
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam, namun mataku masih tetap terjaga. Aku berbaring di ranjang sambil memandangi langit-langit kamar. Pikiranku sedang kacau, sikap Kak Darren dan ucapan Tante Nia terus saja terngiang dalam ingatan.
"Rencana apa yang dimaksud Tante Nia, dan ... siapa lawan bicaranya? Mungkinkah mereka akan mencelakaiku?" gumamku dengan pelan.
Usai mendengar berbincangannya tadi siang, aku diliputi kecemasan yang tak berkesudahan. Aku sempat ketakutan saat menyantap sajian yang beliau hidangkan. Aku khawatir ada kadar racun atau obat berbahaya lainnya yang sengaja disamarkan dalam makananku.
Kendati aku keluar dari rumah beliau dalam keadaan baik-baik saja, namun kecemasan itu tak lantas sirna. Dalam perjalanan pulang aku membeli air kelapa dalam jumlah yang cukup banyak. Sebagian kuhabiskan dalam satu waktu, dan sebagian lagi kubawa pulang. Aku berjaga-jaga kalau saja Tante Nia memberiku racun yang efeknya muncul dalam jangka panjang.
Mungkin sikapku ini berlebihan, tapi aku sekadar berkaca dari kisah-kisah laluku. Aku kerap kali dipertemukan dengan orang yang bermuka dua. Jadi, tidak ada salahnya jika sekarang aku lebih waspada.
Aku bangkit dari tidurku dengan hati-hati, agar tak membangunkan Dara yang terlelap dalam mimpinya. Aku turun dari ranjang dan duduk di kursi, di depan meja.
Kuraih sebotol air mineral dan kuteguk sebagian. Lantas aku menopang dagu sambil menatap putaran jarum jam.
"Apa ya maksud Kak Darren? Dia bilang frustrasi di masa lalu, emang apa yang udah aku lakukan? Apa aku pernah merugikan dia? Ahh, otakku jadi berpikir keras 'kan," ucapku seorang diri.
"Dilihat dari sikap dan ekspresinya, dia kayak cemburu, tapi apa ya mungkin. Dia itu sosok yang nyaris sempurna, dia jauh di atasku. Mana mungkin dia ada rasa sama aku, dan lagi... kenapa dia bilang gitu ya soal Daniel, apa kira-kira dia tahu tentang Dara?" Kuembuskan napasku dengan kasar.
Teramat banyak pertanyaan yang membutuhkan jawaban, namun sayangnya tak satu pun yang berhasil kuselesaikan. Semua terkumpul menjadi persoalan rumit yang mengacaukan pikiran, tanpa toleransi.
__________
Sepanjang malam aku tak bisa memejamkan mata barang sedetik saja. Resah dan gelisah mengalahkan rasa kantuk hingga fajar menyingsing. Shalat tahajjud dan shalat subuh sudah kulakukan, namun ketenangan batin belum juga kudapatkan. Ucapan Tante Nia dan sikap aneh Kak Darren masih terus membayang, memaksa otakku untuk berpikir keras.
Getar ponsel di atas meja, menghentikan aktivitasku yang sedang menyingkap tirai jendela. Aku bergegas mengambilnya dan membaca satu pesan masuk yang dikirimkan oleh Mayra. Sejak aku bertemu kembali dengan Ibu, aku mulai menghubungi Mayra. Dia adalah sahabat terbaik yang pernah kupunya, tidak nyaman rasanya jika terus-menerus hilang kontak dengannya.
Jika seperti itu, apa nggak lebih baik kamu cerita saja sama bundamu.
Aku berdecak pelan, kala membaca pesan dari Mayra. Dia memberi solusi atas masalah yang kuceritakan semalam, tentang rencana Tante Nia.
Solusinya membuatku berpikir keras. Hubungan Bu Fatimah dan Tante Nia itu sangat baik. Mereka kenal dekat jauh sebelum Bu Fatimah mengenalku. Apakah pantas aku merenggangkan hubungan mereka?
Tanpa mengirimkan pesan balasan, kuletakkan kembali ponselku ke tempat semula. Lantas aku menguncir rambut dan berjalan keluar kamar.
Baru saja aku membuka pintu, mataku langsung menangkap sosok Bu Fatimah yang melangkah ke arahku.
"Bunda," sapaku.
__ADS_1
"Selamat pagi, Kirana. Kebetulan sekali kamu sudah keluar, baru saja mau Bunda panggil." Bu Fatimah tersenyum.
"Tadi masih menemani Dara, Bunda. Dia nangis, aku kira mau bangun, tapi ternyata tidur lagi," jawabku berbohong.
"Ya sudah tidak apa-apa, sekarang ayo sarapan. Bunda masak sup jamur kesukaan kamu," kata Bu Fatimah.
"Sarapan, Bunda?" Aku membelalak lebar.
Jarum jam belum genap menunjukkan angka 6, tapi Bu Fatimah sudah mengajakku sarapan. Biasanya, di jam-jam ini kami masih membantu Bibi memasak di dapur.
"Iya." Bu Fatimah mengangguk.
"Kok, tumben, Bunda? Bukankah ini masih sangat pagi?" Aku kembali bertanya.
"Maaf, Kirana, kemarin Bunda lupa mau ngasih tahu kamu. Hari ini, Bunda mau ngajak kamu ke rumah Mbak Sarah. Kebetulan lagi ada acara di sana, jadi sekalian ngenalin kamu sama mereka. Mau 'kan?" Kami terus berbincang sambil melangkah menuju ruang makan.
