
"Kai, kamu nggak apa-apa?" tanya Kennan beberapa menit kemudian.
Tadi, Kaivan sedikit menjauh dari kawan-kawannya dan mereka masih fokus menenangkan diri masing-masing, sehingga tidak ada yang tahu perihal kejadian barusan. Kini, Kaivan gugup dan salah tingkah dengan kehadiran Kennan, yang kemudian disusul Elbi, Nakula, dan kawan-kawan yang lain.
"Aku ... aku ... aku nggak apa-apa, iya nggak apa-apa." Kaivan menunduk. Dia enggan menatap kawan-kawannya karena tiba-tiba wajahnya memanas. Entah mengapa bisa demikian.
"Syukurlah kalau kamu nggak apa-apa. Tadi kami khawatir karena melihatmu terpaku lama," timpal Nakula.
"Mungkin ... efek kejadian tadi, Kak. Sempat takut soalnya." Kaivan berusaha tersenyum. "Benarkah lama, tapi perasaan hanya hitungan detik. Ish, menyebalkan," sambungnya dalam hati.
"Kamu udah telpon Tante?" tanya Elbi.
"Mmm belum, ini masih mau nelpon." Kaivan kembali membuka tasnya dan menghidupkan ponsel yang tadi dimatikan.
__ADS_1
"Ya udah, buruan telpon gih! Biar nggak khawatir lagi. Tadi orang tuaku sampai nangis soalnya," kata Elbi.
Kaivan tersenyum masam dan kemudian menghubungi ibunya, sembari mengikuti langkah kawan-kawan—keluar bandara dan menuju hotel yang tak jauh dari sana. Kaivan sempat merasa bersalah karena membuat ibu dan adiknya menangis. Namun, apa bisa dikata, semua ini di luar kendalinya.
Tak lama kemudian, mobil yang dipesan Nakula sudah tiba. Mereka naik dan memasukkan semua barang. Kaivan memilih bangku yang paling belakang, di dekat jendela. Sepanjang perjalanan, dia memilih diam dan tak menyahut perbincangan kawan-kawan, yang membahas perihal masalah di pesawat. Kaivan sekadar membuang pandangan ke luar. Tanpa sadar, ingatannya tertuju pada gadis yang ditemuinya beberapa menit lalu.
"Perempuan-perempuan lain sangat ketakutan, tapi tidak dengannya. Dia bersikap biasa, seolah tidak terjadi apa-apa. Tegar sekali dia," batin Kaivan. Entah sadar entah tidak, dia telah memuji gadis itu.
____________________
Kaivan satu kamar dengan Kennan dan Elbi, sedangkan Nakula ada di kamar sebelah bersama Devan dan Vicki. Sementara tiga teman lainnya—Doni, Andre, dan Karel, mereka ada di lantai bawah.
Dari detik pertama menginjakkan kaki di sana, Kaivan belum banyak melakukan aktivitas. Dia sekadar berbaring sambil memainkan ponsel. Selain salat, tak ada lagi kegiatan yang dia lakukan. Dia mengabaikan makan, minum, dan menata barang walapun Kennan dan Elbi sudah mengajaknya.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih, Kai? Perasaan diem mulu dari tadi. Keluar yuk, nyari angin di depan! Ini sama Nakula dan yang lainnya juga," kata Kennan. Pandangannya sesekali menatap Kaivan, sesekali pula menatap layar ponsel.
"Kalian berdua aja deh, aku tunggu di sini. Capek, pengin istirahat," sahut Kaivan tanpa beranjak. Dia tetap tengkurap sambil memeluk bantal.
"Kamu udah dari tadi tiduran kayak gitu, masa masih capek aja. Manja!" cibir Kennan.
"Ayolah, Kai! Nggak asyik kamu." Elbi turut menimpali.
"Aku beneran capek. Aku tunggu di sini aja, ya, daripada besok nggak bisa ikut ke puncak." Kaivan menjawab sambil menatap kedua temannya.
Setelah beberapa saat saling membantah, akhirnya Elbi dan Kennan pasrah. Dia meninggalkan Kaivan dan membiarkannya seorang diri di kamar hotel.
Sepeninggalan mereka, Kaivan bangkit dan memandangi tas ranselnya. Dengan malas dia mengeluarkan barang-barang bawaan dan menatanya di meja, sekaligus menyiapkan barang yang dibutuhkan esok hari.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, gerakannya terhenti. Kaivan terpaku pada satu barang yang membuat jantungnya berdetak cepat.
Bersambung....