Noda

Noda
Malam Kelam


__ADS_3

Selamat siang, Kakak semua. Maaf ya, rehatnya agak lama. Semoga Kakak-Kakak masih berkenan kembali dan mengikuti kisah ini. Terima kasih untuk doa terbaiknya kemarin, maaf belum sempat balas. Tapi, sudah kubaca semuanya. Lope You All😘😘😘😘😘


_____________


Jarum jam belum genap menunjukkan angka 10.00 malam, tetapi jalanan mulai lengang. Entah karena hujan yang mulai turun, atau karena ada alasan yang lain. Arsen tak ambil pusing. Dia terus mengemudi dan menginjak pedal gas dengan lebih kuat. Tatapannya tajam ke arah depan, tanpa sekali pun melirik Nadhea, hingga wanita itu berkali-kali mengernyitkan kening.


"Ada apa dengan Mas Arsen? Sejak percakapan di kamar tadi, sikapnya jadi aneh," batin Nadhea.


Beberapa menit kemudian, Nadhea kembali dibuat bingung. Pasalnya, Arsen membelokkan mobilnya dan memasuki halaman Hotel Star Light. Nadhea menatap suaminya dengan lekat, tetapi lelaki itu sama sekali tak memberikan respon.


"Mas!" panggil Nadhea setelah mobil berhenti di parkiran.


Arsen tak menyahut. Namun, dia langsung menatap istrinya dengan sorot mata yang sulit diartikan.


"Ke-kenapa ke sini?" tanya Nadhea. "Kukira tadi langsung pulang."


"Ada pekerjaan yang harus kulakukan." Arsen menjawab sambil melepaskan sabuk pengaman.


"Pekerjaan?" Nadhea menatap heran, masih tak paham dengan maksud ucapan Arsen.


"Iya." Arsen mengangguk. "Ayo, bantu aku menyelesaikannya," sambungnya.


Setelah Arsen membuka pintu dan melangkah turun, Nadhea pun melakukan hal yang sama. Lantas, dia menghampiri Arsen yang sudah berdiri di depan mobil.


Tanpa basa-basi, Arsen langsung menggenggam tangan Nadhea dan mengajaknya berjalan memasuki hotel.


"Bukankah genggaman ini terlalu erat? Ada apa dengannya?" batin Nadhea sambil melirik Arsen. Dia pula sedikit meringis karena genggaman Arsen menyakiti jari-jarinya.


Tak berselang lama, resepsionis menyapa mereka dan memberikan kunci kamar. Nadhea menarik napas panjang, rupanya Arsen sudah memesan kamar terlebih dahulu. Dalam perjalan menuju ke kamar yang berada di lantai sembilan, Nadhea kerap kali menilik wajah Arsen. Selain tidak menyunggingkan senyum, lelaki itu juga senantiasa menyorotkan tatapan tajam.


"Selama menikah, baru tadi membicarakan lelaki yang kusukai. Apakah kira-kira Mas Arsen cemburu? Tapi, apakah mungkin? Dibandingkan dengan Liora, apalah artinya aku. Ibarat kata, kelebihanku nggak ada separuhnya Liora. Jadi, mustahil Mas Arsen cemburu padaku," kata Nadhea dalam hatinya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, mereka telah tiba di depan pintu kamar. Dengan cepat Arsen membukanya. Bersamaan dengan itu, genggaman Arsen di tangan Nadhea makin menguat, membuat sang empunya meringis sambil berdesis pelan.


"Mas, ada apa denganmu?" Nadhea memberanikan diri untuk bertanya.


Arsen menoleh ke arah Nadhea sambil memicing, lantas mengukir senyum miring. Masih tak mengucap sepatah kata, Arsen langsung menarik tangan Nadhea dan membawanya ke tepi ranjang. Saat itu, pintu sudah ditutup dan dikunci.


"Mas___"


"Lupakan Kaivan! Jangan pernah bermimpi untuk mengejarnya!" pungkas Arsen dengan intonasi tinggi.


Jantung Nadhea berdetak cepat. Dia bisa menangkap kilatan-kilatan amarah dalam tatapan Arsen. Namun, Nadhea masih tidak bisa menebak pasti apa gerangan yang terjadi, cemburu atau sekadar kesal karena Kaivan berhubungan dengan Luna.


"Aku juga tidak mungkin mengejarnya. Dia, dia calon suami Luna, Mas," ucap Nadhea beberapa saat kemudian.


"Layani aku malam ini!" ujar Arsen yang lantas membuat Nadhea menganga dan membelalak.


"A-apa maksudmu, Mas?"


"Tapi, Mas, ini ... lalu bagaimana dengan Liora, bagaimana dengan masa depanku?" Nadhea beranjak dan berdiri tepat di hadapan Arsen.


"Jangan pernah menyebut nama Liora!" Arsen makin mendekat. "Masa depanmu adalah aku. Jadi, jangan pernah memikirkan pria lain, selain aku!" sambungnya.


Nadhea tidak menyahut, tetapi menilik mata Arsen dengan harap-harap cemas. Tak ada secercah cinta di sana, lantas mengapa Arsen menginginkannya?


"Liora sudah menikah dan hamil dengan lelaki itu. Aku tidak mau kalah darinya. Dhea, kamu harus melayaniku dan hamil anakku. Aku ingin Liora menyesal karena mengkhianatiku!"


