Noda

Noda
Arsen Menggila


__ADS_3

Bunyi piring yang beradu dengan lantai berdentang keras di ruangan yang tidak terlalu luas. Di dalam kamar mandi yang berada di kamarnya, Arsen membanting piring yang berisi nasi dan daging rendang. Dia marah karena Nadhea tak mau membuka mulut ketika disuapi.


"Kenapa kamu tidak mau makan, hah? Kenapa?" teriak Arsen dengan napas yang memburu.


Matanya menatap tajam ke arah Nadhea yang sedang diikat di kursi, di sudut ruangan. Kejadian kemarin, memang membuatnya gelap mata, bahkan sampai tak ada rasa iba meski Nadhea sudah dikurung selama dua hari satu malam.


Hamil adalah satu hal yang sangat diharapkan Arsen. Baginya, itu merupakan cara untuk membalas sakit hati atas pengkhianatan Liora. Namun, tanpa dia ketahui Nadhea justru mencegahnya.


"Makan atau aku akan menyiksamu dengan lebih kejam?" bentak Arsen sambil mencengkeram lengan Nadhea.


"Bukankah kamu sudah menyiksaku, Mas?" Nadhea menatap sekilas, menangkap sorot nyalang yang lebih mengerikan daripada kemarin.


"Kamu pantas disiksa, Nadhea! Kamu sudah mengkhianatiku! Kamu tahu aku sangat menginginkan anak, tapi apa yang kamu buat, hah!" sahut Arsen masih dengan intonasi tinggi.


"Dengan tindakanmu yang tidak pernah manusiawi, salahkah bila aku menolak hamil, Mas?"


Entah untuk keberapa kali, tangan kekar Arsen mendarat kasar di wajah Nadhea, meninggalkan lebam dan memar yang tak terbayang lagi bagaimana sakitnya.


"Andai sikapmu bisa lebih lembut, aku tidak keberatan melahirkan dan mengasuh anakmu. Asal kamu tahu, Mas, aku tidak punya andil salah dalam hubunganmu dengan Liora. Dulu, kamu sendiri yang memilihku menjadi istri. Kenapa sekarang pengkhianatan Liora harus aku yang bertanggung jawab? Maaf, Mas, aku tidak mau selamanya terjebak dalam kekejamanmu." Nadhea kembali bicara.


Meski bibirnya berdarah dan mungkin Arsen akan kembali menampar, Nadhea tak peduli. Diam pun Arsen tak memberi maaf, jadi lebih baik mengungkapkan segala keluh kesah yang selama ini dipendam seorang diri. Andai itu membuat emosi Arsen makin bangkit, biarlah. Syukur-syukur jika lelaki itu mau membunuhnya, jadi dia tak perlu menangis lagi karena luka.

__ADS_1


"Kamu berani melawan, Dhea!" bentak Arsen.


"Kenapa tidak? Sudah cukup aku mengalah dan membiarkan harga diri diinjak-injak olehmu, Mas," jawab Nadhea.


Arsen meradang. Tanpa pikir panjang, dia meraih rambut Nadhea dan menariknya hingga gadis itu mendongak. Ketika matanya beradu pandang dengan mata Nadhea yang meredup, Arsen tersenyum miring.


"Sayangnya kamu tidak punya pilihan, Dhea. Ingin ataupun tidak, pada akhirnya kamu akan mengandung anakku. Jika kamu menganggap hidup ini tidak adil, salahkan saja takdir yang membawamu ke sisiku. Sebentar lagi, anakku akan tumbuh di rahimmu," ucap Arsen.


"Jangan terlalu yakin, Mas! Takutnya nyawaku keburu pergi sebelum kadar obat itu hilang dari tubuhku." Nadhea menjawab sambil tersenyum tipis. "Marah saja, Mas, dan bunuh aku segera. Itu akan lebih baik untuk diriku," sambungnya dalam hati.


Bukan tanpa alasan Nadhea menyerah, melainkan sudah tak ada lagi jalan untuk berusaha. Dalam keadaan tangan dan kaki terikat, mana bisa dia lari, sementara Arsen mengawasinya dengan ketat. Kemarin, dia sempat meminta bantuan pada seseorang. Namun, hingga saat ini tak ada tanda-tanda kehadirannya atau mungkin memang tidak akan pernah hadir. Jika Nadhea tetap hidup sampai seminggu ke depan, Arsen pasti akan menggaulinya dan memaksanya hamil. Tidak! Nadhea tidak sudi! Lebih baik dia mati daripada melahirkan darah daging Arsen.


