
Samar-samar aku mencium aroma disinfektan, tidak terlalu kuat, tetapi cukup mengganggu. Dalam keadaan yang seperti terlelap, aku berusaha membuka mata, sangat berat. Namun, aku terus mencoba. Sampai akhirnya, mataku berhasil menatap ruangan serba biru.
Sembari memegangi kepala yang terasa sakit, aku menilik ke sekeliling. Tidak ada seorang pun, hanya obat-obatan dan peralatan medis yang dapat kulihat.
"Kak Darren," bisikku.
Aku berusaha bangkit walau sangat sulit, hendak mencari Kak Darren yang entah di mana saat ini. Namun, tenagaku terlalu lemah, sehingga tak ada kekuatan untuk turun dari ranjang.
"Kak!" Aku mencoba meninggikan intonasi, tetapi yang terdengar tetap suara lemah.
Aku diam sejenak, mencoba mengumpulkan sisa-sisa tenaga. Setelah rasanya sedikit membaik, aku berusaha turun dengan susah payah. Lantas, melangkah keluar dengan perlahan.
Sesampainya di depan pintu, aku mendengar suara Kak Darren sedang berbincang dengan seseorang. Tanpa pikir panjang, aku membuka pintu dan hendak menemuinya.
Aku langsung terpaku ketika pintu sudah terbuka lebar. Tepat di depan ruangan, aku mendapati sosok lelaki yang sangat kukenal. Kendati penampilannya asing, tetapi wajah dan tatapannya amat-sangat familiar.
"Da-Daniel," gumamku.
Kutatap dia dari ujung kaki hingga ujung kepala. Pakaiannya longgar dan panjang, lengkap dengan penutup kepala. Di lehernya, terdapat kalung panjang dengan liontin salib. Awalnya, aku kurang yakin bahwa itu dia. Namun, setelah melihatnya tersenyum, aku langsung yakin dengan penglihatanku.
"Apa kabar, Kirana? Senang bertemu denganmu." Daniel beranjak sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Sebelum aku menyahut ucapan Daniel, Kak Darren sudah mendekatiku dan menggenggam bahuku. Rupanya, barusan dia berbincang dengan Daniel.
"Sayang, maaf ya tadi aku tinggal keluar. Bagaimana keadaan kamu, masih ada yang sakit? Perlu aku panggilkan dokter?" tanya Kak Darren.
"Aku nggak apa-apa, Kak, cuma lemes aja," jawabku.
"Syukurlah, sini aku bantu duduk." Kak Darren membimbingku duduk di kursi. "Tadi kamu tidur, jadi aku tinggal keluar. Pas di sini ketemu sama Daniel dan kami ngobrol bareng, sampai nggak dengar kalau kamu udah bangun. Maaf, ya," sambungnya.
Aku mengangguk sambil tersenyum. Lantas, kulirik Daniel yang saat ini sudah duduk di kursinya.
"Selamat ya, Kirana, akhirnya Tuhan kembali menitipkan anugerah untukmu. Semoga kehadirannya bisa menghapus lukamu karena kepergian Dara," kata Daniel yang lantas membuatku mengernyit.
"Apa maksudmu?" tanyaku dengan cepat. "Kak, apa maksudnya?" Aku beralih menatap Kak Darren.
"Allah telah mengabulkan doa kita, Sayang. Kondisimu yang kurang sehat ini bukan karena sakit, melainkan bawaan bayi. Sayang, ada anak kita di sini. Kata dokter, usianya sudah enam minggu." Kak Darren mengusap perutku dengan lembut.
"Kakak serius?" bisikku.
Sungguh, aku sangat kaget mendengar kabar ini. Pasalnya, beberapa hari lalu tamuku masih datang walau hanya berupa flek. Selain itu, Kak Darren masih menjalani perawatan hormon. Kondisinya belum bisa dikatakan normal.
"Serius, Sayang. Kamu bisa tanya sendiri nanti sama dokternya. Kamu___"
__ADS_1
Dengan cepat aku menghambur ke pelukan Kak Darren, tanpa memberinya kesempatan untuk meneruskan ucapan. Aku sangat terharu dan tak bisa menahan air mata. Kabar ini merupakan kabar terindah yang pernah aku dengar.
