Noda

Noda
Berjumpa Kembali


__ADS_3

"Itu Nadhea, kan?" Kennan berucap sambil menunjuk ke depan.


Tanpa menyahut, Kaivan mengikuti arahan Kennan. Tampak di sana, Nadhea sedang berjalan berdampingan dengan Arsen. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba ada perasaan hangat yang menjalar di hati Kaivan. Lantas, perasaan itu mendorong kakinya untuk melangkah ke arah sana.


Melihat Kaivan pergi tanpa sepatah kata, Kennan hanya menggeleng-geleng. Dia yakin Kaivan menganggap Nadhea lebih dari kakak ipar, tetapi sahabatnya itu tidak mau mengaku.


"Dia udah punya suami dan kamu pun udah mau nikah dengan adiknya. Kalaupun ada cinta, kayaknya memang sulit ya, Kai," gumam Kennan.


Sementara itu, Kaivan menghampiri Arsen dan Nadhea yang sedang memilih sabun mandi. Sebelum menyapa, Kaivan terlebih dahulu melirik keranjang belanja yang dipegang Nadhea. Ada susu untuk ibu hamil di sana. Mendadak hati Kaivan terasa nyeri, seakan ada sesuatu yang mengimpitnya.


"Mas Arsen, Nadhea!" sapa Kaivan.


Arsen dan Nadhea mendongak, menatap Kaivan yang sudah berdiri tepat di hadapan. Arsen memicing, menampilkan raut yang tak senang. Sementara Nadhea, dia menggigit bibir sambil menatap sendu, seolah menyiratkan harapan yang besar.


Kaivan terpaku sebelum menyapa lebih lanjut. Ketika menatap wajah Nadhea, samar-samar Kaivan melihat lebam yang tertutup mekap. Saat menurunkan pandangan, Kaivan melihat tulang leher Nadhea sangat menonjol. Wanita itu jauh lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu.


"Apakah dia tidak baik-baik saja?" batin Kaivan. Matanya terus menelisik, tetapi sayang Nadhea mengenakan kemeja dan rok panjang. Jadi, hanya wajah, leher, dan telapak tangan yang dapat dilihatnya.


"Adik Ipar, apa yang kamu lakukan di sini?" Arsen bertanya sambil melingkarkan lengannya di pinggang Nadhea, seakan sengaja menegaskan bahwa wanita itu hanya miliknya.


"Ada pemotretan di kota ini. Kebetulan masuknya nanti siang, jadi saya belanja dulu," jawab Kaivan. Dia menatap Arsen sekilas, lantas kembali menilik Nadhea. Akan tetapi, wanita itu sekadar menunduk. Tak sedikit pun membalas tatapan Kaivan.

__ADS_1


"Semoga harimu menyenangkan!" sahut Arsen dengan nada sinis. Kemudian, dia melangkah pergi tanpa melepaskan rengkuhannya.


Kaivan berbalik dan menatap punggung mereka yang makin menjauh. Sesungguhnya, hati tergerak untuk mengikuti. Namun, logikanya menahan karena Nadhea dan Arsen sudah menikah. Walaupun yakin bahwa hubungan mereka tidak sehat, tetapi Kaivan tak punya bukti. Lantas, apa yang bisa dilakukan?


"Kok, udah pergi?" tanya Kennan yang kini sudah berdiri di samping Kaivan.


"Entahlah," gumam Kaivan.


"Hei! Kamu kenapa?" Kennan menepuk bahu Kaivan, sembari menatap ekspresi sahabatnya yang jauh dari kata ceria.


"Kurasa dia tidak baik-baik saja," jawab Kaivan lirih.


"Aku tadi melihat sudut bibir dan keningnya kayak lebam. Nggak terlalu jelas sih, mekapnya agak tebal," ungkap Kaivan.


"Kamu yakin?" tanya Kennan.


"Iya. Menurutmu ... itu kenapa?" Kaivan menatap Kennan, meminta pendapat yang kiranya ke arah positif.


"Nggak bisa nebak, tapi mudah-mudahan aja bukan KDRT," jawab Kennan.


"Kamu sempat mikir ke sana?"

__ADS_1


"Kalau yang lebam laki, mungkin karena berkelahi. Tapi kalau cewek ... tipis kemungkinan. Sebenarnya, bisa aja sih dikata kecelakaan, tapi ... lihat tatapan suaminya kayak serem. Jadi, ya agak negatif pikiranku."


Jawaban Kennan membuat Kaivan terdiam. Pikirnya, Kennan yang tak tahu tentang 'Sayap-Sayap Patah' saja bisa menebak demikian, apalagi dirinya. Apakah kisah itu benar-benar nyata?


"Nadhea, apa yang sebenarnya terjadi?" batin Kaivan dalam kekhawatiran.


Pada waktu yang sama, Arsen dan Nadhea sudah tiba di parkiran. Dengan gerakan cepat, Arsen membuka pintu mobil dan menatap Nadhea dengan tajam.


"Masuk!" bentak Arsen.


Tanpa mengucap kata, Nadhea langsung masuk dan duduk di samping kemudi. Tak lama kemudian, Arsen pun turut masuk. Namun, pria itu tak segera menghidupkan mesin mobil, melainkan mengimpit tubuh Nadhea dan mencengkeram lengannya.


"Inikah alasanmu ikut belanja! Kamu ada janji dengan lelaki sialan itu? Kamu merencanakan hal kotor di kepalamu ini, iya?" bentak Arsen tepat di depan wajah Nadhea.


"Tidak, Mas. Aku juga tidak tahu kenapa ada Kaivan di sana," jawab Nadhea dengan kepala yang menunduk. Sebisa mungkin dia menahan rasa sakit di lengan. Cengkeraman Arsen cukup kuat dan tepat di bagian yang sudah lebam.


Bukan jawaban yang Nadhea dapat, melainkan tamparan keras yang mendarat begitu saja di pipinya. Disusul cengkeraman yang kini beralih di leher, hingga Nadhea batuk-batuk dan kesulitan bernapas.


"Sekali saja kamu berbuat curang, aku tidak akan pernah mengampunimu, Dhea! Camkan itu!" ancam Arsen masih dengan intonasi tinggi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2