
Usai makan malam dengan keluarga dan calon istri, Kaivan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Setelah empat hari berdiam diri di balik jeruji, akhirnya kini kembali ke istana pribadi. Ujung bibirnya terangkat kala menatap lembaran-lembaran foto yang banyak berjajar di dinding kamar. Empat hari tanpa kamera rasanya begitu hampa. Terlebih lagi tanpa kekasih hati, ah, separuh hidupnya seakan menguar entah ke mana.
"Luna, maafkan aku yang kemarin sempat berprasangka buruk," gumam Kaivan dengan memejam, membayangkan sosok kekasih yang selalu sempurna di matanya.
Usai merenung, Kaivan bangkit dan menghubungi atasannya. Selain menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dia juga meminta izin karena besok belum bisa masuk kerja. Atasannya maklum dan Kaivan diberi waktu tiga hari untuk menjenguk calon mertuanya, sekaligus mengurus restoran. Namun, untuk masalah restoran, Kaivan memercayakan semuanya kepada Reyvan.
Baru saja Kaivan hendak meletakkan ponselnya, tiba-tiba ada telepon masuk, ternyata dari Luna. Senyum Kaivan makin mengembang seiring jemari yang mengusap tombol hijau.
"Hallo, Kai. Aku baru aja sampai," ujar Luna dari seberang sana.
"Syukurlah." Kaivan menghela napas lega. Tadi, Luna menolak diantar olehnya karena membawa mobil sendiri.
"Kamu sedang apa?" tanya Luna.
"Merindukan kamu."
"Kai, aku tanya serius." Luna tertawa renyah.
"Aku juga serius, Luna. Aku benar-benar rindu sama kamu. Rasanya udah nggak sabar pengin halalin kamu," ujar Kaivan.
"Sabar, Kai, nggak sampai lima bulan kok," ucap Luna. "Mudah-mudahan Papa terus sehat, ya. Kadang aku kepikiran kalau Papa sakit."
"Iya, Luna. Kita berdoa bersama-sama ya, untuk kesembuhan beliau," jawab Kaivan.
"Heem, Kai. Oh ya, aku tadi juga mau ngomong sesuatu," kata Luna.
"Ngomong apa?"
Luna mengembuskan napas kasar, "Besok nggak jadi berangkat pagi."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Tiba-tiba Pak Bima mengajak rapat, membahas kerjasama yang kuceritakan tempo hari. Lusa orangnya mau ke luar negeri, pulang lagi bulan depan. Tadi aku telfon Papa, katanya iya, suruh rapat dulu daripada nunggu lama," terang Luna.
"Ya udah kalau gitu menunggu kamu selesai rapat, setelah itu langsung berangkat."
"Iya."
____________
Tepat pukul 01.00 siang, Kaivan tiba di rumah Luna. Kekasihnya itu sudah menunggu dan siap berangkat ke Surabaya. Untuk kesekian kalinya Kaivan terpesona dengan penampilan Luna. Gadis cantik nan anggun itu mengenakan dress selutut warna kuning gading. Kakinya yang jenjang dibalut high hells warna silver. Rambutnya dibiarkan tergerai dan meriap menutupi bahu. Polesan mekap yang sedikit tebal menambah kadar kecantikannya.
"Kai, gitu banget natapnya," tegur Luna dengan pipi yang mulai bersemu merah.
"Cantik." Jawaban singkat Kaivan membuat Luna menunduk malu.
"Makin hari kamu makin pinter ngerayu, Kai." Luna berucap pelan sambil meraih tas miliknya.
"Bukan aku yang pinter ngerayu, melainkan kamu yang makin pinter mencuri perhatianku," jawab Kaivan.
"Hei, nggak ada rumusnya! Dalam kamusku yang ada hanya kata 'setia', nggak ada yang lain."
"Iyakah? Kalau nanti ketemu bridesmaid yang super cantik, gimana?" goda Luna. Mengingat pertemuan mereka dulu, dirinya menjadi bridesmaid dan Kaivan yang menjadi fotografernya.
"Menundukkan pandangan karena aku sudah punya calon istri," jawab Kaivan dengan cepat, yang lantas membuat Luna makin tersipu.
"Kai!" panggil Luna beberapa saat kemudian.
"Hmm."
