
"Dhea, karena temanmu sudah datang, aku pergi dulu, ya. Terima kasih sudah mengantarku."
"Hati-hati, Stev." Nadhea melambaikan tangan sambil tersenyum lebar. Tak lama kemudian, seseorang yang dipanggil 'Stev' melangkah pergi.
"Itu tadi temanku. Dia bekerja di restoran yang tak jauh dari tempatku," ucap Nadhea ketika ia dan Kaivan mulai berjalan.
"Iya." Kaivan masih bersikap datar.
Detik berikutnya, Nadhea terus mencari topik obrolan. Namun, Kaivan hanya menjawab satu-dua kata saja. Dia benar-benar kesal dengan kejadian barusan.
"Kamu saja ya yang nyetir," pinta Nadhea ketika sudah tiba di dekat mobil Avanza warna putih.
Kaivan mengangguk sembari meraih kunci mobil dari tangan Nadhea. Lantas, dia masuk dan duduk di depan kemudi. Sampai mobil sudah melaju, belum ada kalimat yang terucap dari mulut Kaivan. Dia terus diam sambil menatap lurus ke depan. Bahkan, Kaivan sampai tak sadar kalau Nadhea tak henti memandangi.
"Andai tidak ingat Luna, pasti aku sudah mengira kalau kamu ini sedang cemburu, Kai. Tapi, lucu sekali kalau kamu cemburu sama dia," batin Nadhea.
Karena Kaivan terus diam, Nadhea berinisiatif memberikan penjelasan, "Temanku tadi mau ke rumah bibinya di Semarang, sepupunya nikahan. Kebetulan take off-nya hampir barengan dengan jam landing kamu. Jadi, sekalian aku barengin."
"Oh, kalian cukup dekat ya?"
"Lumayan. Stevany itu gadis yang ramah, aku seneng berkawan sama dia," jawab Nadhea yang lantas membuat Kaivan kaget.
"Stevany? Gadis?" Kaivan menoleh sekilas.
"Iya." Nadhea tersenyum. "Kamu nggak menganggap dia cowok, kan?"
Kaivan tak menjawab, hanya merutuki kebodohannya dalam hati. Entah apa yang membuatnya rabun, sampai tak bisa membedakan mana lelaki tulen dan mana lelaki jejadian.
"Meski penampilan dan suaranya totalitas banget, tapi dia nggak sampai transgender atau mencintai sesama jenis. Dulu, ada banyak hal buruk yang terjadi padanya. Jadi, seperti itulah dia sekarang," sambung Nadhea.
__ADS_1
Kaivan tersenyum malu, "Kupikir ... tadi beneran cowok."
"Kalau beneran cowok, terus gimana?"
"Gimana apanya, ya ... ya ... ya nggak gimana-gimana," jawab Kaivan dengan gugup.
"Oh, aku kira ... cemburu." Melihat kegugupan Kaivan yang makin ketara, Nadhea sedikit menggodanya.
Kaivan diam sejenak sembari mengatur detak jantung yang mulai tak karuan, "Kalau boleh, ya ... udah pasti."
Nadhea tak menyahut, hanya tertawa sambil membuang pandangan, menyembunyikan pipinya yang mendadak bersemu merah.
"Jadi, gimana?" tanya Kaivan beberapa saat kemudian.
"Apanya?"
Kaivan akan lebih berani dalam pertemuan ini. Dia tak ingin kata-kata Kennan semalam menjadi kenyataan.
"Kalau cinta ya diakui, jangan gengsi. Sok-sokan menyembunyikan perasaan. Kalau nanti diembat orang, mampus kamu!"
"Yakin nih mau cemburuin aku? Entar ada yang marah?" Nadhea tertawa kecil guna menututupi kegugupannya.
"Kalau dari pihakku sih nggak ada, bahkan ... Papa dan Bunda juga merestui kok," jawab Kaivan.
Nadhea makin speechless. Pipi yang tadi sekadar bersemu, kini sudah semerah tomat. Niat hati hanya menggoda karena Kaivan tampak gugup, tetapi ternyata malah menjebak dirinya sendiri.
"Kok, diam aja?" tegur Kaivan.
"Perempatan depan belok kanan," ujar Nadhea mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Oke." Kaivan tersenyum sambil curi-curi pandang. Tak disangka, ternyata Nadhea juga melakukan hal yang sama. Ketika sempat beradu pandang, keduanya sama-sama malu dan tak lagi menatap atau sekadar melirik. Alhasil, mereka terdiam hingga sampai ke tempat tujuan.
"Queen Galery, itu ... usahaku." Nadhea berkata sembari menunjuk papan nama yang tak jauh di depan mereka.
"Iya."
Sembari melambatkan laju mobil, Kaivan sedikit mengernyit. Galeri yang dimaksud Nadhea bukanlah bangunan sederhana, melainkan bangunan besar dan megah. Kaivan berdecak kagum ketika berhenti di halamannya. Bangunan itu menjulang tinggi, dengan pilar-pilar besar yang menghiasi bagian depan. Perpaduan warna cokelat muda dan putih tampak serasi dengan warna emas yang ada di bagian atas.
"Ayo turun, Papa ada di dalam!" ajak Nadhea.
Kaivan mengangguk dan menyudahi kekagumannya. Lantas, turun dan mengikuti langkah Nadhea. Wanita itu membawanya menyusuri halaman yang ada di samping bangunan. Lalu, masuk di pintu sana dan melewati lorong, kemudian masuk lift dan Nadhea menekan angka tiga.
"Bangunan ini sangat megah dan berada di pusat kota, pasti habis puluhan miliar untuk membangun ini. Baguslah, berarti keuangan Om Wira udah pulih," batin Kaivan.
Tak lama kemudian, pintu lift terbuka. Nadhea dan Kaivan keluar bersama, berjalan melewati ruangan yang luas. Meski tidak terdapat banyak perabotan, tetapi cukup elegan dan sedap dipandang.
"Bang Kai, ini kamar kamu. Maaf ya, perabotannya belum lengkap, bahkan kamar mandi juga nggak ada. Kalau mau ke kamar mandi, yang di sana tadi." Nadhea tersenyum sambil menunjuk kamar mandi yang tak jauh dari lift. Lantas, membuka lebar pintu kamar.
"Iya. Nggak apa-apa."
"Aku panggil Papa dulu, setelah ini kita makan," ucap Nadhea.
"Iya." Kaivan mengangguk.
Setelah Nadhea pergi ke kamar Prawira, yang kebetulan bersebelahan, Kaivan pun masuk ke kamarnya. Dia memindai setiap jengkal ruangan. Benar kata Nadhea, belum banyak perabotan, hanya ada ranjang, lemari, meja, dan satu kursi.
Usai meletakkan tas besarnya, Kaivan merebahkan tubuh di atas ranjang. Niat hati ingin merenggangkan otot, tetapi gagal karena ada sesuatu yang mengusik.
Bersambung...
__ADS_1