Noda

Noda
Sikap Aneh Mayra


__ADS_3

Aku berjalan menuruni anak tangga, mengikuti langkah Bibi yang membawaku ke ruang tamu. Berkali-kali aku mencoba menghubungi Mayra, namun nihil, nomornya tetap tidak aktif. Tadi, Bibi pelayan panik, dan dia memintaku untuk menemui polisi. Sebenarnya aku berat untuk meluluskan permintaannya, karena aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Akan tetapi aku tidak punya pilihan lain, aku hanya berharap, kehadiranku di sini berguna untuk Mayra.


"Kamu di mana sih, May," gerutuku dalam hati.


Kusimpan kembali ponselku ke dalam saku, kemudian aku menghampiri dua orang polisi yang sudah duduk di sofa ruang tamu.


"Selamat pagi, Pak," sapaku dengan gugup.


"Selamat pagi, Nona. Di mana Tuan Damar dan Nyonya Julia?"


"Ma...maaf, Pak, mereka sedang ke luar kota," jawabku semakin gugup.


"Bisa tolong hubungi mereka. Kami ingin membahas hal yang sangat penting, ini mengenai___"


"Selamat pagi, Pak. Anda mencari orang tua saya?" pungkas Mayra yang tiba-tiba hadir di antara kami.


Hatiku seakan meloncat dari tempatnya, aku takut jika polisi tiba-tiba membekuknya. Kulirik sekilas wajah ayu Mayra yang sedikit kusut, senyuman masih mengembang di bibirnya. Semoga semua baik-baik saja, harapku kala itu.


"Apakah Anda ini Nona Mayra?"


"Betul, Pak. Saya adalah putri Pak Damar dan Bu Julia. Saat ini Mama dan Papa sedang ke luar kota." Mayra duduk di sebelahku.

__ADS_1


Kedua polisi menatapku, lantas mereka saling pandang, mungkin enggan berbicara selagi aku masih ada di sini. Tanpa mereka pinta, aku beranjak dari dudukku, lalu pamit undur diri dengan perasaan was-was.


Aku mondar-mandir di ruang tengah. Keringat dinginku bercucuran hingga membasahi baju yang kukenakan. Sudah setengah jam waktu berjalan, namun Mayra belum juga beranjak dari ruang tamu. Ada apa sebenarnya?


Ingin sekali aku mencuri dengar pembicaraan mereka, namun keinginan itu sia-sia belaka, karena rumah Mayra sangat luas. Tak ada kesempatan bagiku, untuk mendengarkan sepatah kata pun yang mereka perbincangkan.


"Woi! Ngapain kamu?"


Aku menghela napas lega, kala suara cempreng itu mengalun di telingaku. Aku tak menjawab, aku malah menilik senyuman yang terukir lebar di bibirnya. Jika Mayra masih bisa tersenyum, berarti tidak ada hal buruk yang menimpanya, pikirku saat ini.


"Yahh malah ngelamun. Kenapa sih, Ra?" Mayra mengguncang bahuku.


"Polisi tadi ngapain?" tanyaku tanpa basa-basi.


"Mayra!" pungkasku dengan intonasi yang tinggi.


Jujur aku sangat jengkel saat ini, aku benar-benar khawatir dan dia menganggapnya sekadar candaan.


"Iya, iya, sorry. Polisi tadi membawa kabar baik, Ra. Mereka berhasil menangkap seseorang yang dulu mengkhianati Papa. Kirana, aku sudah terbiasa dengan hal ini, kamu tidak perlu sekhawatir itu. Aku pasti baik-baik saja!" Lagi-lagi aku melihat senyuman di bibir Mayra. Entah itu senyuman tulus, atau sekadar senyum palsu untuk meyakinkanku.


"Kamu punya masalah sebesar itu, kenapa tidak pernah memberitahuku, May? Yah walaupun aku nggak bisa membantu atau memberi solusi, setidaknya aku bisa menjadi pendengar agar bebanmu sedikit berkurang." Aku berkata sambil duduk di sofa.

__ADS_1


"Kita memang sahabat dekat, Ra." Mayra ikut duduk di sebelahku, "tapi tidak semua hal bisa kita bagi, 'kan? Masalah ini terlalu privasi buatku, aku tak ingin seorang pun tahu, termasuk sahabatku. Aku yakin kamu mengerti maksudku, Ra."


Aku terdiam sejenak, apa yang dikatakan Mayra memang benar. Aku pula melakukan hal yang sama, menyembunyikan masalah pribadi, tanpa mau membaginya sedikit pun.


"Iya, May, kamu benar. Tapi ... kenapa semalam kamu menceritakannya padaku? Kedatanganku ke sini sudah terencana, pasti bukan hal yang sulit untuk menyembunyikan pekerjaanmu. Tapi kenapa kamu malah menunjukkannya?" tanyaku pelan.


"Terkadang lelah juga menyimpan semua itu sendirian. Aku butuh pendengar, dan satu-satunya orang yang kupercaya adalah kamu."


Aku tertegun mendengar ucapan Mayra. Dari nada suaranya, dari tatapan matanya, seperti ada makna lain yang tersirat. Namun entah apa, aku sama sekali tak mampu menjamahnya.


"Daniel sudah menghubungimu?" tanya Mayra tiba-tiba.


"Belum." Aku menggeleng.


"Dia akan terlambat, Ra. Mungkin tengah hari baru datang ke sini," kata Mayra.


"Kamu tahu dari mana?" tanyaku dengan cepat.


"Mmm tidak, hanya menduga. Jangan terlalu dipikirkan, Ra. Aku ke atas dulu ya, mau mandi." Mayra beranjak dan meninggalkan aku tanpa penjelasan.


Kutatap punggung Mayra yang semakin menjauh. Dalam hati aku yakin jika Mayra tahu sesuatu. Sebelum polisi datang, berkali-kali aku menghubungi Daniel, namun tidak ada jawaban darinya, padahal semalam aku sudah mengirim pesan jika ini adalah nomor baruku. Aku berusaha berprasangka baik, namun mendengar ucapan Mayra barusan, hatiku mulai tidak nyaman.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2