
"Ini nggak benar, aku nggak melakukan apa pun." Kaivan menggeleng-geleng. "Hei, kamu jangan gila ya! Aku tidak macam-macam padamu. Bahkan, walaupun minumanku kamu habiskan, aku tidak marah ataupun memaki!" sambungnya sembari menatap Nadhea.
"Lo emang nggak marah, tapi langsung nyium gitu aja. Bahkan, tangan lo juga ke mana-mana. Iya, kan?" sahut Nadhea dengan tampang polosnya.
"Kamu amnesia atau emang dasarnya nggak ada otak? Habis minum kamu langsung pergi dan aku nggak bicara apa pun, juga nggak melakukan apa pun! Jadi, jangan ngomong yang enggak-enggak, yang bisa mencemarkan nama baikku. Paham!" Suara Kaivan makin meninggi. Untuk pertama kalinya dia bicara kasar pada orang lain.
"Ya udah lah, jangan marah-marah! Gini aja, biar aku nggak ngomong yang enggak-enggak, sekarang kasih gih ciuman kamu. Jadi, tuduhanku ada bukti. Beres, kan?" Nadhea menatap Kaivan sambil menyunggingkan senyum lebar.
"Sinting!" Kaivan memelotot tajam.
"Sebenarnya kamu siapa sih, kenapa tiba-tiba datang dan bicara yang nggak jelas? Jujur ya, kami semua nggak ada yang percaya sama kamu. Karena kami tahu, Kaivan itu lelaki baik-baik, nggak seperti yang kamu tuduhkan," timpal Elbi. Dia pun mulai jengah dengan tingkah Nadhea.
"Gue Nadhea, kan tadi udah bilang." Nadhea menjawab santai.
"Oke. Nona Nadhea yang terhormat, silakan pergi dan jangan membuat kekacauan di sini!" usir Kaivan dengan nada yang tertahan. Dia mati-matian menahan tangannya untuk tidak melayangkan tamparan.
"Nggak mau, gue mau ikut kamu." Nadhea menggeleng sambil merapatkan jaketnya.
"Kamu jangan gila, ya! Kembali ke kelompokmu, kita nggak saling kenal!" bentak Kaivan.
"Nggak ada kelompok, gue dateng sendiri. Gue juga nggak bawa bekal, apalagi tenda. Jadi ... gue mau numpang makan dan tidur sama kamu," jawab Nadhea masih dengan nada santai.
"Kamu jangan aneh-aneh! Kami semua laki-laki dan kamu perempuan, mana boleh tidur bareng. Tidak! Carilah kelompok lain yang ada perempuannya!" kata Nakula, pelan dan tegas.
"Apa bedanya laki-laki dan perempuan? Apa kalian n*f*u gitu?" Nadhea menatap Nakula, Kaivan, dan yang lainnya.
__ADS_1
"Kamu makin gila! Beneran geser ya, otak kamu?" Emosi Kaivan makin tersulut.
"Kan sudah gue bilang kemarin, sejak ketemu sama lo mendadak gila. Coba diajak nikah gitu atau seenggaknya pacaran, mungkin gilanya sedikit berkurang," sahut Nadhea.
"Kamu PSK, ya?" Andre menatap Nadhea cukup lama. "Kalau memang iya, kamu salah datang ke sini. Kami semua bukan lelaki yang seperti itu. Kami hanya pecinta alam, tujuan kami sekedar mendaki gunung, bukan yang lain," sambungnya.
Sebenarnya Andre tidak yakin dengan dugaannya karena penampilan Nadhea cukup tertutup dan natural. Namun, dengan tingkah yang di luar batas normal, mau tidak mau Andre negative thinking.
"Iya, gue emang PSK. Tapi, bukan Pekerja S*x Komersial, melainkan Perempuan Sedang Kasmaran. Gue ke sini dan bersikap kayak gini karena jatuh cinta sama salah satu teman lo. Mau tahu siapa dia?" Usai menatap Andre, Nadhea beralih menatap Kaivan. "Bang Kai," sambungnya.
Kaivan tersentak. Bukan karena pengakuan cinta yang sangat blak-blakan, melainkan karena sapaan 'Bang' yang disematkan. Mungkin, hal itu tidak masalah jika Nadhea menyebutkan keseluruhan nama. Namun, Nadhea hanya memenggal satu suku kata dan melontarkannya dengan nada cepat, seolah memang sengaja mengejeknya.
