
Tawa riang dari arah kolam benar-benar mencuri perhatian. Andai saja tidak ada Athreya, mungkin aku sudah turun dan ikut bercanda dengan mereka. Bergabung dengan tiga lelakiku dan bermain air dengan asyik.
Pernikahanku dengan Kak Darren sudah genap satu dekade. Namun, perhatian dan curahan kasih sayangnya tak pernah pudar, justru makin meningkat sejak Athreya lahir. Pasalnya, pada saat itu aku kehilangan sosok yang amat-sangat berharga, yaitu Ibu. Beliau berpulang dua tahun yang lalu, sehari setelah Athreya lahir.
Athreya Azzahra adalah putri bungsu kami. Dia yang paling cantik di antara kedua saudaranya—Kaivan Diratama Alsaki yang kini berusia 8 tahun dan Reyvan Altan Arkatama yang kini berusia 5 tahun. Kendati dulu Kak Darren menangis dan katanya tidak tega melihatku melahirkan, tetapi nyatanya kami memiliki tiga buah hati.
Sebenarnya, di persalinan kedua aku sempat trauma karena posisi Reyvan melintang dan harus dioperasi. Kala itu aku hanya pasrah, sembari berpikir untuk tidak hamil lagi di kemudian hari. Namun, sikap dan perhatian Kak Darren meluluhkanku. Caranya memperlakukan aku ketika hamil dan melahirkan laksana candu yang ingin kurasakan setiap waktu. Alhasil, aku dengan senang hati menuruti keinginanannya memiliki anak ketiga.
Masih kuingat jelas, betapa bahagia raut wajah Kak Darren ketika Athreya lahir. Karena harapannya, anak ketiga kami memang perempuan. Masih teringat pula, bagaimana dia mengasuh setiap malam, membuatkan susu dan menggendongnya hingga tertidur. Dia tak pernah marah walau saat itu aku tak bisa menjadi ibu yang sempurna.
Setelah Ibu tiada, kesehatanku memburuk dan dirawat di rumah sakit selama dua minggu. Itu sebabnya, aku tidak bisa mengasuh atau memberikan ASI untuk Athreya. Kak Darren-lah yang mengambil alih peranku. Dia cuti untuk sementara waktu demi aku dan anak-anak.
"Keputusan terbaik dalam hidupku adalah menerima pinangannya dan menikah dengannya." Aku membatin sambil menilik raut wajah Kak Darren. Tak peduli meski dia menyadarinya, aku sama sekali tak ada niatan untuk mengalihkan tatapan.
__________________________
Jarum jam menunjukkan pukul 09.00 malam, aku mendatangi Kak Darren di ruang kerjanya. Selain mengantarkan kopi, aku juga menyuruhnya beristirahat.
"Athreya sudah tidur?" tanyanya ketika cangkir kopi sudah kuletakkan.
"Sudah, Kak."
Aku hendak duduk di hadapannya, tetapi gagal karena Kak Darren menggenggam tanganku dan menarikku ke pangkuannya.
"Tadi siang terpesona, ya?" Dia mengedipkan sebelah mata, mungkin sengaja menggoda.
"Mana ada, cuma memandang doang, ge er ih." Aku tertawa renyah.
"Bagitukah? Sayang sekali. Padahal, aku berharapnya kamu terpesona, Sayang. Seperti aku yang selalu terpesona sama kamu," ujar Kak Darren.
__ADS_1
Dia merengkuh pinggangku dengan erat, juga menenggelamkan wajah di ceruk leherku. Beberapa detik kemudian, dia memberikan kecupan-kecupan kecil di sana hingga menghadirkan sensasi hangat yang tak biasa.
"Kak!" panggilku karena tangannya makin sembarangan.
"Aku menginginkannya, Sayang," bisiknya tepat di telingaku.
Aku tak menyahut, sekadar mengusap rahangnya sambil memberikan tatapan sayu. Seolah mengerti dengan maksudku, Kak Darren langsung mendekatkan wajahnya.
Hangat napas yang kurasakan dengan jelas membuatku tak bisa menolak dengan apa pun yang diberikannya. Ah, Kak Darren, selalu sukses membawaku terbang ke awang-awang. Pembawaannya lembut, elegan, dan berkesan, benar-benar menjerat dan meluluhkan. Aku sama sekali tak ada daya untuk menolaknya.
Ketika segalanya berjalan makin jauh, tiba-tiba pintu dibuka dari luar dan diiringi teriakan.
"Papa! Papa!" teriak Kai dan Rey sambil berlari memasuki ruangan.
Aku dan Kak Darren langsung bergerak refleks, saling menjauh dan mengusap bibir yang terlanjur basah, juga membenarkan pakaian yang sedikit anu.
"Kan yang Kakak tanyakan Athreya, kalau mereka ya belum, tadi masih main di kamar Bunda," jawabku juga dengan bisikan.
"Ah, kamu menyiksaku, Sayang." Kak Darren mengusap wajahnya dengan kasar, lantas menyambut Kai dan Rey yang sudah berdiri di hadapannya.
"Pa, ayo tidur! Aku mau tidur sama Papa!" rengek Kai dan Rey.
"Ta-tapi, Sayang___"
"Ayolah, Pa! Masa tiap hari sama Oma terus," pungkas Kai.
"Kami kangen Papa, pengin tidur sambil meluk Papa!" timpal Rey.
"Kak, turuti saja! Udah malem loh, daripada mereka nggak tidur-tidur," ucapku.
__ADS_1
"Tapi, Sayang, kamu tahu kan kalau___"
"Masih ada hari esok, Kak," pungkasku dengan bisikan.
"Tapi ... ah, sudahlah!" Kak Darren menyerah dan mengikuti kemauan anak-anak.
Usai meneguk kopi, Kak Darren melangkah pergi meninggalkan ruangan, sedangkan aku masih merapikan mejanya. Ketika tiba di ambang pintu, Kak Darren menoleh dengan raut wajah yang memelas. Aku sekadar tersenyum, merasa lucu saat membayangkan perasaannya yang nano-nano.
Terima kasih masih berkenan mampir di Extra Part novel Noda. Mungkin, terlalu singkat dan anunya nggak anu. Tapi, intinya begitulah. Darren dan Kirana punya tiga anak. Keluarganya harmonis dan mereka bahagia selalu walau sempat sedih karena ibunya Kirana meninggal.
Untuk buku baru, saat ini aku belum ada publish. Tapi ... aku mau nulis kisah Kaivan. Judulnya tetap Noda, tetapi kisahnya sangat berbeda dengan Daniel dan Kirana. Kalau Noda (Kirana—Daniel) lebih ke 'menodai keyakinan', kalau Noda 2 lebih ke 'menodai cinta'. Cara pembawaan pun nanti berbeda. Tidak menggunakan POV 1 seperti sebelumnya, tetapi menggunakan POV 3.
Aku lanjut di buku ini saja karena pemeran utama adalah anaknya Kirana. Biar nggak jelasin lagi gimana latar belakang keluarganya.
Semoga masih ada yang berkenan mengikuti kisah Kaivan Diratama Alsaki.
Untuk blurb aku up besok yah,, dan untuk episode-episodenya, Insha Allah akan up secepatnya.
Terima kasih.
__ADS_1