"Sekarang, jangan berpikiran yang macam-macam. Kamu seperti ini karena hamil, bukan yang lain. Setelah ini, kamu harus rajin makan. Jangan sampai dia kelaparan di dalam sana," bisik Kak Darren sambil mengusap-usap punggungku.
"Rasanya masih nggak percaya, Kak, ini benar-benar ... ah, aku sangat bahagia." Aku bicara sambil mengeratkan pelukan.
"Aku turut bahagia melihat kalian bahagia," ucap seseorang yang kehadirannya hampir kulupakan.
Mendengar ucapannya, aku langsung melepaskan pelukan dan Kak Darren pun tak menahan. Lantas, aku menatap Daniel dan hendak menanyakan suatu hal yang sekian lama mengganjal. Namun, aku kesulitan memulainya.
"Inilah akhir hidup yang kumaksud, Kirana. Aku akan mengesampingkan urusan dunia dan fokus dengan agamaku," ujar Daniel, seolah mengerti dengan apa yang akan kutanyakan.
Aku tak segera menyahut karena masih mencerna ucapannya. Sosok Daniel saat ini, ditambah dengan perkataannya barusan mengingatkanku pada seorang biarawan. Namun, aku belum yakin bahwa Daniel memilih jalan itu. Karena setahuku, biarawan wajib selibat atau hidup tanpa menikah. Benarkah Daniel demikian?
"Dahulu, aku pernah kecewa dengan sebuah rasa. Namun, dari kekecewaan itulah aku mendengar panggilan Tuhan. Sekarang, aku sudah bahagia dengan pilihan hidupku, menjadi seseorang yang membaktikan diri kepada Tuhan," sambung Daniel.
"Kamu, kamu___"
"Iya, aku tidak menikah," pungkas Daniel seolah tahu dengan apa yang aku pikirkan.
"Keyakinan kita berbeda, Kirana. Dalam keyakinanmu, menikah adalah hal wajib. Tapi, tidak dengan keyakinanku. Memilih selibat dan fokus dengan agama adalah pilihan yang mulia," sambung Daniel sebelum aku menyahut.
"Iya. Aku, aku turut bahagia dengan pilihanmu." Aku berusaha tersenyum. Rasanya masih canggung berbincang dengan Daniel, yang kini sudah menjadi tokoh agama.
Aku menunduk kala mendengar ucapan Daniel. Memang sangat berat menanggung aib yang sebesar itu, di mana dalam ijab kabul hanya menyebutkan nama ibu. Aku sudah pernah merasakannya dan itu sangat menyakitkan. Beruntung, Kak Darren dan keluarganya tulus menyayangiku sehingga tidak mempermasalahkan hal tersebut. Namun, belum tentu Dara mendapatkan lelaki seperti Kak Darren. Andai saja itu terjadi, pasti Dara sangat terpukul. Kasihan, dia tidak tahu menahu atas dosa yang kami perbuat, tetapi dia yang paling menanggung akibatnya.
"Mungkin, kehadiran dan kepergian Dara adalah cara Tuhan untuk menegur kita. Andai saja tidak ada Dara, pasti kita masih larut dalam dosa yang besar dan kita tidak akan berhenti menodai keyakinan masing-masing." Daniel kembali bicara.
"Iya, kamu benar." Aku mengangguk.
Kak Darren pun turut menyahut dan mengiakan ucapan Daniel.
"Maaf, dulu aku pernah mengganggu pernikahanmu. Sekarang, aku berjanji tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Aku sudah bahagia dengan hidupku dan aku akan teguh dengan pilihan ini." Daniel mengulas senyum lebar.
Tak lama kemudian, dokter dan seorang anak lelaki datang menghampiri kami. Daniel beranjak dan kemudian menyambutnya dengan ramah. Rupanya, dia datang ke klinik untuk mengantarkan anak tersebut.