"Sekali lagi kamu menyebutku dengan nama itu, aku nggak akan segan untuk menamparmu!" bentak Kaivan.
Nakula dan yang lainnya menahan tawa. Mereka merasa lucu walau sebenarnya sangat jengkel dengan tingkah Nadhea. Sesekali pula mereka melirik Kaivan yang ekspresinya jauh dari kata bagus. Lantas, mereka berpaling karena tak bisa menahan senyuman.
Di sisi lain, Kaivan sangat muak dengan ulah gadis yang duduk santai di hadapannya. Lantas, tanpa mengucap kata dia langsung beranjak sambil menenteng kameranya. Dia akan menjauh guna meredam emosi yang sudah mencapai batas maksimal.
"Daripada Papa dan Bunda malu karena aku terjerat kasus penganiayaan terhadap perempuan, lebih baik aku menghindar saja," batin Kaivan.
Cukup jauh Kaivan berjalan, sekitar 100 meter dari tempat semula. Dia berbaur dengan pendaki lain yang duduk santai sambil menikmati keindahan padang savana.
"Udah nggak sabar menunggu senja, pasti lebih memukau." Kaivan bergumam sambil berkali-kali membidikkan kameranya.
Melakukan hobi dapat mengembalikan mood yang buruk ternyata memang benar adanya. Emosi Kaivan yang sempat membuncah sekarang berangsur reda, bahkan bibirnya mulai mengulum senyum.
__ADS_1
Akan tetapi, kesenangan itu tak berlangsung lama. Beberapa menit kemudian, Nadhea sudah duduk di samping Kaivan, yang kala itu sedang bersimpuh sambil melihat-lihat hasil jepretannya.
"Gue emang jatuh cinta sama lo. Sejak di dalam pesawat, gue sering curi-curi pandang, tapi lo nggak nyadar."
Kaivan memejam sesaat. Lantas, mencengkeram kamera dengan erat agar tangannya tidak melayang begitu saja. Walaupun kalimat Nadhea kali ini terdengar normal, tetapi Kaivan tetap kesal dibuatnya.
"Tadi gue seneng banget lihat lo, karena ternyata Tuhan masih mempertemukan kita untuk kedua kalinya. Jujur, kemarin gue nggak nyangka kalau lo akan ke sini," sambung Nadhea.
"Kamu dari mana? Kenapa datang ke sini sendiri? Kamu tahu kan mendaki gunung itu penuh tantangan, bahaya kalau pergi sendiri, apalagi kamu perempuan."
Kaivan menoleh sekilas, lalu kembali memandangi kameranya. Walaupun hatinya masih dongkol, tetapi bibirnya dengan mudah menanggapi ucapan Nadhea. Ah, dasar anggota tubuh pengkhianat! Tidak mau diajak berkompromi.
"Paling-paling akhir dari sebuah tantangan juga kematian. Apa yang perlu ditakutkan?" Jawaban Nadhea sukses membuat Kaivan terkesiap.
"Kamu putus asa, ya?"
Kaivan bertanya sambil memandangi pinggang Nadhea. Sejenak dia berpikir bahwa gadis itu mengalami hal buruk yang berujung pada kehamilan. Karena biasanya, hal itu yang membuat perempuan depresi dan putus asa. Beruntung, saat itu Nadhea mengenakan jaket yang tipis, sehingga lekuk tubuhnya terlihat jelas. Namun, Kaivan tak menemukan pinggang yang mengembang, justru pinggang ramping layaknya seorang gadis yang belum pernah disentuh lelaki.
"Gue nggak putus asa, cuma nggak takut sama kematian. Kehidupan itu, kan, nggak abadi. Semua yang bernyawa pasti akan mati. Jadi, untuk apa kita takut?"
Kaivan mendongak dan beradu pandang sekilas dengan Nadhea. Dari sana, dia menemukan kemelut sendu bersarang di bola mata yang paling dalam. Kendati ucapan itu benar dan mengutarakannya pun dengan senyuman, tetapi Kaivan menemukan maksud lain yang tersirat dalam kalimatnya. Namun, untuk sekian detik lamanya, Kaivan tak berhasil menebak apa gerangan.
Harusakah dia bertanya langsung?
Bersambung...
__ADS_1