"Mmmm, gimana ya, Bunda," sahutku, tanpa memberi kepastian.
Kugaruk kepalaku yang tidak gatal, jujur aku sangat enggan ikut beliau. Wanita yang dipanggil 'Mbak Sarah' adalah wanita yang pernah menolong beliau di masa lalu. Aku khawatir mereka memandangku dengan sebelah mata, jika tahu siapa diriku yang sebenarnya. Lagipula, pikiranku masih cukup kacau, seharusnya aku tidak menambahkan beban yang lain.
"Kenapa?" tanya Bu Fatimah, ketika kami sudah tiba di ruang makan.
"Tapi apa?" pungkas Bu Fatimah.
"Aku merasa lelah, Bunda." Aku menjawab sambil menunduk.
Aku tidak berbohong, karena saat ini pikiranku memang sedang lelah.
"Mmm begitu ya. Ya sudah tidak apa-apa, kamu istirahat saja di rumah. Nanti, biar Bunda sendiri yang datang ke sana," ucap Bu Fatimah.
Kendati beliau tersenyum, namun dapat kulihat jelas gurat kecewa di wajahnya.
"Maafkan aku, ya, Bunda," ucapku dengan pelan.
"Tidak apa-apa, masih ada lain kali kok. Iya, 'kan?"
"Iya, Bunda." Aku mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
Kemudian, Bu Fatimah menuangkan teh hangat ke dalam gelas dan menyodorkannya padaku.
"Mmm maaf, Bunda, aku nggak minum teh dulu." Aku beranjak dari kursiku dan berjalan ke sudut ruangan. Aku hendak mengambil sesuatu dari dalam lemari es.
"Kamu mau minum yang dingin-dingin?" tanya Bu Fatimah.
"Iya, Bunda, sepertinya lebih segar." Aku menjawab sambil tersenyum. Lantas kubawa sebotol air kelapa yang sempat kubeli kemarin.
"Ini masih pagi lho, Ra, apa nggak ngilu gigi kamu?" Bu Fatimah menatapku dengan heran.
"Enggak, Bunda, ini seger kok," jawaku, tanpa memudarkan senyuman.
"Sejak kapan kamu suka air kelapa?" tanya Bu Fatimah.
"Mmm dulu pernah suka sih, Bunda, cuma setelah hamil Dara itu aku nggak mau, dan suka lagi baru sekarang," jawabku, berdusta. Tidak mungkin aku mengatakan alasan yang sebenarnya, minum air kelapa karena takut diracuni Tante Nia.
"Oh ya, Ra," ucap Bu Fatimah, saat aku sudah kembali duduk di tempat semula. "Kabar Daniel, bagaimana?"
"Belum memberi kabar, Bunda, mungkin dia sedang berusaha mengenal Islam. Dia minta waktu dua bulan, dan ini ... belum genap seminggu," jawabku dengan senyum yang kian mengembang.
"Kalau seandainya dia gagal meyakini agama Islam, apa yang akan kamu lakukan, Kirana?"
Sontak saja pertanyaan Bu Fatimah membuatku terperangah, hingga tanpa sadar jemariku mencengkeram erat pinggiran piring. Apa yang dikatakan Bu Fatimah bukanlah sesuatu yang mustahil, tapi hatiku sangat menolak kemungkinan itu.
"Kenapa Bunda menanyakan hal itu?" Aku balik bertanya.
Entah ada apa dengan Bu Fatimah. Sewaktu Daniel menemuiku beberapa waktu lalu, Bu Fatimah sangat mendukung. Andai saja dalam dua bulan Daniel gagal jatuh cinta dengan Islam, Bu Fatimah memberiku saran untuk memberikan tempo yang lebih lama. Bu Fatimah sangat berharap Daniel menjadi mu'allaf yang sebenarnya, karena beliau tahu betapa besar rasa cintaku untuknya.
"Maaf, Bunda hanya ingin tahu tanggapan kamu tentang kemungkinan yang lain," jawab Bu Fatimah.
"Aku ... aku masih tidak tahu, Bunda. Membayangkan saja, rasanya sangat berat." Aku berkata sambil tersenyum hambar.
"Bunda ada solusi, andai saja itu benar terjadi," sahut Bu Fatimah.
"Solusi apa, Bunda?" tanyaku pada beliau.
"Mencari pengganti. Bunda tahu, kamu sangat mencintai Daniel, tapi ... jika Allah tidak menunjukkan jalan padanya untuk mencintai Islam, berarti Allah memang tidak menciptakan dia untuk kamu. Memendam perasaan tanpa ada kejelasan itu sangat sakit, Bunda paham betul akan hal itu. Jadi, belajarlah membuka hati untuk cinta yang lain, agar kamu bahagia dan rasa sakit itu pun mau memudar. Maksud Bunda bukan pacaran lho ya, tapi menerima cinta lelaki yang memang siap menikahimu," terang Bu Fatimah dengan panjang lebar.
__ADS_1
Kutilik wajah Bu Fatimah dengan lekat. Pandangan mata serta garis tawa yang tampak nyata, seolah menyiratkan pesan lain yang sulit untuk kuraba. Apa kira-kira maksudnya?
Bersambung...