
Aku masih mencintaimu dan sanggup menjagamu dengan baik, tidak seperti dia.
Lagi-lagi bisikan Daniel terngiang di telingaku. Meskipun itu sudah kemarin, tetapi menyita pikiran hingga saat ini. Aku terus bertanya-tanya, apa maksud ucapannya.
"Sayang, kenapa duduk di luar? Udaranya dingin lho, nanti kamu masuk angin," tegur Kak Darren, yang entah sejak kapan berdiri di sampingku.
"Suntuk berbaring terus, Kak," jawabku.
Setelah melihat pemakaman Dara, aku menolak kembali ke rumah sakit, justru meminta pulang dan beristirahat di rumah. Awalnya Kak Darren tak mengizinkan, tetapi akhirnya luluh jua setelah aku meminta berulang kali. Dokter pun sebenarnya keberatan karena kondisiku belum membaik. Namun, Kak Darren menjelaskan dengan panjang lebar dan akhirnya rumah sakit memberikan izin.
"Makan dulu yuk, sejak pagi kamu belum makan, Sayang." Kak Darren duduk di sebelahku dan menggenggam tanganku.
"Aku belum lapar, Kak." Aku menjawab sambil menatapnya sekilas.
Setelah itu, hanya keheningan yang menyelimuti kami dan sesekali embusan napas Kak Darren yang terdengar kasar.
Tak lama kemudian, genggamannya di tanganku mengerat dan sedikit bergetar. Aku menoleh dan kembali menatapnya, Kak Darren menunduk dengan sedikit memejam.
"Maafkan aku, Sayang. Tidak bisa menjaga kamu dan Dara ... aku bodoh," ucapnya dengan lirih.
"Jangan mengungkit hal itu, Kak, aku tidak menyalahkan kamu." Aku menyahut sambil membalas genggamannya.
"Tapi kenyataannya aku memang salah, semua ini terjadi karena Amanda, dan dia adalah masa laluku." Kak Darren makin menunduk.
__ADS_1
Kugeser posisi dudukku hingga merapat di tubuhnya, lantas kurangkul bahu kekar itu dengan erat. Sebelum membuka suara, aku menata perasaan terlebih dahulu. Entahlah, mendengar ucapan Kak Darren yang serupa dengan Daniel, membuatku teringat dengan bisikan kemarin.
"Ah, enyahlah dari ingatan! Aku sudah tak pantas memikirkan itu," batinku.
"Aku bodoh, Kirana!" Lagi-lagi Kak Darren merutuki dirinya.
"Kak, jangan terus menyalahkan diri sendiri. Amanda memang masa lalumu, tapi aku tahu ini di luar kendalimu. Jadi tolong ... jangan terus mengungkit hal itu," ucapku dengan sedikit tegas.
Jujur, aku tidak suka bila Kak Darren menyalahkan dirinya. Bukan tanpa alasan, tetapi aku tidak ingin hatiku turut membenarkan. Sesungguhnya, sejak mendengar ucapan Daniel kemarin, pemikiran itu terselip juga di sudut hatiku. Aku tahu itu tak masuk akal, oleh karenanya aku berusaha menepis sejauh mungkin. Ah, kehilangan, terkadang memang membuat seseorang berpikir di luar logika.
"Tapi___"
"Kak, kita sudah cukup sakit karena kehilangan Dara. Tolong jangan menambah sakit itu dengan hal lain," pungkasku dengan cepat.
Lima menit kemudian, Kak Darren menoleh ke arahku. Ia menatap lekat dengan bibir yang bergerak-gerak, seakan hendak bicara, tetapi kesulitan memulainya.
"Kenapa, Kak?" tanyaku.
"Sa-sayang___"
"Kenapa?" Aku mengulangi pertanyaan karena Kak Darren tak jua menyampaikan maksudnya.
"Kulihat kemarin ... kemarin ... Daniel membisikkan sesuatu. Apa yang dia katakan?" tanyanya dengan sedikit gugup.
__ADS_1
Aku kesulitan menelan ludah, mengapa harus hal ini yang ditanyakan?
Perlahan otakku kembali buntu, terpaku pada bisikan Daniel yang menyiratkan banyak arti. Karena aku diam dalam waktu yang lama, Kak Darren mengulangi pertanyaan, dan kini sambil menangkup pipiku.
"Sayang!" panggilnya.
"Tidak ada, Kak." Aku menggeleng. "Dia hanya menyuruhku berhati-hati, katanya ... bisa jadi Amanda menyusun rencana lain," sambungku.
"Begitu ya?"
Aku mengangguk dengan perasaan yang berkecamuk. Entah mengapa aku memilih berdusta, padahal jujur yang lebih mulia.
"Sudahlah, mungkin ini terjadi karena aku sedang kalut. Dara terlalu berharga, jadi aku sangat rapuh ketika dia tiada," ucapku dalan hati.
"Aku berjanji akan menjaga kamu dengan lebih baik lagi. Aku akan berusaha keras agar kejadian seperti ini tidak terulang di waktu nanti. Aku sangat mencintaimu, Sayang." Ucapan lembut Kak Darren mengalun merdu, bersamaan dengan pelukan hangat yang tiba-tiba menyelimuti tubuhku.
Sejenak kurasakan kedamaian yang tiada duanya. Namun, pikiran-pikiran buruk kembali menganggu tanpa tahu malu. Lantas, aku memejam dan menyandarkan kepala di dadanya. 'Aku mencintainya', dua kata yang tak henti-hentinya kugumamkan dalam batin. Dua kata yang kugunakan untuk melawan bisikan-bisikan syetan yang menyusup dalam hati—dia yang menyebakan Dara mati.
Makin lama, perasaanku makin tak karuan. Di satu sisi menyalahkan Kak Darren, sedangkan di sisi lain membela dan menegaskan perasaan.
"Mengapa kali ini ucapan Daniel sangat memengaruhiku?" batinku dengan penuh tanya.
Bersambung...
__ADS_1