
Hampir genap setengah jam aku duduk sembari menitikkan air mata di hadapan Bu Ambar. Setelah mengatakan perihal orang tua, beliau tak lagi berbicara. Hanya deru napasnya yang kasar, serta isakan tangisku yang mengisi kekosongan.
Derit pintu yang terdengar nyaring, membuat jantungku berdegup kencang. Seakan ia meloncat dari tempatnya. Tubuh ini semakin lemas tak berdaya, tak sanggup rasanya menatap wajah orang tua yang kecewa. Lelah dan letihnya perjuangan mereka, malah kuganti dengan noda. Setelah membebani mereka dengan biaya kuliah, kini aku membebani mereka dengan aib yang hina. Ah, betapa kejamnya diriku.
Derap langkah kian mendekat, aku langsung beranjak dan menghambur ke arahnya. Aku duduk di lantai sembari memeluk kedua kaki Ibu dengan erat.
"Maafkan aku, Bu. Maafkan aku," ucapku di sela-sela tangis yang semakin pecah.
Aku terus menunduk dan menyembunyikan wajahku di kedua kakinya. Meskipun hal ini tak bisa mengubah keadaan, tapi aku benar-benar menyesal dan mengharapkan kata 'maaf' darinya.
"Maafkan aku Bu, maafkan semua kebodohanku," ujarku untuk yang kesekian kali.
Detik berikutnya, kurasakan sentuhan hangat di kedua pundak. Sebuah sentuhan yang perlahan menjadi genggaman.
"Bangunlah, Nak. Bangun dan hapus air matamu!" Kudengar suara Ibu berat dan tertahan. Aku yakin, beliau menahan sesak dan kecewa.
Dengan tetap menunduk, aku beranjak dan berdiri di hadapan Ibu. Genggaman di pundakku merenggang, dan dalam hitungan detik benar-benar terlepas. Lantas kurasakan hangat jemari mengusap kedua pipiku, menyeka setiap titik air mata yang membasah di sana.
Aku mendongak, dan menguatkan diri untuk menatap wajah renta milik Sang Ibunda. Aku menggigit bibir, kala melihat sepasang mata cekungnya yang terus mengerjap. Ibu sedang menahan air mata.
"Jangan menangis." Ibu berkata sembari mengulas senyum palsu, dan hal itu membuat hatiku semakin sakit. Meskipun Ibu mencoba bersikap tegar, tapi aku tahu saat ini Ibu sedang tertekan.
"Ayah di mana, Bu?" tanyaku dengan pelan. Kupikir tadi Ayah ikut datang, tapi ternyata tidak. Hanya Ibu seorang yang bertandang ke kampus.
"Ayah-mu masih sibuk, Nak," bisik Ibu dengan gemetaran. Entah perasaanku saja, atau memang benar adanya, kesedihan di wajah Ibu semakin nyata saat aku bertanya tentang Ayah.
Aku tak lagi berucap, namun dalam hati aku memanjatkan doa, semoga Ayah baik-baik saja.
"Bu Ambar, Daniel dan orang tuanya sudah menunggu di ruangan Pak Akhsan," ucap Pak Rahman dari ambang pintu.
Pak Akhsan adalah kepala dosen di Universitas Trijaya.
__ADS_1
"Mari ikut saya." Bu Ambar beranjak dari duduknya sembari menatapku sekilas.
"Ayo, Nak." Ibu mengulas senyum, sembari merapikan rambutku.
Aku mengangguk dan mulai mengayunkan kaki. Dalam rangkulan Ibu, aku berjalan mengikuti Bu Ambar, menjemput penggalan mimpi buruk yang sudah terbentang di depan mata.
Tak lama kemudian, kami tiba di ruangan Pak Akhsan. Netraku langsung tertuju pada sosok lelaki yang duduk di kursi paling ujung. Daniel, sepasang matanya memandangku dengan tatapan sendu. Melihat kemelut yang bersarang dalam manik cokelatnya, hati ini kian teriris. Sakit, perih, seakan luka ini mustahil terobati. Kemelut itu seolah menegaskan, betapa curamnya jurang pemisah di antara kami.
Dua tahun silam, manik cokelat itu memandangku dengan sejuta keanggunan. Berkat dia, aku mengenal indahnya cinta dan manisnya rindu. Namun berkat dia juga, aku mengenal pedihnya lara dan hinanya noda. Dua tahun kita merajut asmara, bercanda dan tertawa bersama. Namun kini, semua keindahan itu sirna. Harapan-harapan semu telah hirap bersama arus waktu. Kisah cinta yang pernah bertahta, kini diakhiri dengan air mata.
