Noda

Noda
Bertengkar


__ADS_3

"Apa itu artinya ... kau yang ikut keyakinanku?" tanyaku ragu-ragu.


"Tidak." Daniel menggeleng.


"Lantas?" tanyaku semakin penasaran.


Jika dia tidak ikut keyakinanku, lalu bagaimana bisa kami menikah. Daniel memang anak orang kaya, cukup mampu seandainya kami menikah diluar negeri. Namun dalam agamaku, tidak sah menikah dengan seseorang yang tidak se-keyakinan.


"Daniel, apa rencanamu?" tanyaku dengan intonasi yang lebih tinggi.


Bibir Daniel masih terkatup rapat, entah apa yang dia pikirkan, aku sama sekali tak bisa menebaknya.


"Niel, jawab!" teriakku setelah dia terdiam cukup lama.


"Mumpung janin itu masih kecil, bagaimana kalau kita gugurkan saja."


Aku terperangah ketika mendengar ucapan Daniel. Entah apa yang merasukinya, kenapa begitu tega mengutarakan usul se-gila itu.


"Aku harap kamu setuju, Ra. Hanya ini satu-satunya cara yang bisa kita ambil."


Kutepiskan tangan Daniel dengan kasar, lantas kudaratkan tamparan keras di pipinya. Aku beranjak dari dudukku, dan menatap Daniel dengan pelototan tajam.

__ADS_1


"Kamu gila, Daniel! Kamu gila!" umpatku dengan napas yang memburu. Emosiku membuncah seiring air mata yang tiba-tiba tumpah.


"Dia ini darah dagingmu, dan kamu tega membunuhnya! Dimana hati nurani kamu, Niel!" bentakku di sela-sela isakan.


"Ra, tenang! Sebenarnya aku juga tidak tega, tapi kita tidak punya pilihan lain. Ini demi masa depan kita!" Daniel memegang kedua bahuku dengan erat.


Bibirku tak menjawab, dan lagi-lagi hanya tangan yang berbicara. Untuk kedua kalinya kulayangkan tamparan di wajah Daniel. Kali ini lebih keras, hingga jemariku membekas merah di pipinya.


"Kirana!" Daniel menyebut namaku sambil menatap lekat.


Sepasang manik cokelat yang biasanya menyiratkan rasa cinta, kini dipenuhi kemelut badai yang sulit untuk kujamah. Mungkin dia tersinggung karena sikapku, tapi biarlah, agar dia sadar jika usulnya itu tidak benar.


"Boleh saja kita memikirkan masa depan, tapi tidak lantas mengorbankan nyawa yang tak berdosa, terlebih lagi nyawa itu milik darah daging kita. Sudah terlalu banyak dosa yang kita lakukan, masihkah akan menyelam lebih dalam lagi?" Kutatap bola mata yang memantulkan bayang diriku.


"Lalu bagaimana, Ra? Kita saling mempertahankan keyakinan masing-masing, lantas seperti apa cara kita memberikan status untuknya? Mungkin bisa saja kita menikah diluar negeri, tapi itu juga menimbulkan banyak kontra. Pernikahan kita tidak sah, dan pasti tidak sedikit yang menghujat. Aku memilih aborsi, itu demi masa depan kamu, Ra," kata Daniel membeberkan opininya.


Aku masih diam, kubiarkan dia menuntaskan pendapatnya.


"Jika anak itu kau biarkan bertahan, masa depanmu dipertaruhkan, Ra. Sebentar lagi kamu magang, cita-citamu nyaris tergapai, jangan biarkan janin ini menjadi kendala untuk meraih mimpi.


Jika orang tahu kau hamil diluar nikah, reputasimu akan hancur, Ra. Kamu akan dipandang sebelah mata, dan begitu halnya dengan anak kita nanti. Daripada menanggung beban, mungkin lebih baik jika dia tidak dilahirkan. Mumpung dia masih kecil dan belum bernapas," sambung Daniel.

__ADS_1


Aku memejamkan mata, menahan amarah yang kian membuncah. Pria yang dulu berhati lembut dan penuh kasih, kini berubah menjadi lelaki yang tak punya hati. Semuanya memang selesai, jika bayi ini dipaksa luruh menjadi gumpalan darah. Tapi aku punya nurani, aku tidak tega melakukannya, dan selain itu, aku tidak mau melakukan dosa yang lebih besar lagi. Aku percaya karma itu ada.


"Kirana!"


Aku membuka mata, setelah Daniel memanggilku.


"Aku tidak bisa! Aborsi tidak sesederhana yang kau pikirkan, banyak dampak yang bisa ditimbulkan. Tidak jarang rahim seseorang bermasalah setelah melakukan aborsi. Jika nanti aku penyakitan atau mandul, apa menurutmu itu bagus untuk masa depanku, hah!" pekikku frustrasi.


"Kirana, tenang! Pelankan suaramu, jangan sampai ada yang mendengar perbincangan kita." Daniel menangkup kedua pipiku. Sentuhannya tetap hangat seperti waktu lalu, sentuhan yang senantiasa membuatku terlena, hingga akhirnya mengantarku pada titik yang hina.


"Aku tahu ini tidak baik untukmu, tapi pilihan lain jauh lebih buruk, Ra. Aku tidak tega melihatmu tersakiti, aku sangat mencintaimu, Kirana," sambung Daniel.


"Jangan bicara tentang cinta, Daniel! Yang menyakitiku itu kamu, yang membuatku seperti ini, itu juga kamu! Kamu sudah mengambil kehormatanku, kamu sudah puas menikmati tubuhku, dan kamu tidak punya tanggung jawab akan hal itu. Kamu egois, Daniel, kamu sangat egois!" Aku berteriak sambil menarik-narik kemejanya, hingga satu kancing terlepas dan jatuh di tanah.


Aku meluapkan emosiku pada Daniel, aku tak peduli meskipun ia akan marah. Kendati di antara kami tidak ada kata berpisah, namun hubungan ini tak mungkin ada ujungnya. Sampai kapanpun, aku dan Daniel berada di garis yang berbeda, tidak ada titik temu yang membuat kami bersatu.


"Maafkan aku, Kirana. Selama ini aku memang salah, aku menuntut banyak hal darimu. Tapi ... aku juga tidak pernah memaksamu, Ra, aku___"


"Iya, semua itu terjadi karena aku juga mau! Aku memang bodoh, aku murahan dan gampangan. Aku tidak bisa menjaga harga diri dan kehormatan. Tarik kembali kata maafmu, jika menurutmu aku yang salah. Sekarang biarkan aku memilih jalanku sendiri, aku ... tidak akan membunuhnya. Aku masih waras Daniel, aku tidak gila sepertimu!" bentakku dengan penuh emosi.


Kuseka air mata dengan kedua tangan, lantas aku membalikkan badan dan pergi meninggalkan Daniel. Aku terus berjalan, tanpa memedulikan teriakkannya yang memanggilku berulang kali.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2