Noda

Noda
Mengupas Masa Lalu


__ADS_3

"Imah," gumam Ibu, pelan, namun dapat kudengar dengan jelas.


"Ibu, Bunda, kalian ... saling kenal?" tanyaku sembari menatap mereka secara bergantian.


"Tidak, ini tidak mungkin! Tidak!" Bu Fatimah berkata sambil menggeleng dan melangkah mundur.


"Ada apa, Bunda?" tanyaku dengan cepat, namun Bu Fatimah tak menjawab. Beliau malah berlalu pergi, meninggalkan kami.


"Bunda! Tunggu, Bunda!" teriakku, memanggil Bu Fatimah.


Kutatap kepergian Bu Fatimah dengan nanar. Ada apa ini, mengapa beliau langsung pergi, tanpa permisi. Bahkan teriakanku, hanya dianggap angin lalu. Ingin rasanya aku mengejar Bu Fatimah, namun aku juga tidak mungkin meninggalkan Ibu begitu saja. Kami baru saja bersua, haruskah aku kembali mengecewakannya?


"Kirana, sejak kapan kamu mengenalnya?"


Pertanyaan Ibu membuatku tersentak. Lantas dengan cepat aku berpaling dan kembali menatap Ibu.


"Sekitar satu bulan, Bu. Ibu ... juga mengenalnya?" Aku balik bertanya.


"Kudengar kamu memanggilnya bunda. Apa kamu tahu sesuatu, Kirana?" tanya Ibu yang lantas membuatku semakin tak mengerti.


"Bunda menolongku, karena saat itu aku sedang terpuruk. Aku tidak tahu apa-apa. Memangnya ada sesuatu apa, Bu?" Kugenggam lengan Ibu dengan erat. Kutatap mata cekungnya yang terus mengerjap.


Ibu tak jua membuka suara, lantas aku kembali bertanya dengan intonasi yang lebih tinggi.


"Dia ... dia istrinya Galih, ayah kandungmu."


Aku mematung seketika. Detak jantung dan aliran darah, seakan berhenti tanpa permisi. Aku masih tak sanggup bicara, hanya netraku yang terus menilik raut wajah Ibu.


Ekspresi Ibu sangat serius, tidak ada segurat pun kebohongan di sana. Perlahan air mataku kembali menitik, satu lagi fakta pahit tentang masa laluku, mulai terungkap.

__ADS_1


"Dulu dia sempat datang ke rumah dan marah-marah sama Mas Adi. Dia mencari Farida, yang saat itu sedang tidak ada. Katanya, Farida sudah merusak rumah tangganya. Aku dan Mas Adi mengajaknya bicara baik-baik, namun dia sudah kalap. Dia terus mencaci dan tidak mau mendengarkan kami. Tapi ... dulu penampilannya tidak seperti itu," terang Ibu. Aku tetap mendengarnya, kendati pikiran ini mengambang di udara.


Sekarang aku paham, hal pahit yang pernah menimpa Bu Fatimah, ternyata disebabkan oleh ibu kandungku. Lelaki yang selama ini sering kurutuki kebodohannya, ternyata adalah ayah kandungku. Sekarang semuanya masuk akal, mengapa wajahku dan Arina tampak serupa. Karena dalam tubuh kami mengalir darah yang sama, darah seorang ayah.


"Ya Allah, betapa hancurnya hati Bunda menerima takdir ini. Bunda menolongku dan menyayangiku, tapi ternyata aku adalah anak dari wanita yang menghancurkan hidupnya. Mengapa Engkau pertemukan kami dengan cara seperti ini, Ya Allah," ucapku dalam hati.


"Sebenarnya saat itu, ayahmu mau bertanggung jawab. Tapi belum sempat niat itu terwujud, ayahmu kecelakaan dan tidak tertolong. Itulah sebabnya, mengapa Farida melahirkan, tanpa ikatan pernikahan." Semakin Ibu menjelaskan, semakin sesak yang kurasakan.


"Kenapa harus seperti ini, Bu? Kenapa harus Bunda, wanita yang menjadi istri Ayah. Bunda sangat baik, bagaimana perasaannya setelah tahu kenyataan ini, Bu," ratapku.


"Semua hal telah ditulis dalam garis takdir, Nak. Tetaplah bersabar dan berdoa kepada Allah, minta petunjuk dan kemudahan. Segala beban akan ringan, jika kita serahkan kepada-Nya. Kirana, Ibu senang melihat penampilanmu sekarang." Ibu mengusap kepalaku yang tertutup kerudung.


"Bunda yang mengetuk pintu hatiku, Bu. Kala itu ... keadaanku sedang buruk, dan Bunda yang datang membantu. Maafkan aku Bu, aku pergi tanpa permisi. Aku tidak mau menjebak Ibu dalam masalah, aku sadar aku salah, aku tidak pantas hidup bersama Ibu," ungkapku, menjelaskan alasan di balik kepergianku.