"Oh, jadi ini alasanmu tidak mau makan? Karena kamu ingin mati, iya?" Suara Arsen menggema di ruangan. Ketegasan dan tatapan yang mematikan membuat Nadhea paham bahwa lelaki itu sedang berada di puncak amarah.


"Iya, karena itu lebih baik daripada hidup di sampingmu," jawab Nadhea dengan tatapan kosong.


Arsen melepaskan rambut Nadhea, "Baik. Jika memang itu yang kamu inginkan, aku akan mengabulkannya, Dhea. Tapi, jangan harap aku akan melakukannya dengan baik."


Arsen melangkah mundur sambil tersenyum miring. Nadhea meliriknya dengan jantung yang berdetak cepat. Harapannya, Arsen membunuhnya dengan sekali tusuk atau sekali tembak. Namun, melihat ekpresi Arsen, Nadhea mendadak ragu. Bagaimana jika lelaki itu benar-benar gila?


Arsen berhenti di kursi yang letaknya tak jauh dari tempat Nadhea. Dia duduk sambil mengangkat kaki, lantas merogoh ponsel dan menghubungi anak buah yang ada di lantai bawah.

__ADS_1


"Bawa pisau dan jeruk nipis ke kamar atas!" perintah Arsen pada seseorang di telepon.


Usai menyimpan kembali ponselnya, Arsen menatap Nadhea yang lebih pucat dari sebelumnya.


"Kamu sendiri yang meminta, Dhea. Sebagai suami yang baik, aku akan mengabulkannya." Arsen beranjak dan kembali mendekati Nadhea. "Tapi, aku ingin bermain sebentar. Wajahmu terlalu cantik, makanya angkuh. Jadi, biarkan aku sedikit melukisnya, oke," sambungnya dengan terkekeh-kekeh.


Nadhea kesulitan menelan ludah. Aura yang terpancar dalam wajah Arsen sangat dingin dan kejam, layaknya seorang pembunuh, sampai-sampai Nadhea memejam rapat karena tak berani menatap.


"Dia berubah seperti psikopat. Sebenarnya apa yang membuat dia seperti ini, Liora, ataukah sesuatu yang lain? Atau mungkin, ada hal di masa lalu yang aku lewatkan?" batin Nadhea.


"Ini pisaunya, Tuan!" teriak seseorang di luar sambil mengetuk pintu.


Tubuh Nadhea menegang seketika. Entah bagaimana nasibnya setelah ini.


Bersambung...


Maaf baru up lagi, kemarin baca ulang dan mencari jawaban tentang istrinya Reza. Makasih untuk kakak yang udah mengingatkan nama istri Reza adalah Mala, juga makasih untuk kakak yang udah mengingatkan bahwa Mala adalah seseorang yang dulu pernah ikut menjebak Kirana. Aku dulu (pas nulis istri Reza) nggak nyadar kalau nama itu udah pernah pakai. (Pembelajaran kali ya, biar kalau bikin novel lagi upnya ditingkatinπŸ™ƒπŸ™ƒπŸ™ƒπŸ™ƒπŸ™ƒπŸ™ƒ, biar nggak lupa-lupaπŸ™ƒπŸ™ƒπŸ™ƒπŸ™ƒ)


Setelah baca ulang, ternyata Reza nikah sama cewek Ibu Kota. Biar nggak salah paham dan mengira Reza nikah sama seseorang yang pernah jahat, sekarang nama istri Reza aku ganti Niken (di eps yang dulu juga udah kuubah) Kalau masih ada yang nyelip belum keedit, tolong ingatin yah. Atau mungkin juga ada nama lain atau kata-kata lain yang salah, bantu koreksi. Kadang jempol dan hati kagak sinkron.


Btw, makasih udah mau dukung sampai episode ini. Salam manis dari aku yang manis, ehh salah. Salam manis dari penulis. Lope banyak-banyak buat akak pembaca😘😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2