"Kamu serius, kan, dengan ucapanmu barusan? Terkadang ... aku takut, Kai. Aku mencintaimu, harapanku menikah denganmu. Aku sangat nggak rela jika hubungan ini nggak sampai ke pelaminan," ujar Luna.
"Luna, Sayang, apa yang kamu bicarakan? Tidak perlu menakutkan apa pun, aku juga mencintaimu. Selagi Tuhan masih memberiku hidup, hubungan ini pasti tiba di pelaminan. Aku tidak akan ingkar janji, hanya kamu wanita yang kusebut dalam ikrar suci." Kaivan menangkup pipi Luna dan menatap matanya dengan lembut.
__ADS_1
"Terima kasih, Kai. Aku sangat bahagia mendengarnya, tolong jangan kecewakan aku, ya? Tetaplah di sampingku dan jangan mengkhianati cintaku," pinta Luna sembari menggenggam tangan Kaivan yang masih menempel di pipinya.
"Tidak akan pernah, Sayang. Kamu adalah cinta pertama dan terakhirku." Kaivan tersenyum dan kemudian menempelkan bibirnya di kening Luna. "Kamu adalah gadis sempurna, mana bisa aku berpaling demi gadis lain. Tidak, Luna, aku tidak sebodoh mantanmu, yang selingkuh dan menyia-nyiakan wanita sepertimu," sambungnya dalam hati.
"I love you, Kai," bisik Luna.
"I love you too, Luna," jawab Kaivan juga dengan bisikan.
Usai berpelukan erat, keduanya berjalan beriringan dan memasuki mobil. Lantas, Kaivan melajukannya meninggalkan rumah Luna. Mereka memulai perjalanan panjang.
"Papa belum bisa ikut. Pekerjaannya masih menumpuk karena Reyvan mengurusi restoran. Nanti setelah aku pulang, Papa baru bisa pergi menjenguk Om Wira," ucap Kaivan di tengah perjalanan.
"Iya, Kai, nggak apa-apa. Lagi pula keadaan Papa sudah mendingan kok. Yang penting doanya saja," jawab Luna diiringi senyuman termanisnya.
Luna dan Kaivan terus berbincang, entah soal pekerjaan atau juga perasaan. Sesekali pula mereka melontarkan canda dan tertawa bersama. Dalam separuh jalan, Kaivan menghentikan mobilnya dan singgah sebentar di tempat makan. Usai mengisi perut dan beristirahat sejenak, mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Karena berdampingan dengan seseorang yang dicintai, jarak Malang ke Surabaya rasanya lebih dekat dari kenyataan. Sebelum dihinggapi rasa lelah dan bosan, keduanya telah tiba di tempat tujuan—rumah Prawira Bagaskara. Mereka tiba sebelum matahari terbenam seutuhnya.
Seorang satpam langsung membukakan pintu gerbang ketika mobil Pajero milik Kaivan tiba di sana. Lalu, Kaivan memarkirkannya di garasi, di samping Lamborghini merah. Kaivan langsung turun, tanpa menyadari perubahan ekspresi Luna.
Kaivan mengitari mobilnya dan membukakan pintu untuk Luna. Namun, sang gadis sekadar diam dengan pandangan nanar ke arah mobil Lamborghini.
"Luna, ada apa?" Kaivan bertanya sambil melirik ke arah mobil, tidak ada yang aneh. Dia pun merasa santai dan menganggap mobil itu milik saudara atau relasi yang sedang menjenguk calon mertuanya.
"Tidak apa-apa, hanya ... suka dengan warnanya," dusta Luna.
Lantas, dia turun dan melangkah di samping Kaivan. Mereka berjalan menuju pintu utama yang terbuka lebar. Seiring langkah kaki yang terus mendekat, perasaan Luna kian gelisah. Dia hafal benar dengan plat nomornya, mobil itu adalah milik seseorang yang kehadirannya sama sekali tak dikehendaki. Terlebih lagi saat sekarang—ketika ada Kaivan di sampingnya.
"Apa yang harus kukatakan bila Kaivan bertemu dengannya? Oh tidak, semoga Kaivan mengerti dengan keadaan ini," batin Luna dengan jantung yang makin berdetak cepat.
Bersambung....
__ADS_1