
Sekelebat bayangan masa silam, kembali melintas dalam ingatan. Masa dimana aku sangat bodoh dan tunduk dengan yang namanya cinta. Hanya percaya pada sebuah rasa, aku rela melepas mahkota yang seharusnya kujaga. Kubiarkan diriku ternoda, ternista, dan terkubur dalam lembah dosa, padahal saat itu aku tahu, jika aku dan Daniel berbeda. Aku terlalu naif, menganggap dia akan mengorbankan keyakinannya, demi aku.
"Jangan murung, Putri. Tersenyumlah, aku adalah peri kecil yang akan mengabulkan permintaanmu."
Aku terjaga dari lamunan, aku mendongak dan menatap kupu-kupu kecil yang hinggap di atas kelopak mawar. Dia mengepakkan sayapnya yang berwarna biru cerah, sangat indah. Belum puas aku memandangnya, tiba-tiba dia terbang tinggi. Menari bebas di awang-awang, bersama kawan-kawan.
"Yahh terbang," keluh Reza.
Aku beralih menatapnya, gurat kekecewaan tampak jelas di wajahnya. Aku tersenyum geli, tak menyangka jika seorang Reza bisa se-melow itu hanya karena kupu-kupu.
"Ekspresimu lucu," ucapku, tanpa berhenti tertawa.
Reza tak menjawab, dia hanya menatapku lekat-lekat. Aku pun membalas tatapannya, aku berusaha menyelami kemelut yang bersarang di sana. Namun nihil, aku tak berhasil menjamah apa yang tersirat di dalam netranya.
"Aku senang bisa membuatmu tertawa," kata Reza, tanpa mengalihkan pandangan.
______
Bangunan kokoh yang sebulan terakhir aku tempati, kini sudah tampak jelas di depan mata. Aku tersenyum, bisa kembali menapakkan kaki di rumah ini. Sudah dua hari aku dirawat di rumah sakit, dan itu sangat membosankan. Selama itu, Reza-lah yang setia menemaniku. Dia rela tidak masuk kuliah, karena tidak tega meninggalkan aku sendiri.
"Ayo!" Reza mengulurkan tangannya dan membimbingku turun dari mobil.
Dia merangkul tubuhku, dan membawaku masuk ke rumah.
"Langsung ke kamar apa di sini aja?" tanya Reza, ketika kami sudah tiba di ruang tengah.
__ADS_1
"Di sini aja," jawabku. Lantas dia membimbingku duduk di sofa.
"Aku tadi beli ini." Reza mengeluarkan dua kotak susu khusus untuk ibu hamil. "Kata Dokter, kamu harus sering minum ini, agar bayinya tumbuh sehat," sambungnya.
"Itu berapa harganya?" tanyaku dengan pelan.
"Ra, aku tidak minta uang ganti," jawab Reza.
"Tapi, Za___"
"Aku senang bisa membantu kamu," pungkas Reza.
Aku menghela napas panjang, dan mengembuskannya dengan kasar. Aku menunduk, sembari memilin ujung taplak yang menjuntai. Aku berhutang banyak pada Reza. Dia sudah menanggung biaya rumah sakit, yang aku yakini tidaklah sedikit. Selama aku dirawat, kerap kali dia membelikan buah-buahan, dan sekarang dia juga membelikan susu untukku. Mengapa dia melakukan ini?
"Kenapa, hemm?" Reza meraih daguku dan memaksaku untuk menatapnya.
"Kirana, jika kamu menganggap aku ada dalam hidupmu. Please, jangan menolak bantuan dariku," kata Reza.
"Tapi, Za___"
"Duduk yang manis dan aku akan membuatkan susu untukmu. Jangan ke mana-mana, tunggu aku di sini." Reza beranjak dan membawa kotak susu ke dapur.
"Reza, tunggu!" teriakku, ketika dia hampir menghilang di balik dinding penyekat.
"Ada apa?" tanyanya.
__ADS_1
"Kenapa kamu melakukan ini? Ayahnya saja tidak mau peduli, lantas kenapa kamu malah mau membantu? Apakah semua ini karena rasa kasihan, Za?" tanyaku dengan gemetaran.
Butuh usaha keras untuk menahan air mata. Mengingat tentang Daniel dan tentang hidupku yang terlampau hancur, selalu saja rasa sakit itu melanda. Aku hanya ingin tahu, mengapa Reza sepeduli itu padaku. Apakah karena kasihan, atau mungkin ada alasan lain yang lebih mulia dari itu.
"Kamu ingin tahu apa alasanku?" Reza kembali menghampiriku.
Kini, kami saling berhadapan dalam jarak yang cukup dekat.
Reza tak kunjung bicara, dia malah menatapku dalam-dalam sambil menangkup kedua pipiku. Dia mengusapnya pelan, seolah menyiratkan makna lain dalam sentuhannya.
"Karena aku mencintaimu," ucap Reza. Suaranya lembut, namun tegas, seakan ia benar-benar serius dengan ucapannya.
Jantungku berdetak cepat, rasanya tak percaya mendengar kata cinta darinya. Reza lelaki yang baik, akhlaknya lebih mulia daripada diriku. Benarkah dia jatuh cinta padaku?
"Kenapa?" bisikku, sangat pelan, namun aku yakin Reza mendengarnya.
"Cinta tidak butuh alasan, Kirana. Perasaan itu tumbuh dengan sendirinya. Sejak lama, hatiku telah memilihmu. Aku tulus mencintaimu," jawab Reza.
"Tapi keadaanku___"
"Apapun yang ada dalam dirimu, bagiku adalah sesuatu yang indah. Aku mencintai kekurangan dan kelebihanmu, Kirana," pungkas Reza.
Belum sempat aku menjawab ucapan Reza, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara seseorang yang memanggilku. Suara yang sangat familiar.
"Kirana!"
__ADS_1
Bersambung...