Mas Denis keluar setelah Bunda meninggalkan ruangan, jadi aku punya kesempatan bicara empat mata dengan Ibu.


"Pikiranmu terlalu dangkal, Kirana. Apapun kesalahan kamu, kamu tetap anak Ibu. Saat itu Denis memang emosi, tapi ... sebenarnya dia juga tidak benar-benar mengusirmu, Kirana," kata Ibu.


Masihkah Bunda mau menerimaku?


Satu pertanyaan yang sedari tadi mengusik pikiran. Jika beliau marah, lantas gaimana caraku meminta maaf dan memperbaiki semua ini. Oh Tuhan, betapa berat cobaan yang Engkau berikan.


"Maafkan Ibu yang tidak bisa menjaga dan melindungimu. Pasti sulit sekali hidup seorang diri. Maafkan Ibu ya, Nak," ucap Ibu.


"Ini salahku, bukan salah Ibu. Aku yang seharusnya minta maaf, aku membuat Ibu khawatir sampai sakit seperti ini. Maafkan aku, Bu." Kutelungkupkan wajahku di lengan Ibu. Tetesan air mataku membasahi kulit keriputnya.


"Sudah, Nak, jangan menangis. Apapun yang terjadi, sekarang kita sudah bertemu, semoga Allah tetap mengijinkan kita untuk bersama. Kesehatan Ibu sudah jauh lebih baik, semoga cepet sembuh total, biar bisa menggendong anak kamu."


Kurasakan sentuhan hangat tangan Ibu yang mengusap-usap pundakku. Kunikmati sekejap belaian yang amat kurindukan. Setelah cukup lama larut dalam buaian, dan tangisku pun juga sudah reda, aku mengangkat wajah. Kuseka sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipi, lantas aku bicara sambil tersenyum.

__ADS_1


"Cucu Ibu cantik, aku memberinya nama Sabrina Dara Azzahra. Dia lahir kemarin, Bu," ungkapku pada Ibu.


"Subhanallah, nama yang indah. Apakah panggilannya Dara?" tanya Ibu.


"Iya, kok Ibu bisa nebak?" Aku tersenyum semakin lebar.


"Kalau nggak salah, Dara itu Daniel dan Kirana," jawab Ibu yang lantas membuatku menunduk.


"Maaf, Bu, itu memang benar. Aku tidak bermaksud mengharapkan ayahnya, tapi ... dia memang anak kami," ucapku, pelan.


"Ibu mengerti, Kirana. Jangan murung lagi, ya, percaya sama Ibu, Allah itu Maha Tahu. Jika dia memang jodohmu, Allah pasti memberikan jalan agar kalian bisa bersama. Namun jika tidak, pasti ada jodoh lain yang jauh lebih baik darinya." Ibu berkata sambil mengusap pipiku.


"Iya, Bu." Kugenggam tangan Ibu yang masih menempel di pipi.


"Tanpa melewati malam, kita tidak bisa menatap indahnya fajar. Begitu pula dengan kehidupan, tanpa melewati masa sulit, kita tidak bisa menggapai kebahagiaan yang hakiki. Doa Ibu selalu menyertaimu, Nak, yakinlah jika suatu saat nanti kamu juga bahagia. Jangan pernah menyerah, ya!" kata Ibu.


"Iya, Bu. Aku tidak akan menyerah," jawabku dengan tegas. "Maafkan aku yang sempat bertindak bodoh, Bu. Aku berjanji tidak akan ada yang kedua kali," sambungku dalam hati.


"Bagus, Ibu senang mendengarnya. Oh ya, Kirana, kamu bawa HP?" tanya Ibu.


"Bawa, Bu," jawabku. Minggu lalu Bu Fatimah membelikan ponsel untukku.


"Telfon bundamu dan minta maaflah padanya. Ajak bicara baik-baik, Kirana, dia sudah menolongmu," ujar Ibu.


Aku mengangguk dan kemudian mengambil ponsel yang kusimpan di dalam saku. Tanpa pikir panjang, aku langsung menghubungi nomor Bu Fatimah. Aku berharap, beliau mau menerimanya.


Beberapa detik berdering, sambungan telepon mulai terhubung. Aku bernapas lega, setidaknya Bu Fatimah masih mau berbicara denganku.


"Assalamu'alaikum, Bunda," sapaku.

__ADS_1


Bu Fatimah membalas salamku, dan kemudian melontarkan kalimat yang sontak membuatku tercengang. Aku sampai membelalak lebar, kala mendengar suaranya.


Bersambung...


__ADS_2