
Kaivan sedikit memicing, menahan perasaan yang sangat tidak nyaman. Nomor yang tertera di ponsel Luna adalah nomor Nadhea yang sudah tidak aktif sejak dua bulan lalu. Selain kecewa karena tidak mendapat petunjuk tentang Nadhea, Kaivan juga kecewa karena lagi-lagi Luna berdusta. Sekarang Kaivan yakin, Luna tidak pernah menghubungi Nadhea dan hubungan mereka masih sama buruk seperti dulu.
"Kai!" panggil Luna.
Kaivan bergumam sambil menoleh. Luna mengernyit ketika beradu pandang dengan Kaivan, pasalnya wajah tampan itu tampak kesal. Dalam sorot matanya pun tersirat kekecewaan. Ada apa gerangan?
"Besok, kamu ada acara nggak?" tanya Luna. "Salah satu relasi ada yang tunangan dan aku diundang. Temani aku, ya."
Kaivan menghela napas panjang, "Sorry, aku nggak bisa, Luna. Besok jadwalku padat, ada pemotretan di acara pernikahan."
"Baiklah, aku mengerti." Luna tersenyum sambil mengusap-usap bahu Kaivan. Saat ini, dirinya ada di posisi salah, harus pandai-pandai mengambil hati Kaivan.
Beberapa detik kemudian, Luna bersiap turun. Namun, tangannya ditahan oleh Kaivan. Luna menatap lekat, sedangkan Kaivan justru menunduk.
"Minggu depan aku ke luar kota. Ada pemotretan di sana," ucap Kaivan.
Sebenarnya, dia sedikit ragu untuk mengungkapkan hal itu, takut bila nanti Luna cemburu. Walaupun gadis itu sudah banyak mengecewakan, tetapi tak dipungkiri hatinya masih sangat mencintai. Meski terkadang hubungannya terasa hambar, tetapi Kaivan juga tak sanggup melepaskan. Nama Luna sudah melekat erat dalam ruang hati.
"Ke luar kota? Ke mana?" tanya Luna.
"Bandung," jawab Kaivan dengan suara yang lebih lirih.
"Bandung?" Luna mengulangi ucapan Kaivan dengan intonasi tinggi.
Melihat Kaivan yang sekadar mengangguk pelan, Luna berpaling sambil mengerjap cepat. Perasaannya mendadak bergejolak. Bandung adalah tempat tinggal Nadhea, Luna khawatir mereka akan bertemu. Jujur, dia sangat cemburu dengan Nadhea. Walaupun saudaranya itu sudah menikah dan secara fisik tidak lebih baik darinya, tetapi melihat sikap Kaivan yang kerap membela, Luna sering waswas.
"Bandung mana?" Luna kembali bertanya.
__ADS_1
"Aku nggak nanya alamat detailnya, tahuku cuma Bandung gitu aja. Tapi, aku nggak sendiri, ada Kennan, Pak Chandra, dan crew lain juga." Kaivan tak berani jujur karena takut alamat yang akan dituju tak jauh dengan alamat Nadhea.
"Berapa lama di sana?"
"Mungkin dua sampai tiga hari," jawab Kaivan.
"Bandung luas, untuk waktu yang sesingkat itu kemungkinan besar mereka nggak akan bertemu. Aku harus sering-sering menelepon Kaivan, kupastikan kalau dia nggak macam-macam di sana," batin Luna, berusaha menenangkan diri.
Andai minggu depan tidak ada rapat penting dengan relasi, Luna akan memilih ikut. Namun sayang, kesibukan menahannya.
"Kenapa?" tanya Kaivan setelah Luna diam cukup lama.
"Nggak apa-apa, hanya ... ah, pasti nggak enak nahan rindu, jauh dari kamu."
"Hanya beberapa hari, Luna."
"Aku tahu, tapi entahlah. Bawaannya pengin dekat-dekat terus sama kamu." Luna beringsut dan menyandarkan kepala di dada Kaivan. "Aku sangat mencintai kamu, Kai. Aku udah nggak sabar nikah sama kamu dan hidup bareng kamu. Semoga semuanya lancar ya, Kai," sambungnya.
"Iya," bisik Kaivan sembari mengecup puncak kepala Luna.
___________________
Di tengah gemerlap lampu dan dekorasi yang glamour, Luna berjalan dan berbaur dengan para tamu. Dalam balutan gaun panjang warna merah maroon dan high hells warna senada, postur tubuh Luna tampak sempurna. Terlebih lagi, rambut panjangnya disanggul rapi, sehingga leher jenjang nan mulusnya terpampang jelas. Sangat memesona, bahkan beberapa pasang mata terpukau dengan tampilannya.
Karena Kaivan tak bisa menemani, Luna datang bersama Aryana—teman dekatnya. Aryana adalah desainer ternama yang sering go Internasional.
Luna dan Aryana minum bersama usai memberikan selamat pada sang pemilik acara.
__ADS_1
Ketika mereka masih minum dan berbincang, tiba-tiba ada lelaki yang menyapa Aryana. Keduanya terlihat akrab, bahkan sampai mengabaikan keberadaan Luna.
Sebelum Luna melayangkan protes, Aryana justru meminta izin untuk pergi bersama lelaki itu. Kendati kesal dan kecewa, tetapi Luna mengiakan permintaannya.
"Dasar teman nggak ada akhlak!" Luna mengumpat sambil menatap punggung Aryana yang makin menjauh.
Sebenarnya, di acara itu banyak orang yang dikenal, tetapi tidak ada yang akrab. Sebatas hubungan bisnis belaka. Oleh karena itu, Luna sekadar menyapa dan berbasa-basi, tidak berbincang banyak.
"Percuma datang sama teman, ujung-ujungnya sendirian," gerutu Luna. Lantas, dia berjalan menuju sudut ruangan dan duduk di sana.
Luna memainkan gelas minumannya sambil menatap lalu lalang tamu. Entah yang berbincang-bincang atau yang sedang minum dan menikmati dessert. Karena terlalu membosankan, Luna mengambil ponselnya dan menghubungi Kaivan. Namun, tidak ada jawaban.
"Ah, semua menyebalkan!" batin Luna dengan kesal. Kemudian, dia beranjak dan hendak keluar ruangan.
Akan tetapi, langkahnya terhenti sebelum jauh dari posisi semula.
"Aluna Aldamaya!" panggil seseorang dari belakang. Sebuah suara yang sukses membuat Luna terperanjat.
"Apa kau masih mengenali suaraku?" Ia kembali bersuara sambil melangkah mendekati Luna.
Jantung Luna berdetak cepat, antara percaya dan tidak bahwa itu suara seseorang yang pernah dikenalnya.
"Tidak mungkin! Dia tidak mungkin ada di sini!" batin Luna.
"Aluna, gadis kecil yang liar." Seseorang itu tersenyum miring sambil menggenggam bahu Luna.
Wajah Luna memerah. Sekarang dia yakin siapa yang datang. Dari dulu sampai sekarang, hanya satu orang yang menyebutnya 'gadis kecil yang liar'. Dengan gerakan cepat, Luna menoleh dan menepis tangan orang itu.
__ADS_1
"Untuk apa kau datang ke sini?" bentak Luna.
Bersambung...