Noda

Noda
Dilema


__ADS_3

"Waalaikumsalam. Kamu tetap anak Bunda, Kirana. Maaf, Bunda butuh waktu sebentar untuk menenangkan diri, tapi tolong jangan berpikir untuk pergi."


Ucapan Bu Fatimah membuatku kesulitan membuka suara. Aku pikir beliau akan marah dan enggan menganggapku, namun di luar dugaan, beliau malah menegaskan bahwa aku adalah anaknya. Semudah itukah beliau memaafkan kami dan menerima takdir ini?


"Bun___" Ucapanku terhenti, karena sambungan telepon diputus secara sepihak.


Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan perasaan yang masih bergejolak. Kusimpan kembali ponselku ke dalam saku, lantas kutatap netra Ibu yang juga menatapku.


"Bundamu marah?" tanya Ibu.


"Tidak, Bu." Aku menggeleng.


"Lalu?" Tatapan Ibu kian menilikku.


"Bunda hanya butuh waktu untuk menenangkan diri. Bunda juga ... melarang aku pergi," jawabku, pelan.


Kulihat mata Ibu mengerjap cepat, mungkin beliau sedikit berat jika kami kembali berpisah. Aku pun sebenarnya juga ingin tinggal bersama Ibu, tapi mengingat Mas Denis dan Bu Fatimah, mungkin sebaiknya aku meredam keinginan itu.


"Dua bulan terakhir, Ibu tinggal sama Denis, karena kesehatan Ibu sedikit menurun. Mereka tidak mengijinkan Ibu tinggal sendirian di rumah. Sebenarnya ... kamu tidak perlu khawatir dengan Denis dan Bayu, Nak. Kala itu, mereka memang salah, tapi sesungguhnya, mereka juga merasa kehilangan saat kamu pergi. Mereka memang kecewa, tapi ... mereka tetap menganggpamu adik, Kirana." Ibu menyeka sudut matanya yang mulai berair.


Kukatupkan bibirku dengan rapat, aku tidak punya kata untuk menjawab ucapan Ibu. Aku tahu makna yang tersirat di dalamnya, Ibu berharap aku pulang dan kembali bersama. Sesuatu yang saat ini sungguh berat untuk kulakukan. Meskipun nanti Mas Denis mau menerimaku, tapi bagaimana dengan Bu Fatimah?


Aku tidak tahu pilihan mana yang harus kuambil. Bukan kemewahan yang membuatku berat meninggalkan Bu Fatimah, melainkan perasaan. Andai saja aku dan Bu Fatimah tidak memiliki hubungan di masa lalu, mungkin aku bisa pergi dengan mudah. Asalkan aku tidak melupakan budi baiknya dan mau berkunjung secara berkala, pasti semua akan baik-baik saja. Akan tetapi, kenyataan tidak sesederhana itu. Ibuku pernah menghancurkan hidupnya dan aku merasa sangat bersalah akan hal itu.


Aku memang tidak bisa mengubah masa lalu, tapi setidaknya aku akan berusaha memperbaiki masa yang belum terjadi. Sebagai permintaan maaf dan menebus rasa bersalah, aku ingin melakukan apa yang beliau inginkan.


"Apa kamu lebih suka tinggal bersama bundamu, Kirana?"


Pertanyaan Ibu kembali mengusikku. Sekian menit berpikir, aku belum juga menemukan jawaban yang tepat.


"Ibu." Kugenggam jemari Ibu dengan erat.

__ADS_1


Lagi-lagi aku kesulitan mengungkapkan isi hati. Air mata Ibu yang semakin berderai, menggoreskan luka yang mampu membungkam mulutku.


"Kamu keberatan tinggal sama Ibu?" tanya Ibu untuk yang kedua kali.


"Bukan keberatan, Bu, tapi ... aku juga memikirkan Bunda. Beliau sudah menolongku, dan ternyata aku adalah anak dari seseorang yang pernah menyakitinya. Semua ini pasti berat bagi Bunda, Bu. Aku tidak bermaksud menolak permintaan Ibu, tapi aku juga tidak bisa mengabaikan keinginan Bunda. Jujur, sikap ibuku di masa lalu, membuatku dihantui perasaan bersalah. Ibu, bagaimana kalau kita diskusikan saja masalah ini bersama-sama?" terangku pada Ibu.


Cukup lama Ibu terdiam dan aku menanti jawabannya dengan harap-harap cemas. Di menit ke-3 Ibu mulai mengangguk dan menyetujui pendapatku.


_________


Jarum jam menunjukkan pukul 03.00 sore. Aku, Ibu, Mas Denis, dan Bu Fatimah berkumpul di ruang rawat, tempat Ibu berbaring. Dara masih berada di ruangannya bersama dokter, dia baru lahir dan tidak diperbolehkan mendekati orang sakit.


Suasana di antara kami cukup canggung. Hanya deru napas yang setiap detiknya terdengar jelas, karena masing-masing dari kami belum ada yang membuka suara.


"Ibu, Bunda," panggilku, memecah keheningan.


"Ibu ingin kamu kembali, Kirana," kata Mas Denis. Ibu dan Bu Fatimah tidak kunjung bicara, jadi Mas Denis yang menyahutku.


Aku menunduk sambil menautkan jemari tangan. Aku masih menutup mulut dan menunggu tanggapan Bu Fatimah.