Setelah berbincang dengan Daniel, dokter menanyakan keadaanku dan memintaku ke ruangan untuk diperiksa kembali.
"Semoga bayimu sehat sampai lahiran, Kirana," ujar Daniel sebelum aku masuk ke ruangan.
"Terima kasih," ucapku bersamaan dengan Kak Darren.
"Aku pergi dulu, semoga Tuhan senantiasa memberkati kalian." Aku dan Kak Darren tersenyum sambil mengangguk.
__ADS_1
Daniel membalikkan badan dan bersiap pergi. Namun, baru selangkah dia berjalan, aku kembali memanggil.
"Ada apa, Kirana?"
"Waktu itu, aku bertemu Tante. Beliau membawa bunga dan katanya akan ke makam," ucapku. Walau sedikit sulit untuk mengungkapkannya, tetapi aku benar-benar penasaran, siapa gerangan yang dikunjungi ibunya Daniel.
"Kamu tidak berpikir kalau itu aku, kan, Kirana?" tanya Daniel.
"Maaf," jawabku pelan.
Daniel tertawa, "Aku masih hidup, Kirana. Dan soal Mama, beliau mengunjungi cucunya."
"Cucu? Apakah Dara?" tanyaku dengan cepat.
"Iya." Daniel mengangguk.
Aku tersenyum dan setelah itu Daniel melanjutkan langkahnya. Ada perasaan lain yang membuatku bahagia. Seperti apa pun akhir hubunganku dengan Daniel, ibunya masih mau mengakui Dara dan bahkan mendatangi makamnya. Pantas saja, waktu itu kudengar teman beliau mengatakan 'turut prihatin' karena terlalu cepat meninggalkan dunia.
"Sekarang sudah lebih tenang, kan? Daniel sudah baik-baik saja dengan hidupnya, dia tidak melakukan hal bodoh karena kecewa denganmu." Kak Darren merangkulku dan mengusap lenganku.
"Iya, Kak, aku yang berlebihan," jawabku.
"Ya sudah, ayo masuk!" ajak Kak Darren.
Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya. Kami berdua memasuki ruangan dan menghampiri dokter yang sudah menunggu di sana. Aku disuruh berbaring dan beliau memeriksa tensi darah dan juga kondisi bayiku.
"Tekanan darah Ibu sangat rendah, ini yang memicu rasa pusing dan lemas. Nanti akan saya berikan vitamin dan tambah darah. Untuk janin, kondisinya sehat, hanya saja lebih kecil dari ukuran normal. Ibu harus rajin-rajin mengonsumsi makanan sehat, terutama susu, sebaiknya diminum dua kali sehari," terang dokter.
"Iya, Bu, akhir-akhir ini saya tidak na*su makan," jawabku.
"Awal kehamilan memang kebanyakan seperti itu, Bu, bahkan terkadang ada yang mual dan terus muntah." Dokter tersenyum lebar.
"Bu, beberapa hari lalu tamu saya masih datang, tapi hanya berupa flek. Kenapa bisa ya, Bu?" tanyaku penasaran. Karena dulu sewaktu hamil Dara, aku sama sekali tidak mengalami hal itu.
"Hal itu sering terjadi, Bu. Kebanyakan penyebabnya karena perubahan hormon. Namun, perlu diwaspadai juga jika berlangsung berhari-hari. Ibu berapa hari mengalami flek itu?"
"Sekitar tiga hari, Bu," jawabku.
"Mudah-mudahan saja itu bukan masalah karena tadi saya periksa kondisi janinnya cukup sehat. Namun, jika Ibu ragu sebaiknya pergi ke rumah sakit saja. Periksakan lebih lanjut karena di sana alamatnya lebih lengkap."
"Baik, Bu."
Usai diperiksa dan diberikan arahan, aku diberi beberapa vitamin dan tambah darah. Setelah itu, aku dan Kak Darren pamit undur diri. Menurut dokter, harus banyak istirahat agar kondisiku cepat pulih. Karena hal itu, aku dan Kak Darren memutuskan untuk menginap di Sandya Permai.
__ADS_1
Bersambung...