Noda

Noda
Tawaran Menikah


__ADS_3

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 02.00 siang, namun aku masih bersimpuh di atas sajadah, di dalam kamar. Usai melaksanakan salat dzuhur, aku terus bergeming di tempatku. Aku mengadu dan berkeluh kesah pada Tuhan atas perasaan yang tak berkesudahan. Sesekali kutitikkan air mata, demi mengurangi rasa sesak yang sedari tadi mengimpit rongga napas.


Aku dan Daniel masih menyimpan rasa yang sama, namun takdir kami hanya bertemu dan bukan bersatu. Yang mampu kami lakukan hanyalah saling mendoakan dengan cara yang berbeda. Dia pada keyakinannya, dan aku pada keyakinanku.


Menyakitkan, tapi memang seperti inilah kenyataannya.


Di saat aku masih larut dalam kepiluan, tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar.


Kuseka sudut mataku yang berair, lantas aku beranjak dan membuka pintu kamar yang sengaja kukunci.


Kupikir dia adalah Bibi yang mengantarkan Dara, karena bocah itu sudah cukup lama dalam asuhannya. Mungkin dia menangis. Namun, ternyata yang datang bukan Bibi, melainkan Bu Fatimah. Beliau tersenyum lebar kala aku membuka pintu kamar.


"Bunda," panggilku.


"Kamu___" Bu Fatimah menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Mungkin beliau heran melihat mukenah yang membungkus tubuhku. Karena waktu dzuhur sudah jauh berlalu, dan waktu asar pun juga belum tiba.


"Aku masih betah berkeluh kesah, Bunda," ucapku dengan kepala yang tertunduk.


"Ada masalah dengan Daniel?" tanya Bu Fatimah.


"Bukan masalah, Bunda." Aku menggeleng. "Tapi ... entahlah, sedikit sakit rasanya," sambungku.


Lantas aku melangkah masuk ke kamar dan duduk di tepi ranjang. Bu Fatimah mengikuti langkahku dan duduk di sebelahku.

__ADS_1


"Daniel tetap pada keyakinannya, ya?" tebak Bu Fatimah.


"Iya, Bunda." Aku mengangguk pelan.


Bu Fatimah menghela napas panjang, kemudian merangkul tubuhku dan mengusap lenganku.


"Itu artinya, Allah memang tidak menciptakan dia untuk kamu, Kirana. Allah hanya mempertemukan kalian, tapi tidak menyatukan cinta kalian. Percayalah, takdir Allah itu selalu indah. Sekarang, Allah menempatkanmu dalam luka dan kecewa. Yakinlah, jika suatu saat nanti, Allah mengangkat derajatmu dan menempatkanmu pada kebahagiaan yang hakiki. Jangan takut karena kehilangan Daniel, Allah pasti sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untuk kamu," terang Bu Fatimah dengan panjang lebar.


"Iya, Bunda, aku yakin dan percaya atas kebesaran Allah. Tapi ... di sini rasanya sedikit sakit, Bunda." Kupegang dadaku dengan telapak tangan.


"Bunda paham, karena Bunda pun juga pernah merasakan sakitnya cinta yang tak tersampaikan. Tapi, kamu adalah gadis yang kuat, Bunda yakin kamu bisa. Tersenyumlah, Kirana, sambut masa depan kamu dengan jiwa tegar. Bunda akan selalu ada untuk kamu," kata Bu Fatimah.


"Terima kasih, Bunda. Setelah ini, aku tidak akan menangis lagi." Kusandarkan kepalaku di lengan Bu Fatimah. Kuteteskan sisa-sisa air mata yang masih menggenang di sudutnya.


Bu Fatimah tak lagi bicara, namun tangan beliau mengusap-usap lenganku dengan lembut. Dalam dekapan beliau, sedikit rasa sesakku perlahan mulai memudar.


"Iya, Bunda," jawabku, tanpa mengangkat kepala.


"Apa kamu mau menikah?" tanya Bu Fatimah, yang lantas membuatku terperangah.


"Me ... menikah, Bunda?" Aku mengulangi pertanyaan beliau.


"Iya. Apa kamu bersedia?"


"Aku, aku belum memikirkan hal itu, Bunda. Dengan keadaanku yang seperti ini, menikah bukanlah hal yang mudah," jawabku, pelan.

__ADS_1


Bukannya aku pesimis, namun melihat keadaanku sekarang, siapa yang mau menikahiku?


Tidak perawan saja terkadang menjadi kendala, apalagi sampai memiliki anak di luar nikah. Benar-benar aib yang sulit untuk diterima.


"Jika ada yang mau menerimamu, apakah kamu siap membina rumah tangga?" tanya Bu Fatimah.


"Aku ... aku___"


"Sebenarnya, keponakan Bunda sedang mencari jodoh. Umurnya tidak beda jauh darimu. Dia bukan pemilih, Kirana. Bunda yakin, dia bisa menerima masa lalu kamu," pungkas Bu Fatimah.


Seketika, langsung kuangkat kepalaku, dan kutatap wajah Bu Fatimah dengan lekat. Masa lalu yang sepahit itu, benarkah ada seseorang yang mau menerimanya dengan mudah?


"Kenapa?" Bu Fatimah balas menatapku.


"Rasanya, aku masih tidak percaya, Bunda, jika ada seseorang yang mau menerima masa laluku." Aku kembali menunduk.


"Mereka yang cerdas tidak akan mempermasalahkan masa lalu, Kirana, karena yang terpenting adalah masa sekarang dan masa depan. Percuma memiliki masa lalu yang mulia, jika masa sekarang jauh dari jalan-Nya. Apa yang bisa diharapkan di masa depan?


Begitu pula sebaliknya, Kirana. Meskipun masa lalunya buruk, tapi jika dia sudah bertobat, masa depannya akan cerah. Ada mimpi dan harapan di setiap langkahnya. Kirana, jika Allah saja bisa memaafkan, bagaimana mungkin manusia tetap menghakimi?


Percayalah, Kirana, keponakan Bunda bukanlah lelaki yang suka mengungkit masa lalu," ucap Bu Fatimah, menjelaskan padaku.


Aku masih terdiam, karena bingung menata perasaan yang tiba-tiba tak karuan. Kendati aku tidak tahu seperti apa wujud lelaki yang dibicarakan Bu Fatimah, namun hatiku mendadak berdebar tanpa aturan. Ada apa dengan diriku?


"Kamu mau?" Bu Fatimah kembali bertanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2