Noda

Noda
Angel


__ADS_3

Kak Darren melemparkan ponselnya ke atas sofa. Entah sengaja dimatikan atau mati dengan sendirinya, yang jelas ponsel itu tak bergetar dan layarnya pun padam.


Sebelum aku sempat bertanya, Kak Darren kembali ke almari dan meraih pakaian yang tadi hampir dikenakan.


Setiap gerak-geriknya kupandangi dari tepi ranjang. Rasa kesal dan kecewa membuat dadaku sesak, sampai tak ada kekuatan untuk bicara, sekadar air mata yang menggambarkan semuanya.


"Kenapa malah nangis? Bukankah kamu sudah puas karena aku tidak menerima telepon di kamar mandi?" tanya Kak Darren setelah mengenakan pakaian.


"Inginku kamu menerima di sini, Kak, di depanku. Bukan dibawa pergi atau dimatikan seperti tadi," jawabku dengan sedikit gemetaran.


"Jangan terus memperkeruh suasana, Kirana!" Kak Darren menghampiriku dan mencengkeram kedua bahuku, sangat erat sampai menimbulkan rasa nyeri.


"Kak___"


"Aku mencintai kamu dan tidak pernah menduakan kamu. Jadi, hapus semua pikiran burukmu tentangku. Bebanku sudah banyak, Kirana, tolong jangan menambah lagi dengan dugaan yang tidak masuk akal," pungkas Kak Darren dengan tegas.


Bukannya tenang, dadaku justru makin sakit, air mata pun luruh makin deras. Apa yang ada di pikiran Kak Darren, mengapa sangat tidak suka bila aku curiga. Padahal, sikapnya-lah yang membuatku banyak menduga. Sekesal itukah dia denganku, sampai-sampai menghapus sebutan 'sayang'.


"Berhenti menangis, Kirana!" Suara Kak Darren makin meninggi.


"Mudah sekali kamu menyuruhku berhenti menangis, Kak. Padahal, Kak Darren dengan sengaja melukaiku. Inikah yang kamu bilang cinta tulus, Kak?" Suaraku ikut meninggi agar Kak Darren tahu bahwa aku sangat terluka dengan sikapnya.


"Aku memang cinta, Kirana, kamu jangan memancing___"


"Memancing apa?" teriakku. "Aku tidak bodoh, Kak! Jika tidak ada apa-apa, kamu tidak mungkin mendekap ponselmu sendiri, tidak mungkin keberatan menerima telepon di depanku."


"Itu lagi yang kamu bahas, Kirana? Heran aku, kenapa hanya selingkuh yang ada di pikiran kamu." Tatapan Kak Darren makin tajam dan aku mendadak takut karenanya.


"Maaf." Aku menunduk. "Sepertinya tidak bisa memakai cara keras. Baiklah, aku akan mencoba dengan cara halus," sambungku dalam hati.


"Jangan menangis! Aku tidak suka melihat air matamu." Kak Darren melepaskan cengkeraman dan mengusap air mataku.


"Aku hanya takut kehilangan kamu, Kak. Aku sangat mencintaimu," ucapku padanya.

__ADS_1


"Aku juga. Maaf, tadi bersikap kasar, tapi aku benar-benar ... ahh." Kak Darren menggeleng sambil mengembuskan napas kasar. Tindakan yang lagi-lagi memancing kecurigaan.


Sebelum aku membuka suara, Kak Darren memelukku dengan erat sambil mengusap-usap punggungku dengan lembut. Jika seperti ini, rasanya aku menemukan dia yang dulu. Selagi aku masih memikirkan sikapnya yang berubah, tiba-tiba Kak Darren kembali bicara.


"Sayang, aku sangat mencintaimu dan setia padamu, percayalah! Apa pun yang kulakukan itulah yang terbaik untukmu. Janjiku adalah membuatmu bahagia, jadi sebisa mungkin aku menjauhkanmu dari rasa kecewa," ujar Kak Darren.


Aku tidak menjawab dan sekadar mengernyit heran, sangat tidak paham dengan maksud ucapannya. Namun, aku tak lantas bertanya. Aku lebih memilih menyelidikinya sendiri.


_____________________


Sudah genap dua bulan aku selalu mengalah dengan Kak Darren. Sejak pertengkaran pada hari itu, aku senantiasa diam dan berpura-pura tak curiga walau dalam hati kerap menjerit sakit.


Namun, bukannya membaik, tingkah Kak Darren justru makin menjadi. Dalam sehari, tidak cukup sekali-dua kali menerima telepon yang mencurigakan, terkadang mencapai lima kali dan di antaranya terjadi pada tengah malam.


Selain itu, Kak Darren kerap pergi tanpa tujuan yang jelas, entah pagi-pagi buta atau larut malam. Walau saban hari masih menunjukkan perhatian dan curahan kasih sayang. Namun, sikap mencurigakan itu menenggelamkan segala keromantisan yang ada.


