Noda

Noda
Menyelamatkan Nadhea


__ADS_3

Jarum jam sudah menunjuk tepat di angka empat. Sang surya pun mulai condong ke arah barat. Namun, Kaivan belum tiba di kediaman Nadhea. Dia masih duduk di kantor polisi, menunggu laporannya diluluskan oleh sang petugas. Bermodalkan pesan chat dan buku 'Sayap-Sayap Patah', tidak mudah bagi Kaivan untuk mengurus masalah itu. Bukti yang dia bawa kurang cukup.


[Kaivan, aku Nadhea. Grey adalah akunku dan 'Sayap-Sayap Patah' adalah novelku. Apa yang kutulis dalam novel itu adalah nyata. Karena sedikit kesalahan, sekarang Arsen sangat marah. Aku tidak mau mati, tolong aku, Kaivan.]


Kaivan kembali memandangi pesan yang dikirimkan Nadhea. Dia juga menatap alamat yang tersemat dalam chat kedua. Kaivan menggigit bibir, resah dan gelisah membayangkan apa yang kira-kira dialami Nadhea saat ini.


"Andai saja Luna mau mendengarku, mungkin Nadhea tidak sesulit ini. Luna, kenapa kamu tidak bisa berubah?" batin Kaivan.


"Pak Kaivan!"


Panggilan polisi menyadarkan Kaivan dari lamunan. Dengan cepat dia mendongak dan memandang polisi yang duduk di hadapan. Kaivan berharap ada titik terang terkait laporannya. Sejak pagi, dia rela meninggalkan Athreya yang belum sadar, juga ibunda yang masih terbaring lemah. Sangat disayangkan bila semua berakhir sia-sia.


"Dari hasil penyelidikan, pemilik nomor tersebut memang Arsen William Osric dan Nadhea Queenaya adalah istri sahnya."


"Jadi, laporan saya bisa diterima?" tanya Kaivan.


"Iya, dan kami akan menyelidikinya sesegera mungkin."


Jawaban polisi membuat Kaivan bernapas lega. Dia harap semuanya belum terlambat. Setelah bersiap-siap beberapa saat, Kaivan dan empat orang polisi beranjak. Mereka bergegas menuju kediaman Arsen. Sebenarnya, ada alasan lain yang membuat polisi meluluskan laporan Kaivan, yakni catatan hukum terkait tindakan Arsen pada waktu silam.


Dulu, Arsen pernah menjadi tersangka pembunuhan terhadap seorang gadis yang bernama Titania Putri. Namun, saat itu tidak ada bukti yang kuat, bahkan ketika pemeriksaan sudah dilakukan. Akhirnya, polisi memutuskan bahwa Arsen tidak bersalah. Kematian Titania Putri murni tindakan bunuh diri.


Senja sudah padam ketika Kaivan dan polisi tiba di depan rumah Arsen. Lelaki kekar yang berada di depan pagar langsung pucat melihat kedatangan mereka.


"Ada apa ya, Pak?" sapanya dengan gugup.


"Apakah benar ini rumah Bapak Arsen William Osric?"


"Iya, Pak. Tapi, beliau sedang tidak ada. Masih di kantor," dusta lelaki itu.


"Anda tahu konsekuensinya jika mengelabuhi kami?" Polisi bicara tegas dan hal itu membuat lawan makin gemetaran.

__ADS_1


"Saya hanya menjalankan perintah. Saya butuh uang untuk menghidupi anak istri, Pak. Tolong jangan libatkan saya!" Lelaki itu menunduk takut, lalu menjabarkan semua masalah yang terjadi antara Arsen dan Nadhea.


Setelah mendapatkan penjelasan, Kaivan dan polisi memasuki halaman rumah Arsen. Mereka berjalan menuju pintu utama. Setelah mengetuk berkali-kali, wanita paruh baya membukanya.


"Ada apa, Pak?"


"Saya ingin bertemu dengan Pak Arsen."


Sebelum wanita itu menjawab, seorang pria berewok datang menghampiri mereka. Matanya melebar ketika melihat Kaivan datang bersama polisi. Pria itu mengusap wajah guna menyembunyikan kegugupan. Lantas, menyuruh si wanita pergi ke belakang agar tidak mengacaukan jawaban.


"Maaf, Tuan Arsen tidak ada di rumah," ucap pria itu ketika polisi menanyakan keberadaan Arsen.


