempat Reza? Apa tidak ada tempat yang lain? Temanmu juga banyak, 'kan?" protesku. Entah mengapa aku merasa tidak nyaman dengan tempat ini.
"Tidak ada yang cocok, Ra. Ini adalah tempat yang paling pas. Papa menyuruhku belajar kerja, karena sekarang aku sudah tidak kuliah. Mungkin ke depannya aku punya sedikit kesibukan, dan tidak bisa setiap hari melihat keadaanmu. Jika kamu tinggal di sini, setidaknya ada Reza yang bisa kumintai tolong. Nanti___"
"Apa hubunganmu dengan dia sebaik itu? Terakhir kali aku melihat kalian bersama, itu bertengkar, 'kan?" pungkasku.
__ADS_1
"Hanya salah paham, Kirana. Waktu itu pikiranku sedang kalut, jadi tidak bisa melihat niat baik dia. Reza lelaki yang bisa dipercaya, aku yakin itu," jawab Daniel tanpa beban.
"Tapi, Niel___"
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semua pasti baik-baik saja. Maaf ya, untuk sekarang kamu harus tinggal sendiri. Nanti, kalau aku sudah benar-benar bekerja, sudah punya uang sendiri, aku akan menyewa asisten rumah tangga untuk menemani kamu." Daniel mengulas senyum manis yang selama ini selalu kukagumi.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri," jawabku.
Aku membuka pintu mobil dan melangkah turun, tanpa menunggu jawaban Daniel. Rasanya hati ini kesal, saat Daniel membawaku ke tempat Reza. Rumah yang akan kutempati, memang rumah sewaan, bukan rumah Reza, tapi aku merasa tidak enak jika bekerja di butiknya. Sebenarnya, aku ingin pergi ke tempat yang lebih jauh. Tempat yang tidak ada seorang pun yang kukenal.
________
Senja sudah jauh berlalu, kini berganti malam yang datang menyapa. Kerlip bintang hanya tampak samar-samar, bulan pula menyembul malu di balik awan kelabu. Aku duduk termenung di balkon kamar, memandangi dua set seragam yang kuletakkan di atas pangkuan.
__ADS_1
Beberapa waktu lalu, Alena datang menemuiku, dia adalah karyawan yang sudah bertahun-tahun bekerja di butik Reza. Dia mengantarkan seragam, sekaligus memberitahuku jika besok bisa mulai bekerja.
"Semoga semuanya berjalan lancar, tanpa ada kendala. Aku berharap hubungan Daniel dan Reza memang benar-benar baik, sehingga semua ini bisa menjadi awal yang baik pula untukku." Aku bergumam sembari meraih segelas susu cokelat yang nyaris dingin.
Usai menghabiskan minuman, aku mendongak, menatap awan hitam yang semakin kelam. Dalam hitungan detik, rintik-rintik hujan mulai berjatuhan, beriringan dengan kilatan cahaya yang menoreh angkasa. Lantas aku beranjak dari dudukku dan kembali ke kamar.
Aku naik ke atas ranjang dan menutup tubuhku dengan selimut tebal. Di luar, hujan turun semakin deras, halilintar pula semakin menggelegar melanglang buana. Aku memeluk guling dengan erat sambil membayangkan sosok Ibu.
Sewaktu kecil, Ibu selalu mendekapku setiap kali ada petir yang menyambar. Ibu menenangkanku dengan bisikan-bisikan merdunya. Aku senantiasa merasa aman dalam pelukan hangatnya. Ahh, Ibu, entah kapan kita bisa bertemu.
Tak terasa air mataku kembali berlinang, meleleh laksana air hujan di luar sana.
Kubenamkan wajah di antara bantal dan guling. Sudah terlalu banyak air mata yang kutumpahkan dalam beberapa waktu terakhir, aku takut ia akan habis dan mengering.
__ADS_1
"Aku rindu, Ibu," ucapku dalam hati.
Bersambung...