
Kecanggungan antara Kaivan dan Nadhea yang terjadi pada malam itu, berlanjut hingga setahun ke depan. Keduanya jarang berinteraksi. Jangankan bertemu secara nyata, via maya pun jarang. Selain karena kesibukan, mereka juga memendam pemikiran yang beragam.
Kaivan menganggap Nadhea masih menyimpan perasaan untuk Arsen, makanya jarang merespon telepon dan juga pesan darinya. Meski kuncup rindu makin merekah, dan benih-benih cinta makin terasa nyata, tetapi Kaivan belum berani menyatakan. Selain enggan karena Nadhea masih memikirkan Arsen, Kaivan juga tak yakin Prawira akan menerima keberadaannya. Mengingat dulu, ia pernah meninggalkan Luna.
Di sisi lain, Nadhea menganggap Kaivan masih menyimpan cinta untuk Luna. Meski tak dipungkiri Kaivan-lah satu-satunya lelaki yang mengisi untaian mimpi, tetapi Nadhea tak berani mengakui. Selain pesimis dengan kondisinya, Nadhea juga merasa tak pantas melakukan itu. Nadhea masih dalam kesulitan, sebagai seorang kakak seharusnya mendukung, bukan membuatnya makin terpuruk.
Hal itulah yang membuat Nadhea menyibukkan diri dengan kegiatan. Dalam setahun terakhir, dia belajar bisnis dengan sungguh-sungguh, walaupun hasilnya belum maksimal. Di samping itu, Prawira membeli lahan di Pulau Bali, tepatnya di Kota Denpasar. Kemudian, membangun galeri di sana. Karena tahu bahwa anaknya hobi melukis, maka usaha itu yang dipilih Prawira.
Kebetulan uang dari Arsen cukup banyak, jadi Prawira tidak perlu mencari pinjaman. Bahkan, masih ada sisa dari uang itu. Prawira menyuruh Nadhea menyimpannya dengan baik, berjaga-jaga untuk mengembangkan usaha. Bisnis milik Prawira belum pulih seperti dulu, itu sebabnya tak bisa diandalkan.
"Bu Nadhea, semua sudah saya siapkan. Ini rangkaian acaranya, mohon diperiksa. Jika ada yang kurang tepat, nanti saya perbaiki," ujar Arini—asisten Nadhea.
Nadhea tersenyum dan kemudian meneliti rangkaian acara untuk peresmian galeri yang dilangsungkan besok lusa. Karena merasa cukup, Nadhea menutup kembali berkasnya, lantas menyuruh Arini keluar ruangan.
Sepeninggalan Arini, Nadhea menimang-nimang ponselnya. Niat hati ingin menghubungi seseorang, tetapi ada keraguan.
Usai berpikir lama, Nadhea memutuskan untuk meneleponnya. Namun, tak ada jawaban hingga panggilan ketiga. Rasanya sia-sia Nadhea mengumpulkan rasa percaya diri, karena pada akhirnya tak ada perbincangan di antara mereka.
__ADS_1
"Mungkin dia sedang sibuk," gumam Nadhea sembari menatap nomor kontak yang diberi nama Bang Kai.
Karena sampai lima menit tidak ada pesan atau telepon balik dari Kaivan, Nadhea meletakkan ponselnya dan kembali melanjutkan aktivitas awal—melukis.
Pada saat yang sama, di sudut kota Malang, Kaivan sedang fokus dengan kemudi. Dia menuju rumah sakit untuk mengantarkan Athreya—chek up kandungan. Saat ini Athreya sudah hamil tiga bulan.
Sejak menjadi suami Athreya, Kennan mulai terjun ke dunia bisnis. Itu sebabnya dia sering sibuk, termasuk juga hari ini. Dia dan Reyvan masih di luar kota sejak kemarin lusa—melihat pembangunan proyek yang ada di sana. Karena pulangnya masih nanti malam, maka Kaivan yang mengantarkan Athreya.
"Reya, Kakak tunggu di luar ya? Nggak apa, kan, masuk sendiri?" ujar Kaivan ketika tiba di halaman rumah sakit.
"Nggak apa-apa, Kak." Athreya tersenyum. "Ya udah aku masuk dulu ya," sambungnya.
"Hallo, assalamu'alaikum," sapa suara merdu yang akhir-akhir ini sering hadir dalam ruang rindu.
"Wa'alaikumussalam," jawab Kaivan. "Maaf ya, tadi aku masih di jalan. Nggak tahu kalau kamu telpon."
"Iya, nggak apa. Mmm, sekarang sibuk, nggak?" tanya Nadhea.
__ADS_1
"Enggak, hari ini aku nggak kerja. Cuma ini tadi nganterin Athreya ke rumah sakit, periksa kandungan."
"Wah, turut seneng aku dengernya. Udah berapa bulan?"
"Masih tiga," jawab Kaivan.
"Semoga lancar sampai lahiran. Oh ya, aku tadi ada sedikit penting. Tapi, sebelumnya maaf ya, hanya bicara lewat telepon," ucap Nadhea dari seberang sana.
Kaivan tertawa pelan, "Kayak sama siapa aja. Jangan terlalu sungkan, udah bilang aja."
"Jadi gini, aku mau buka sedikit usaha di Denpasar. Peresmiannya lusa. Aku berharap kamu bisa hadir," ungkap Nadhea.
"Usaha? Di Denpasar?" Kaivan terkesiap. "Eh, aku baru tahu. Keren," sambungnya.
"Nggak sekeren kamu. Ini baru mulai kok. Mmm, jadi gimana? Kamu bisa hadir, nggak?"
Kaivan berpikir sejenak, besok sampai lima hari ke depan jadwalnya cukup padat—ada pemotretan di Kota Batu. Persiapan sudah disusun matang, jadi tidak mungkin dia membatalkannya begitu saja.
__ADS_1
"Bang Kai, nggak bisa, ya?"
Bersambung.....