Noda

Noda
Akhir Hidup


__ADS_3

Satu bulan sudah waktu berjalan sejak Dara dimakamkan. Kendati kesehatanku sudah pulih total, tetapi pikiran masih kerap tak karuan. Kehilangan Dara membuatku merasakan sakit dan rindu yang amat besar.


Dalam satu bulan ini, aku sudah memahami banyak hal terkait kematian Dara. Dari cerita Kak Darren, waktu itu sangat khawatir saat ponselku tak bisa dihubungi. Lantas, ia bertanya pada polisi tentang bebasnya Mayra. Menurut mereka, Mayra sengaja dibebaskan ketika orang tuanya datang dan memberikan jaminan, untuk dijadikan umpan dalam mengungkap keterlibatan Amanda dalam perdagangan obat terlarang. Polisi sudah mencium hal itu sejak lama, hanya saja belum ada bukti untuk menangkap Amanda.


Ketika mendengar laporan Kak Darren tentang kepergianku, polisi bergegas menyelidiki, dan menemukanku di kediaman Mala—distributor obat terlarang yang menjadi buronan sejak dua bulan silam.


Lalu, mereka ditangkap dengan beberapa kasus yang menjerat. Pembunuhan, penganiayaan, dan keterlibatan dalam obat terlarang. Semua berhasil diungkap, Amanda adalah bos tertinggi, sedangkan Mayra, Markus, Mala, adalah anak buah yang bekerja padanya. Sekarang, mereka semua diancam kurungan seumur hidup.


Selain fakta tentang Amanda, aku juga tahu fakta tentang Mayra. Menurut keterangan Reza, saat itu Mayra sedang hamil, hasil dari one night stand di kelab malam. Katanya, itu terjadi karena Mayra sangat frustrasi—Reza tak pernah membalas cintanya.


Melihat keadaan Mayra yang memrihatinkan—hamil dan ditangkap polisi, Reza berniat menikahinya saat bebas nanti. Ia bersedia menjadi ayah dari bayi Mayra. Namun, di luar dugaan tiba-tiba Mayra merencanakan pembunuhan terhadap diriku.


Dari sana, Reza tak simpati lagi dengan Mayra. Ia sangat marah, lantas mengurungkan niatnya, bahkan obat terlarang yang pernah ditawarkan padanya, diduga adalah cara licik Mayra untuk menjebak. Berkat fakta itu, aku tak lagi menyalahkan Kak Darren. Kematian Dara adalah takdir yang harus kuikhlaskan, walau tak jarang masih menyisakan rasa sakit.


"Ya Allah."


Aku tak bisa berkomentar banyak tentang semua itu, sangat jauh dari bayangan. Hanya bisa menyebut nama Tuhan setiap kali mengingatnya.


Pagi ini, aku duduk sendiri di ayunan. Bu Fatimah pergi ke toko karena sudah beberapa hari tidak dikunjungi, sedangkan Kak Darren pergi ke kantor. Sejak dua minggu lalu ia kembali bekerja. Namun, tak sampai sore. Ia pulang saat jam makan siang.


Di antara embusan angin, kupandangi segelas teh hangat yang baru saja dibuatkan Bibi. Tak ada keinginan untuk meneguk. Entahlah, jika mengingat Dara, aku jadi tidak semangat melakukan apa pun.


"Dara," ucapku pelan.


Pada saat aku sedang memikirkan Dara, tiba-tiba ponselku berdering. Kipikir Kak Darren, tetapi ternyata Daniel. Aku ragu menerimanya, mengingat apa yang dibisikkan pada hari itu. Namun, tidak sekali-dua kali ia menelepon, dan akhirnya kujawab jua.


"Hallo." Kuusap tombol hijau pada panggilan yang kelima.


"Hallo, Kirana. Bagaimana kabarmu?" tanya Daniel dari seberang sana.


"Aku baik."


"Tidak sibuk, kan?" Daniel kembali bertanya.

__ADS_1


"Mmm, tidak. Kenapa?" Aku balik bertanya.


"Ada sedikit hal yang ingin kubicarakan denganmu," jawab Daniel.


"Apa?" tanyaku dengan perasaan yang mulai tak nyaman.


"Tentang ... kita."


Mendengar ucapan Daniel, aku langsung menghela napas panjang. Mengapa ia kembali mengungkit hal itu, padahal suasana hatiku sedang tidak baik.


"Kirana, aku masih mencintaimu. Aku siap menikahimu dan menjagamu dengan baik. Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia," sambung Daniel.


"Jangan macam-macam, Daniel!" jawabku dengan intonasi tinggi. "Apa yang kamu pikirkan? Aku sudah menikah, dan lagi, keyakinan kita berbeda. Kenapa kamu membahas cinta dan pernikahan?"


