
Pada sore hari, di sudut Kota Malang. Kaivan duduk kesal di sofa, di ruang keluarga. Meski matanya menatap tajam ke arah TV, tetapi pikirannya menerawang jauh ke segala arah.
Semalam, Kaivan sangat senang ketika Nadhea menelepon dan berkata akan berkunjung. Bahkan, malam-malam dia rela belanja demi menyiapkan jamuan. Namun, alangkah terkejutnya dia ketika tadi pagi Nadhea membatalkan niat.
Awalnya, Kaivan masih positive thinking. Mungkin, di Bandung memang ada masalah yang mendesak. Akan tetapi, makin ke sini Kaivan makin kesal. Pasalnya, Nadhea mengabaikan telepon dan pesan darinya. Sampai detik ini, pukul 04.00 sore, Nadhea belum memberikan kabar. Sekadar satu pesan balasan 'iya' yang dikirimkan padanya.
"Manyun banget sih, Kak?" tegur Athreya sembari mendaratkan tubuhnya di samping Kaivan.
"Loh, bukannya tadi ikut Mama?" tanya Kaivan sedikit heran.
Dua jam yang lalu, Kirana pergi ke Romantic Resto, membantu karyawan di sana mempersiapkan acara nanti malam—ada pelanggan yang menyewa Romantic Resto untuk acara ulang tahun.
Athreya tersenyum, "Enggak jadi, aku tidur."
Kaivan mengernyit, antara percaya dan tidak dengan jawaban Athreya.
Detik berikutnya, mereka saling berbincang. Namun, obrolannya simpang siur dan tidak nyambung. Maklum, Athreya sembari sibuk dengan ponsel, sedangkan Kaivan sibuk dengan pikirannya.
"Kak, aku ke dapur dulu ya, laper," ucap Athreya beberapa saat kemudian. Dia beranjak dan meninggalkan Kaivan, tak lupa ponselnya dibawa serta.
Setelah Athreya pergi, Kaivan kembali melihat ponselnya. Tak ada pesan ataupun telepon dari Nadhea. Hal itu membuat kekesalan Kaivan makin menjadi.
"Sesibuk apa sih, sampai nggak ada waktu buat ngabarin, nggak tahu apa kalau aku kesel, " umpat Kaivan.
__ADS_1
"Tadi manyun, sekarang marah-marah. Kenapa sih, Kak?" Athreya kembali menegur. "Makan ini aja loh, enak banget," sambungnya.
Kaivan menoleh dan menatap sepiring mie instan yang dibawa Athreya. Aromanya sedap dan membangunkan cacing dalam perut Kaivan—cacing yang sedari pagi belum diberi makan.
"Kayaknya enak," ujar Kaivan ketika menatap Athreya menyuap mie dengan lahap.
"Mau?"
"Boleh."
Kaivan mengambil sepiring mie yang disodorkan Athreya, lantas menyantapnya dengan lahap. Di sampingnya, Athreya tersenyum, kemudian beranjak.
"Aku bikin lagi, ya, Kak."
Tanpa menunggu lama, Athreya pergi menuju dapur dan meninggalkan ponselnya. Dia tak khawatir karena pikirnya hanya sebentar.
Akan tetapi, tiga puluh detik setelah pergi, ponsel Athreya berdering. Kaivan yang sedang makan langsung menoleh, dan keningnya mengernyit ketika menatap nama 'Kak Kennan'.
"Kennan." Kaivan meletakkan piringnya dan mengambil ponsel milik Athreya. Benar saja, gambar profil yang tertera di sana memang foto Kennan. "Ngapain dia telpon Reya?" sambungnya.
Tanpa menunggu lama, Kaivan langsung mengusap tombol hijau. Sebelum dia bicara, suara sang sahabat terlebih dahulu menyambut dengan cepat.
"Reya, terima kasih banyak untuk hari ini. Aku sangat senang, kamu mau tertawa saat aku menuruti keinginanmu. Aku berharap, saat-saat seperti tadi dapat terulang lagi di lain hari. Athreya, tolong pertimbangkan aku, ya?"
__ADS_1
Kaivan menjauhkan ponselnya sambil menganga. Dia tak habis pikir dengan ucapan Kennan barusan. Sedetik pun dia tak pernah menyangka bahwa seseorang yang membuat Kennan luluh adalah adiknya sendiri.
"Ternyata Reya," batin Kaivan. Lantas, dia mengingat-ingat sikap Kennan sewaktu Athreya sakit.
"Ternyata perhatiannya bukan karena menganggap Reya adik, melainkan karena dia mencintai Reya," sambung Kaivan masih dalam batin.
"Reya! Hallo, Reya! Kamu baik-baik saja, kan?" Suara Kennan kembali terdengar dari seberang.
Bukannya menyahut, Kaivan justru mengakhiri sambungan telepon. Selagi keterkejutannya belum usai, Kennan sudah mengirimkan pesan. Yah, lelaki yang dilanda cinta memang sangat sigap.
[Reya, maaf ya kalau telponku tadi menganggu.]
Melihat Kennan yang sangat berhati-hati, ide jahil Kaivan mendadak muncul di otaknya.
[VC dong, 😘😘😘😘]
Kaivan tersenyum miring saat menatap pesannya sudah terkirim dan centang biru. Dua detik kemudian, ponsel Athreya kembali berdering—Kennan video call.
Sebelum mengusap tombol hijau, Kaivan terlebih dahulu ambil posisi. Dia mendekatkan wajahnya ke layar ponsel, lantas memelotot tajam. Kemudian dengan sekali gerakan, Kaivan menerima video call dari Kennan.
"Astaga!" teriak Kennan dari seberang sana. Bersamaan dengan itu, layar ponsel Athreya hanya menampilkan langit-langit kamar. Mungkin, ponsel Kennan terlempar karena terlalu kaget.
Bersambung...
__ADS_1