
Di depan villa megah yang ada di kawasan puncak, Luna menghentikan mobilnya. Lantas, dia menghubungi Rega yang katanya ada di dalam sana. Malam ini, Luna memang merencanakan niat licik untuk menghancurkan lelaki itu.
Lima menit kemudian, pintu gerbang dibuka dari dalam. Tampak di sana sosok Rega mulai berjalan mendekati mobil Luna sambil membawa payung.
"Kamu benar-benar patuh, Sayang. Ayo masuk! Aku sudah menyiapkan kejutan istimewa untukmu," ucap Rega ketika pintu mobil sudah dibuka.
Luna tak menjawab. Namun, dia langsung turun sambil memamerkan senyum termanisnya. Tak lupa pula, dia juga menggandeng mesra tangan Rega. Lalu, keduanya memasuki halaman villa dan terus berjalan melewati pintu utama.
Rega membawa Luna ke kamar yang ada di lantai atas. Pertama kali membuka pintu, Luna disambut dengan harum kelopak mawar yang tersebar di ranjang. Luna memandang jijik, tetapi dia berusaha bersikap ramah. Untuk melawan orang licik seperti Rega memang membutuhkan sedikit pengorbanan.
"Kamu masih sama romantisnya seperti dulu, Mas." Luna memuji sambil menyandarkan kepala di bahu Rega. "Untuk terakhir kalinya aku menjatuhkan harga diri di depanmu, sebelum nanti nyawamu akan melayang di tanganku," sambungnya dalam hati.
"Apa kamu menyukainya?"
__ADS_1
"Tentu saja." Luna tersenyum lebar.
"Bagus. Lantas, kapan kamu akan membatalkan pernikahan dengan Kaivan?" tanya Rega.
"Tunggu sebentar lagi, dia masih ada pemotretan di Bandung. Aku ingin memutuskan hubungan secara langsung, bukan via ponsel."
Rega menanggapinya dengan embusan napas kasar. Kemudian, Luna menggenggam tangannya dan menatapnya dengan lekat.
Rega tersenyum sambil mendekatkan wajahnya, "Tentu saja tidak. Aku percaya kamu masih Luna yang dulu, Luna Aldamaya, gadis kecilku yang liar."
Luna mendongak dan menyambut bibir Rega yang makin merapat di bibirnya. Meski sangat enggan, tetapi Luna memainkannya dengan intim—sebuah hal yang tak pernah dia lakukan dengan Kaivan. Bahkan, Luna juga pasrah ketika tangan Rega mulai merengkuh pinggang dan bergerak liar.
Di sela-sela aksi mesra tanpa rasa, Luna memikirkan kembali rencana liciknya. Dia pastikan bahwa tidak ada sedikit pun yang terlewat. Pikirnya, malam ini harus berhasil.
__ADS_1
Namun, ada satu hal yang tidak Luna sadari, yakni rencana yang sama, yang ada di pikiran Rega. Sejak awal, lelaki itu menaruh curiga atas keputusan Luna yang berubah secara mendadak.
"Aku tidak sehari-dua hari mengenalmu, Luna. Aku tahu mana yang tulus dan mana yang palsu. Sorot matamu menyiratkan kebencian yang dalam, aku yakin pengakuanmu kali ini karena ada alasan. Tapi, tak apa, setidaknya aku bisa membalikkan keadaan dan menikmati kembali tubuhmu yang indah ini," batin Rega.
"Kamu tidak mengajakku berbaring di sana, Mas?" goda Luna usai melepaskan pagutan.
"Kamu memang agresif, Sayang. Tapi, aku masih nyaman dengan posisi ini." Rega menjawab sambil menciumi ujung rambut Luna yang digerai begitu saja.
"Dilanjutkan di sana, aku jamin lebih nyaman." Luna mengerling sambil melirik ke arah ranjang. "Ayo cepat, Brengsek, aku sudah tidak sabar untuk mengantarmu ke alam baka!" sambungnya dalam hati.
"Baiklah. Tapi, tunggu sebentar, aku akan mengambil kejutan selanjutnya," ujar Rega.
Bersambung...
__ADS_1