
*Untuk istriku, Nadhea Queenaya*.
*Saat kamu membaca ini, artinya aku sudah pergi. Jangan menangis! Tetaplah tersenyum dan lalui hari sebagaimana mestinya. Ingat, ada mimpi dan harapan yang masih menunggu untuk kau kejar*.
*Nadhea, aku tahu kesalahanku teramat besar, bahkan dengan meminta maaf ribuan kali pun rasanya tidak cukup. Tapi, aku sangat mengharap maaf darimu. Entah pantas atau tidak, aku sangat menginginkan itu*.
*Nadhea, maaf, aku tidak meninggalkan banyak aset untukmu, hanya sedikit tabungan yang tersimpan di kartu ini. Aku mengkhawatirkanmu, Dhea. Jika ada rumah, apartemen, ataupun saham yang kuberikan untukmu, kau pasti bermasalah dengan saudara-saudaraku. Jika berupa* *tabungan, mereka tidak akan tahu. Dengan begitu kau akan aman*.
*Nadhea, PIN kartu ini adalah tanggal* *pernikahan kita. Kau masih* *mengingatnya, kan*?
__ADS_1
*Meski tidak banyak, tapi semoga berguna untuk beberapa hari ke depan. Berjanjilah untuk selalu bahagia, agar aku tidak menyesal telah meninggalkan kamu*.
*Dari aku, suami yang selalu mencintaimu, Arsen William Osric*.
Beberapa baris tulisan yang tertera dalam secarik kertas yang disertakan dalam amplop. Walau air mata tidak dapat dibendung, tetapi Nadhea juga mengulum senyum. Dia terharu dengan sikap Arsen, yang sangat mewanti-wanti agar dirinya tidak sedih.
"Tidak menangis itu sangat mustahil, Mas. Bagaimanapun juga aku merasa kehilangan. Tapi ... ya, aku janji tidak akan larut lama dalam kesedihan. Aku akan mengejar impian dan masa depan, aku tahu jalanku masih panjang," ucap Nadhea sembari memandangi tulisan tangan Arsen.
Cinta pertama, lalu suami pertama, keduanya telah pergi untuk selama-lamanya—dengan cara yang hampir sama—dipercepat oleh orang. Sampai kapan pun tidak akan ada kesempatan bersua. Walaupun keduanya pernah menyakiti, tetapi tak dipungkiri pernah juga mengukir kenangan manis.
"Ah," desah Nadhea.
Kemudian, dia beranjak dan menyimpan kartu kredit serta surat dari Arsen. Lantas, naik ke atas ranjang dan berbaring di sana. Nadhea ingin terlelap sejenak untuk mengurangi beban pikiran yang makin penuh.
__ADS_1
Awalnya, Nadhea tidak bisa tidur, sekadar menatap langit-langit kamar sambil mengingat kilasan balik atas jalan hidupnya. Namun, perlahan rasa lelah menghampiri, lalu mengantarnya dalam buaian mimpi.
Cukup lama Nadhea tertidur—hampir empat jam. Dia terjaga ketika jarum jam sudah menunjukkan angka lima. Nadhea bergegas mandi dan kemudian menyiapkan makan malam.
Selepas magrib, Nadhea mengajak ayahnya menyantap hidangan, sembari pamit keluar untuk belanja beberapa bahan makanan. Prawira tak melarang, sekadar berpesan agar tidak pulang terlalu malam.
"Anginnya dingin, tapi nyaman, bisa menenangkan pikiran yang banyak beban," gumam Nadhea ketika sudah tiba di luar rumah. Supermarket yang dia tuju letaknya tidak terlalu jauh, itu sebabnya memilih jalan kaki.
Sebelum tiba di supermarket, Nadhea terlebih dahulu singgah di ATM. Selain untuk mengambil uang dari kartunya sendiri, Nadhea juga ingin melihat kartu yang diberikan Arsen.
"Mudah-mudahan pekerjaan Papa terus lancar," gumam Nadhea saat melihat sisa saldo dalam kartunya—dua ratus ribu rupiah.
Sembari mengembuskan napas kasar, Nadhea mengambil kartu milik Arsen dan memasukkannya ke mesin. Benar saja, nomor PIN memang tanggal pernikahan mereka.
Ketika layar menampilkan jumlah saldo dalam kartu kredit itu, mata Nadhea langsung melebar, mulut menganga, dan jantung pun berdegup kencang.
__ADS_1
Bersambung....