"Apa menurut kalian ini yang paling adil?"


Suara Bu Fatimah terdengar gemetaran, mungkin beliau sedang menahan tangis. Karena saat kulirik sekilas, mata beliau berkaca-kaca.


"Aku sendirian, tidak punya suami, dan tidak punya anak. Aku hidup sebatang kara, apa salah jika aku mengajak anak dari suamiku untuk tinggal bersamaku?" sambung Bu Fatimah.


"Suami Anda tidak punya hak atas Kirana, Bu, karena beliau tidak menikahi Tante Farida. Anak yang lahir di luar nikah, sepenuhnya menjadi milik ibu, saya yakin Anda paham akan hal ini." Mas Denis menatap Bu Fatimah dengan tajam.


"Iya, saya paham. Tapi saya benar-benar butuh Kirana. Saya akan menyayanginya dan memperlakukannya seperti anak sendiri. Saya juga tidak melarang dia berkunjung ke rumah kalian, saya juga tidak melarang kalian berkunjung ke rumah. Saya tidak membentangkan batas, saya hanya ingin dia tinggal bersama saya," kata Bu Fatimah, menjelaskan maksudnya.


"Kami juga butuh Kirana. Ibu sampai sakit karena memikirkan dia, dan sekarang mereka sudah bertemu, masihkah Anda ingin memisahkannya? Ibu juga tinggal sendiri, dia juga butuh Kirana untuk menemaninya. Anda jangan terlalu keras, Kirana adalah keluarga kami, sejak kecil dia hidup bersama kami. Ke ranah hukum pun, pasti kami yang menang," ujar Mas Denis dengan intonasi yang lebih tinggi.

__ADS_1


"Jangan bicara tentang hukum!" Bu Fatimah beranjak dari duduknya.


"Soal hak asuh, saya memang kalah, karena Mas Galih dan Farida tidak pernah menikah. Tapi jangan anggap kalian menang. Keluarga mana yang membiarkan anaknya terlunta-lunta di jalanan. Dalam posisi hamil dia menjadi korban kriminal, dan nyaris bunuh diri di Bululawang. Apa kalian tahu itu!" bentak Bu Fatimah.


Wajah Mas Denis dan Ibu seketika menegang, entah kaget atau marah. Aku tak berani membuka suara, aku hanya menunduk dan menyembunyikan mataku yang mulai berkaca-kaca.


"Kirana___"


"Jangan menyalahkan dia!" Bu Fatimah memotong kalimat Mas Denis.


"Saya tahu dia bersalah, dia mengecewakan dan mencorengkan aib di keluarga kamu, tapi tidak seharusnya kamu mengusirnya. Jika dia benar-benar mengkahiri hidupnya, kamu pikir itu akan membuatmu menjadi orang suci? Tidak, sama sekali tidak. Sekarang kamu memaksanya pulang, karena kamu memang menyayanginya, atau sekedar butuh orang untuk menjaga ibumu?" sambung Bu Fatimah masih dengan intonasi tinggi.


"Beraninya Anda menilai saya seburuk itu. Saya tidak peduli dengan penjelasan Anda, Kirana akan tetap bersama kami." Napas Mas Denis semakin memburu, tampak jelas jika emosinya kian tersulut.


"Denis, sudah, Nak." Ibu bangkit dari tidurnya.


"Kirana harus ikut kita, Bu," kata Mas Denis dengan tegas.


"Kirana sudah dewasa, biarkan dia saja yang memilih. Kita memang keluarganya, tapi ... kita juga pernah mengecewakan dia. Lagipula, Fatimah juga masih ada hubungan dengannya." Ibu menjelaskan sambil tersenyum tipis.


Entah mengapa tiba-tiba Ibu berubah pikiran, karena tahu aku nyaris bunuh diri atau karena ekspresiku yang saat ini memang menyedihkan. Apapun alasannya, aku berharap perkataan itu benar-benar dari hati.


"Tapi Ibu sedang sakit, akan lebih baik jika Kirana ikut pulang. Aku akan tenang kalau___" Mas Denis menghentikan ucapannya, mungkin dia sadar jika perkataannya itu tidak cukup baik.


Aku tersenyum masam, rupanya Mas Denis masih tidak berubah. Dia ingin aku kembali bukan karena sayang, tapi karena ada alasan lain. Ahh, memang hanya Ibu yang tulus.


"Mbak Ambar, kita pernah kenal, walaupun saat itu hubungan kita tidak baik. Sekarang mari kita perbaiki hubungan kita, ijinkan saya menyayangi Kirana dan mengajaknya tinggal bersama. Ini juga merupakan amanat dari Mas Galih. Dulu dia menyuruhku menyampaikan kata maaf pada seseorang, yang aku yakini pasti Farida. Mbak tidak perlu khawatir, saya akan menyuruh satu orang untuk menemani Mbak. Saya juga tidak mengekang Kirana, secara berkala dia atau kami akan datang berkunjung ke tempat Mbak Ambar." Bu Fatimah kembali duduk di tempat semula.


"Kirana, apa kamu setuju dengan saran bundamu?" tanya Ibu yang lantas membuatku mendongak.


"Turuti saja kata hatimu, Nak. Ibu baik-baik saja, selama kamu bahagia. Selama ini Ibu khawatir, karena tidak tahu bagaimana keadaanmu," sambung Ibu, sebelum aku mengucapkan sepatah kata.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2