"Benarkah? Tapi, bapak yang ada di depan mengatakan bahwa Pak Arsen sudah pulang. Mana yang harus kami percaya?" sahut salah seorang polisi.


"Melindungi seseorang yang melakukan tindak kejahatan bisa dikenakan sanksi. Apa Anda tidak paham akan hal ini?" sambung polisi yang paling muda.


"Saya tidak bermaksud melindungi. Yang saya katakan adalah fakta, beliau memang tidak ada. Bapak yang di depan belum lama tiba, karena tadi siang kawannya yang berjaga. Mungkin, dia kurang paham dan mengganggap Tuan Arsen sudah pulang karena mobilnya ada di garasi. Padahal, mobil itu saya yang membawa karena baru diservis. Tadi, Tuan Arsen berangkat ke kantor dengan taxi."


"Angkat!" perintah polisi.


Dengan ragu pria itu mengusap tombol hijau. Lantas, dia segera bicara agar Arsen menyadari situasinya.


"Apakah Anda masih ada pekerjaan, Tuan? Ini___"


"Bawakan pisau dan jeruk nipis ke kamar atas!"


Wajah pria itu memucat ketika Arsen memungkas kalimatnya. Apa yang disembunyikan sudah terungkap. Mungkin, sebentar lagi riwayatnya akan tamat.


"Baik, Tuan," jawabnya dengan gugup.


"Antar kami ke tempat tuanmu!"

__ADS_1


Pria itu menunduk pasrah ketika tangannya diborgol. Tidak mungkin bisa melawan, jadi dia menurut dan menjawab jujur apa pun yang ditanyakan polisi, termasuk keterlibatannya dalam kejahatan sang majikan.


Tak lama kemudian, mereka tiba di lantai dua. Pria itu membuka pintu kamar Arsen yang ditutup, tetapi tidak dikunci. Lantas, dia memberitahukan bahwa Arsen menyekap Nadhea di kamar mandi. Setelah tiba di sana, pria itu mengetuk pintu dan memanggil tuannya.


"Tuan, ini pisaunya!"


Lima detik berselang, pintu dibuka dari dalam. Tampak di sana Arsen sedang membelalak. Wajah yang semula tegas mendadak pias.


"Angkat tangan!" teriak polisi sembari menodongkan senjata api.


Arsen mengangkat tangan sambil melangkah mundur. Matanya berkilat ketika menatap Kaivan. Arsen sangat emosi, tetapi tak bisa melakukan apa pun. Pistolnya ada di laci kamar, sedangkan dirinya terjebak di kamar mandi. Selain itu, keadaan Nadhea akan menjelaskan semuanya. Istrinya itu diikat di kursi dengan pakaian yang minim. Tampak jelas lebam dan memar yang ada di sekujur tubuh, juga sudut bibir yang kini mengeluarkan darah. Jadi, mana bisa dia memberontak.


"Anda ditahan dengan kasus kekerasan dan penganiyaan dalam rumah tangga. Jelaskan tindakan kriminal Anda di kantor polisi." Polisi berkata sambil memborgol tangan Arsen.


"Pak, saya bisa___"


"Jalan!"


Arsen tak bisa berkutik ketika polisi memaksanya berjalan meninggalkan ruangan. Dia dan bawahannya digiring keluar dan dimasukkan ke mobil polisi, pun dengan wanita paruh baya dan lelaki yang berjaga di pintu gerbang. Mereka semua dibawa dan akan dimintai keterangan terkait kejahatan yang terjadi di kediaman Arsen.


Sementara itu, salah seorang polisi masih berada di lantai atas. Dia dan Kaivan membantu melepaskan Nadhea yang keadaannya sudah memprihatinkan.


"Maaf, aku datang terlambat," ucap Kaivan. Ada nyeri di lubuk hati saat melihat keadaan Nadhea.


Ketika semua tali sudah dilepas, Kaivan mengangkat tubuh Nadhea dan membawanya keluar dari kamar mandi. Dia menyambar selimut yang ada di ranjang dan menutupkannya di tubuh Nadhea. Bersama polisi, Kaivan akan membawa Nadhea ke rumah sakit.


"Terima kasih, Kaivan," bisik Nadhea sebelum tiba di mobil.


Detik berikutnya, kepanikan Kaivan makin menjadi. Pasalnya, mata Nadhea memejam dan kepalanya terkulai begitu saja. Ketika merapatkannya di dada, tak ada kehangatan yang Kaivan rasa. Tubuh Nadhea amat dingin, seakan tak ada aliran darah di sana.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2