"Suamimu bukan lelaki yang bertanggung jawab, Kirana. Dia yang membuat Dara meninggal kalau kamu lupa. Kamu tidak akan bahagia jika terus bersama dia!" kata Daniel juga dengan intonasi tinggi.


"Aku bahagia, kamu jangan sembarangan bicara! Dan asal kamu tahu, Daniel, itu bukan salah Kak Darren!"


"Amanda adalah masa lalu Darren. Masihkah kamu mengelak itu bukan salah suamimu, Kirana? Apa___"


"Selain keterlibatan Amanda, juga ada keterlibatan Mayra. Dia membenciku karena dia menyukai Reza. Aku pernah dekat dengan Reza karena kamu yang membawaku ke sana. Sekarang ... apa boleh aku menyalahkan kamu?" pungkasku dengan cepat.


"Alasan-alasan yang kemarin tersembunyi, sekarang sudah terungkap. Sudah seharusnya kamu sadar dan berhenti menyalahkan Kak Darren," sambungku karena Daniel masih diam.


"Tapi Kirana___"


"Jika kamu masih ingin menyalahkan, kita-lah yang paling patut disalahkan. Kita memiliki Dara ketika belum ada ikatan. Bukankah itu kesalahan yang amat fatal?" Lagi-lagi aku memotong ucapannya.


"Jadi kamu masih tetap pada keputusanmu, mempertahankan pernikahan dengan Darren?" tanya Daniel beberapa saat kemudian.


"Tentu saja. Dia suamiku, seseorang yang satu keyakinan denganku," jawabku dengan tegas.


"Jangan terlalu membedakan keyakinan, Kirana. Pada dasarnya tujuan kita sama, hanya cara saja yang berbeda."

__ADS_1


"Untuk pergaulan biasa aku tidak membedakan, Daniel. Tapi jika pernikahan ... maaf, aku memang membedakan. Dalam agamaku, pernikahan yang sah adalah pernikahan yang dilakukan dengan sesama Muslim. Aku yakin dalam agama kamu juga ada ajaran yang serupa," jawabku dengan panjang lebar.


"Aku tidak akan menyentuhmu, dengan begitu kita tidak berzina. Kita bisa mengadopsi bayi untuk melengkapi hubungan. Katakan iya, Kirana, lantas aku akan membawamu ke luar negeri dan kita menikah di sana. Aku janji akan membuatmu bahagia." Ucapan Daniel terdengar serius.


"Jangan sembarangan, Daniel! Aku sudah menikah! Lagi pula, janjimu itu jelas dusta. Tanpa ikatan saja khilaf, apalagi___"


"Dulu kita belum taat dengan agama," pungkas Daniel.


"Lantas apa sekarang sudah? Perlu kamu tahu, Daniel, orang yang taat dengan agamanya tidak akan mendekati hal-hal yang dilarang." Aku beranjak dan mengambil napas dalam-dalam.


"Aku sangat mencintaimu, Kirana. Aku tidak bisa mencintai wanita selain kamu," ucap Daniel dengan pelan.


"Berhenti memikirkan aku dan ikhlaskan kepergian Dara. Dengan begitu, perasaanmu akan luntur dengan sendirinya. Lantas, kamu bisa mencintai wanita lain. Aku sudah menikah, Daniel, tolong relakan. Cari mereka yang sekeyakinan, lalu menikahlah dan raih masa depanmu bersamanya." Aku berusaha memberikan pengertian untuknya.


"Kamu ... kamu benar-benar bertahan? Tidak mau kembali denganku?" Suara Daniel terdengar gemetaran.


Entah apa yang terjadi padanya, mengapa tiba-tiba bersikeras mengajakku menikah.


"Maaf, Daniel."


"Baiklah, semoga kamu bahagia, Kirana. Aku ... akan memilih jalan lain, karena berbagai cara sudah kulakukan, dan perasaanku padamu tetap tidak pudar," kata Daniel.


"A-apa maksudmu?"


"Aku sudah menentukan bagaimana akhir hidupku jika kamu tidak mau kembali. Kirana, maaf, mungkin setelah ini ... aku tidak bisa menghubungimu lagi. Baik-baik di sana, berjanjilah untuk selalu tersenyum," jawab Daniel yang lantas membuatku mengernyitkan kening.


"Daniel___"


Ucapanku menggantung begitu saja karena sambungan telepon terputus dengan tiba-tiba. Dengan hati yang masih berkecamuk, kutatap layar ponsel yang masih kugenggam.


"Akhir hidup, tidak bisa menghubungi. Daniel tidak bunuh diri, kan?" batinku dalam kesendirian.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2