Dulu, kupikir Kak Darren akan teledor jika aku bersikap tenang. Namun, ternyata dugaanku salah. Kak Darren masih berhati-hati dan tidak memberikan celah sedikit pun untukku. Alhasil, dua bulan kulewati begitu saja tanpa ada kemajuan yang berarti. Aku justru lebih rapuh karena menyimpannya sendiri—tidak meluapkan emosi dan berusaha terlihat baik-baik saja.


"Kirana!"


"Astagfirullahal'adzim. Hati-hati, Kirana." Bu Fatimah membungkuk dan mengambil sendok yang jatuh.


"Mmm ... mmm ... maaf, Bunda, tadi___"


"Kamu baik-baik saja, kan?" Bu Fatimah menatapku dengan lekat.


"Ba-baik, Bunda," jawabku dengan gugup.


Dalam hati, ingin sekali menceritakan perihal Kak Darren. Namun, terselip keraguan yang membuatku mengurungkan niat itu. Kak Darren adalah keponakan Bu Fatimah. Aku takut hubungan kami justru renggang jika kuceritakan keburukan Kak Darren.


"Semalam ... Darren pulang pukul berapa?" Di luar dugaan, malah Bu Fatimah yang mempertanyakan.


"Pukul dua, Bunda," jawabku dengan jujur.

__ADS_1


Semalam, selepas menerima telepon yang entah dari mana, Kak Darren pamit keluar. Katanya, ada pekerjaan mendadak yang harus diselesaikan saat itu juga. Dia berangkat pukul sepuluh dan pulang pukul dua. Aku pura-pura tidur ketika dia tiba, dan tadi sewaktu subuh aku sengaja tidak membangunkannya.


"Kirana, sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian? Bunda lihat, akhir-akhir ini Darren sering keluar malam dan pulang dini hari. Apa yang dia lakukan di luar sana?" Bu Fatimah bertanya sambil mengembuskan napas kasar.


Kudaratkan tubuh di kursi dan kutautkan jemari di atas meja. Kupandangi bermacam hidangan yang sudah tersaji demi menghalau air mata yang lagi-lagi mendesak keluar.


"Aku juga tidak tahu, Bunda. Setiap kali kutanya ... jawaban Kak Darren hanya seputar pekerjaan," ujarku.


"Cobalah ajak bicara dari hati ke hati, Kirana. Sebenarnya ... dari kemarin Bunda sudah gatal pengin menasihati Darren. Tapi, melihatmu tenang-tenang saja, Bunda mengurungkan niat itu. Takutnya, kamu menganggap Bunda terlalu ikut campur," kata Bu Fatimah.


"Sudah, Bunda. Sebenarnya, Kak Darren seperti itu sejak dua bulan lalu. Hanya saja, dulu nggak separah sekarang. Dulu sudah pernah kuajak bicara pelan-pelan, tapi Kak Darren malah emosi. Akhirnya, aku juga emosi dan kami bertengkar. Setelah itu, aku memutuskan untuk diam sambil mencari tahu apa yang sebenarnya dia sembunyikan. Tapi, Kak Darren sangat berhati-hati. Sampai saat ini ... aku belum menemukan petunjuk apa pun." Kuceritakan semuanya pada Bu Fatimah karena beliau lebih dulu bertanya.


Dulu, pertengkaranku dengan Kak Darren sebatas di kamar. Aku pun tertutup dan tidak mengatakan apa pun pada Bu Fatimah. Jadi, beliau tidak tahu bahwa rumah tangga kami sedikit bermasalah.


"Ya sudah, nanti coba ajak bicara pelan-pelan. Kalau dia marah atau tetap seperti itu, Bunda akan ikut menasihati." Bu Fatimah mengusap lenganku dengan lembut.


"Iya, Bunda."


"Sekarang panggil dia gih! Sarapan sudah siap," kata Bu Fatimah.


"Iya, Bunda."


Lantas, aku beranjak dan melangkah menuju kamar.


Setibanya di depan pintu, aku mengatur napas terlebih dahulu. Seuasi membahas bersama Bu Fatimah, hatiku luar biasa perih dan rasanya sulit menahan air mata jika bertatapan dengan Kak Darren.


Setelah memantapkan hati, kubuka pintu kamar dengan pelan. Kulayangkan pandangan ke seluruh ruangan dan tak ada keberadaan Kak Darren, entah ke mana dia. Aku melangkah masuk dan menilik ranjang yang berantakan, lalu menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Kutajamkan pendengaran, ada suara gemericik di dalam sana. Mungkin, Kak Darren sedang mandi.


"Apa sih yang kamu sembunyikan dariku, Kak?" tanyaku dalam kesendirian.


Kemudian, aku duduk di tepi ranjang dan meraba-raba bekas tidur Kak Darren. Ketika pikiran masih menerawang ke mana-mana, aku dikejutkan oleh getar ponsel. Kucari keberadaannya, ternyata ada di bawah bantal. Senyumku langsung mengembang karena menemukan keberuntungan. Harapanku, telepon itu adalah petunjuk untuk menguak rahasia Kak Darren.


"Angel, siapa dia?" ucapku ketika melihat nama kontak yang tertera di layar ponsel.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2