Noda

Noda
Masih Gagal


__ADS_3

Pertanyaan bernada kecewa yang dilontarkan Nadhea membuat Kaivan tersadar dan tak lagi berpikir panjang. Dia mengiakan undangan tersebut dengan serius, tanpa tahu bagaimana nanti akan membagi waktu.


Karena terlalu memikirkan hal itu, Kaivan lebih banyak diam ketika perjalanan pulang. Bahkan, diamnya itu berlanjut hingga tiba di rumah.


_________________


Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 malam. Kirana dan keluarganya sedang berkumpul di meja makan, menyantap hidangan yang sudah disiapkan. Namun, ada satu anggota yang tidak ikut serta—Kaivan. Sejak pulang dari rumah sakit, dia mengurung diri di kamar. Barusan, pelayan berulang kali memanggil, tetapi dia tetap pada pendirian—tidak makan malam.


Karena pelayan tak berhasil, akhirnya Kirana sendiri yang turun tangan. Dia menuju lantai dua dan mengetuk kamar Kaivan.


"Nak, Papa dan adik-adikmu sudah menunggu. Cepat turun, kita makan bersama!" perintah Kirana.


Kaivan membuka pintu dengan wajah kusut. Lantas menolak permintaan ibunya dengan halus.


Kirana tak lagi bicara, sekadar melayangkan tatapan intens, yang sontak membuat Kaivan berubah pikiran. Dengan berat hati, lelaki itu mengikuti langkah ibunya.


"Kamu sudah dewasa, jangan mogok makan karena suatu alasan. Masalah itu bisa diselesaikan dengan baik, nggak perlu mengurung dan menyiksa diri," ujar Kirana ketika mereka menuruni tangga.


"Iya, Bunda." Kaivan menjawab pelan.


Ketika tiba di ruang makan, mata Kaivan langsung membelalak. Kebingungan yang sedari tadi mengacaukan pikiran, mendadak hilang setelah matanya melihat Kennan. Kaivan sudah menemukan solusi untuk masalah peliknya.

__ADS_1


Akan tetapi, belum sempat Kaivan bernapas lega, ayahnya terlebih dahulu bicara—menuturkan hal yang memudarkan angan-angan Kaivan.


"Kennan, lusa Pak Bahri akan kemari, membahas kerja sama yang kita bicarakan tempo hari. Urusan ini Papa serahkan sama kamu karena besok malam Papa dan bundamu akan ke Bali. Anaknya Pak Wira membuka bisnis di sana, kami akan menghadiri acara peresmiannya," kata Darren.


"Baik, Pa, saya___"


"Nggak boleh!" pungkas Kaivan dengan cepat.


Darren dan yang lainnya mengernyit, tak mengerti dengan maksud Kaivan yang tiba-tiba menentang.


"Besok dan sampai lima hari ke depan Kennan harus ke Kota Batu, gantiin aku memotret di sana. Aku juga mau ke Bali," ungkap Kaivan tanpa rasa bersalah.


Kaivan mendaratkan tubuhnya dengan kasar, "Ya kalau gitu urusan dengan Pak Bahri diundur aja. Atau kalau enggak, Reyvan yang suruh gantiin. Bisa kan, Rey?"


"Besok pagi aku terbang ke Jakarta, Kak," sahut Reyvan yang lantas membuat Kaivan meradang.


Adiknya yang satu itu memang super sibuk. Sepak terjangnya di dunia bisnis sangat baik, bahkan jauh lebih baik daripada Darren. Sejak dua yang bulan lalu, dia membuka kantor cabang di Jakarta. Itu sebabnya sangat sibuk. Selain rapat di sana sini, dia juga kerap ke luar kota.


"Berarti Papa yang nggak boleh pergi. Kennan harus gantiin aku!" Kaivan tak mau kalah.


"Apa-apaan sih kamu, Kai? Aku nggak setuju, aku mau gantiin Papa aja," sela Kennan.

__ADS_1


"Nggak boleh! Kamu harus gantiin aku! Harapanku tuh cuma kamu, Ken. Rencana udah disusun matang dari kemarin-kemarin, bisa dipecat aku kalau main batal dengan alasan ke Bali. Sejak kamu keluar, aku yang dikasih kepercayaan, bimbing fotografer lain yang baru gabung. Kalau aku tiba-tiba izin, siapa yang akan ngarahin mereka?" ujar Kaivan dengan panjang lebar.


"Lah, kalau gitu berarti kamu jangan pergi. Harus tanggung jawab!"


"Nggak bisa, aku harus pergi!" Kaivan tetap pada keinginannya.


"Aku nggak mau. Lagian aku tuh udah keluar dari WO. Aku___"


"Belum genap dua bulan kamu resmi keluar. Nanti aku yang bicara sama Pak Chandra, pasti boleh," potong Kaivan dengan cepat.


"Kai___"


"Ken, please! Selama ini Pak Chandra udah cocok banget sama kita. Kalau kamu nggak mau gantiin, terus aku harus minta tolong ke mana? Yah, mungkin di luar sana banyak fotografer andal, tapi ... belum tentu Pak Chandra cocok."


"Aku juga udah keluar loh, Kai, mana boleh begini," jawab Kennan dengan diiringi embusan napas kasar.


"Kamu, kan, keluarnya secara terhormat. Urusan Pak Chandra, serahin aja sama aku. Asal kamu oke, aku yakin beliau setuju."


"Kaivan, kamu tidak boleh seperti ini! Yang namanya tanggung jawab, ya harus diselesaikan sendiri. Kennan sudah keluar dan beralih pekerjaan, kamu jangan menyulitkan dia." Darren menatap Kaivan dengan tajam. "Lusa, tugas Kennan menemui Pak Bahri, jadi tidak boleh pergi menggantikan kamu," sambungnya yang lantas membuat Kaivan terdiam seketika.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2