Ucapan Arsen lebih menyakitkan daripada petir yang sedang bergemuruh di luar sana. Bagaimana tidak, kini Nadhea sadar bahwa dirinya sekadar dijadikan pelarian. Kesucian yang menurutnya sangat berharga, harus dilepas demi sebuah pelampiasan. Mungkinkah dia sanggup melakukannya? Entahlah.


"Dhea___"


"Jadi, Mas Arsen hanya menjadikan aku pelarian? Melampiaskan amarah karena pengkhianatan Liora?" potong Nadhea.

__ADS_1


"Memangnya kamu mengharapkan apa? Perasaan?" Arsen berdecak pelan. "Siapa dirimu, Nadhea, hingga mengharap cinta dariku?" sambungnya.


"Aku sadar siapa diriku, sangat jauh dari Liora. Itu sebabnya, selama lima tahun ini aku tidak mengharap cinta darimu. Tapi, malam ini kamu memintaku melayanimu, bahkan juga melahirkan anakmu. Sebuah hal yang bertolak belakang dengan perjanjian kita. Jadi, apakah salah jika aku mempertanyakan perasaan? Aku memang wanita yang tidak memiliki kelebihan apa pun, bahkan keluargaku saja tidak bisa menerima kehadiranku. Tapi, aku juga punya harga dari, Mas. Aku tidak mau kamu jadikan pelarian dan pelampiasan. Maaf, aku___"


Ucapan Nadhea terhenti karena tangan Arsen mendarat keras di pipinya, meninggalkan bekas kemerahan yang panas dan perih. Tubuh Nadhea yang terhuyung, kini kembali bertumpu di tepi ranjang. Air mata yang tadi menggenang, sekarang tumpah dan mengalir membasahi wajah.


Arsen membungkuk dan menatap Nadhea dengan penuh emosi. Bayang-bayang Liora telah membutakan hatinya, sampai dia kehilangan rasa iba terhadap Nadhea.


"Lupakan harga diri! Wanita sepertimu tak pantas membicarakannya!" Arsen mencengkeram lengan Nadhea dengan kuat. "Aku sudah berjasa banyak dalam hidupmu. Selama bersamaku, orang-orang menghargaimu, menghormatimu, dan tidak ada yang berani menyudutkanmu. Selama denganku, kamu bisa menikmati fasilitas mewah dan tidak pernah kekurangan harta. Kamu banyak berhutang budi padaku, jadi jangan pernah menolakku!" sambungnya masih dengan bentakan.


"Tapi, Mas," bisik Nadhea.


"Kamu bersedia atau tidak, aku tidak peduli. Kamu harus melayaniku dan melahirkan anakku! Paham!" teriak Arsen.


Nadhea Queenaya, seorang wanita yang sejak kecil tak pernah bahagia. Malam itu mengalami hal terkelam dalam hidupnya. Dia merelakan kesuciannya direnggut paksa oleh lelaki yang menjadi suami, tetapi tak pernah mencintai. Sebuah tindakan yang dilandasi amarah dan n*fsu belaka, menyisakan rasa sakit yang amat besar dalam diri Nadhea, sakit hati dan juga sakit fisik.


Murka yang disebabkan oleh pengkhianatan sang kekasih, membuat Arsen kehilangan sedikit akal sehatnya. Dia memperlakukan Nadhea secara tidak wajar. Dia tak peduli meski istrinya menangis, merintih, dan memohon ampun. Bahkan, Arsen masih tidak menghentikan aksi brutalnya meski ada darah yang mengalir di tubuh Nadhea, walaupun dia tahu bahwa itu bukan sekadar darah keperawanan.


Setelah Arsen terkulai dan tertidur pulas, perlahan Nadhea bangkit dan beringsut menjauh. Air matanya tak henti mengalir di balik rambut kusut yang berantakan di wajah. Mengapa nasibnya sepahit ini?


Arsen adalah satu-satunya lelaki yang menghargainya. Walaupun alasan menikahi bukanlah sesuatu yang tulus, tetapi lelaki itu tak pernah menyinggung atau merendahkan keadaannya. Andai saja tidak ada nama Liora, pasti hatinya sudah terbuka sejak awal pernikahan.


Akan tetapi, Nadhea sadar diri. Arsen terlalu tinggi untuk dicintai, apalagi dengan adanya Liora, Nadhea sama sekali tak ada keberanian untuk memupuk perasaannya. Oleh karena itu, dia membuka hati ketika berjumpa dengan Kaivan.


Sekarang, dengan tiba-tiba Arsen memupus mimpi dan harapannya, bahkan juga merendahkan dengan cara yang paling hina. Di tengah dunia yang luas dan di antara ratusan juta manusia, rasanya Nadhea hidup seorang diri. Tak ada satu pun jiwa yang benar-benar peduli.


"Ya Allah, untuk pertama kalinya hamba menganggap takdir-Mu tidak adil," batin Nadhea di tengah rasa sakit yang menyiksa tubuhnya.


Seiring malam yang yang berlalu menyambut pagi, rasa putus asa menghampiri benak Nadhea, sampai tersirat dalam pikiran untuk mengakhiri hidupnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2