"Sudah berkali-kali Mama mengingatkanmu, Daniel, putuskan Kirana. Bukan rupa atau kedudukan yang membuat Mama enggan merestui kalian, tapi keyakinan. Kamu dan Kirana berbeda, tidak ada jalan untuk kalian bersama. Dalam agama kita, dilarang berpasangan dengan orang-orang yang tidak percaya. Mama yakin, dalam agama Kirana pun juga demikian. Lantas apa yang kamu harapkan dari hubunganmu ini selain perpisahan, Daniel!"
Belum sempat aku duduk di kursi, telingaku sudah mendengar perkataan yang menyesakkan. Kenyataan benar-benar memaksaku untuk sadar, bahwa aku dan Daniel ditakdirkan untuk tidak bersama.
"Maafkan aku, Ma."
Kudengar suara Daniel sangat berat, dia pasti menyesali semua yang telah terjadi.
Kenapa rasa itu muncul dalam hati, jika akhirnya hanya menjadi duri yang menyakiti.
Menit selanjutnya, aku hanya duduk termenung, meratapi kepingan-kepingan harapan yang perlahan berserak. Di antara mimpi-mimpi yang menari dalam ilusi, suara orang di sekitar samar-samar menyeruak dalam pendengaran.
Tak banyak yang mampu kutangkap, namun aku paham bahwa sekarang aku dan Daniel bukanlah mahasiswa di Universitas Trijaya. Namaku dan namanya telah dicoret dari daftar absensi di sini.
Pandanganku memburam, air mata kembali menggenang dan siap berlinang. Sekilas kumelirik ke arah Daniel, jemarinya saling bertautan dengan erat. Pandangannya datar, dan deru napasnya terdengar berat. Mungkin saat ini, dia juga hancur sepertiku.
______
Sang surya semakin merangkak tinggi, sinarnya begitu terik meskipun belum tengah hari. Aku dan Ibu duduk di dalam angkot, berdesakan dengan ibu-ibu lain yang entah darimana. Beberapa di antaranya, kerap kali mencuri pandang ke arahku. Mungkin mereka bertanya-tanya perihal mataku yang sayu dan sembap. Aku tak punya hak untuk membatasi pandangan mereka, jadi yang bisa kulakukan hanyalah menunduk.
Berkali-kali aku menghela napas panjang, menenangkan diri untuk menghadapi waktu nanti. Kami sedang dalam perjalanan pulang, dan sejak keluar dari ruangan Pak Ahksan, Ibu sama sekali tak membuka suara.
__ADS_1
Semakin dekat dengan rumah, jantungku semakin berdetak cepat. Bagaimana tanggapan Ayah, bagaimana tanggapan Mas Bayu, bagaimana tanggapan Mas Denis. Aku kesulitan menelan saliva, saat kemungkinan-kemungkinan terburuk mulai menghantui pikiranku.
Satu persatu penumpang turun di tempat masing-masing. Aku dan Ibu pun juga hampir tiba di rumah, tinggal satu belokan lagi.
"Semoga semuanya baik-baik saja. Ya Allah, beri hamba kekuatan untuk melewati semua ini," batinku dengan perasaan getir.
Angkot berhenti tepat di depan rumah, dan saat itu juga duniaku seakan berhenti berputar. Sepasang netraku menatap nyalang pada kendaraan putih, panjang, yang terparkir di depan teras. Bukan itu saja, kulihat banyak tetangga pria dan wanita yang berkumpul di rumah. Ada apa gerangan?
"Ibu! Ibu! Ini ada apa, Bu!" pekikku dengan cepat.
"Ayo masuk! Minta maaflah pada Ayah-mu, selagi masih bisa kau tatap raganya." Ibu berbisik sembari meneteskan air mata.
"Tidak! Ini tidak mungkin! Ini tidak mungkin 'kan, Bu! Katakan jika ini salah, Bu!" teriakku diluar batas kesadaran.
Bersambung...
Hallo Kakak, terima kasih ya untuk dukungan dan apresiasinya dalam karyaku yang berjudul Noda. Semoga semuanya lancar, sehingga aku bisa menulis novel ini sampai tamat.
Episode novel ini akan up secara berkala. Sambil menunggu, aku ingin merekomendasikan karya yang sudah tamat. Tiga novel yang kutulis sebelum menulis novel Noda.
Tentang Rasa (kisah cinta dan persahabatan)
Kesucian Cinta Yang Ternoda (drama rumah tangga)
Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa (kisah cinta cowok miskin dan cewek kaya)
Jika ada yang berkenan, silakan klik profilku, dan temukan karya-karyaku di sana. Terima kasih.
Salam manis dari penulis
Gresya Salsabila
__ADS_1