
Lagi-lagi kuhela napas panjang. Aku diam sembari memikirkan pengakuan Reza. Sangat mengejutkan menurutku, selama ini tak pernah menduga akan hal itu. Sesekali aku melirik ke arahnya, tak ada gurat dusta. Sekadar wajah sayu dan mata yang meredup.
"Kirana," panggil Reza.
Aku menunduk sembari menautkan jemari, "maafkan aku, aku salah paham dan membuatmu kurang nyaman."
"Bukan salahmu, aku memang terlambat mengatakannya." Reza menjawab sambil membuang napas kasar.
"Mungkin ... kita sama-sama salah." Aku tersenyum getir. "Maaf, selama ini aku menghindar dan enggam bicara denganmu. Sekarang ... masalah ini sudah diluruskan. Aku memaafkan kamu, Za ... kuharap kamu juga mau memaafkan aku," sambungku.
"Apakah ... hanya saling memaafkan, Ra?" tanya Reza.
"Mmm, maksud kamu?" Aku balik bertanya.
"Aku ingin lebih dari itu." Reza menatapku. "Aku mencintaimu, aku ingin menikah denganmu, Ra," sambungnya.
"Me ... menikah, tapi Za___"
"Kamu tidak mencintai Darren, 'kan?" pungkas Reza. "Kita sudah berteman sejak lama, bukankah lebih nyaman jika hidup bersamaku, Kirana?"
Aku memejamkan mata seketika. Sebenarnya, aku tak ingin mengecewakan Reza. Namun, jika membahas cinta dan pernikahan, dengan terpaksa aku akan melakukannya.
"Maaf, Za. Aku sudah berjanji untuk menikah dengan Kak Darren, dan sekarang aku mulai mencintainya. Aku___"
"Bohong!" pungkas Reza dengan nada tinggi, yang lantas membuatku terkejut.
"Aku tahu kamu masih mencintai Daniel. Kamu mau menikah dengan Darren, karena Daniel mempertahankan keyakinanannya, iya 'kan? Asal kamu tahu, Ra, bukan hanya Darren yang bersedia mencintaimu dan menerima anakmu. Aku pun bisa melakukannya, tapi kenapa kamu tidak mau memberi kesempatan?" sambung Reza.
"Za, aku___"
"Dia lelaki yang sangat buruk. Apa yang kamu harapkan darinya, Ra? Kamu istimewa, sangat tidak pantas bersanding dengan dia." Lagi-lagi Reza memotong ucapanku.
"Dari segi mana kamu mengatakan aku istimewa?" sahutku dengan cepat.
"Kamu bisa bertahan dan tidak sedikit pun menggoyahkan keyakinan. Kamu justru makin dekat pada-Nya. Padahal aku yakin, cukup sulit bagimu untuk melewati semua itu. Kamu luar biasa, Kirana. Bagiku kamu sangat istimewa," kata Reza dengan tegas.
"Kak Darren juga demikian. Dia pernah salah dan kemudian memperbaiki diri," jawabku.
"Lantas kamu menganggapnya sempurna? Lalu bagaimana dengan diriku, Kirana? Aku yang sejak dulu menjaga diri, kenapa tidak kau anggap?" Napas Reza makin memburu, sepertinya ia mulai emosi.
__ADS_1
"Bukannya aku tidak menganggap, Za, tapi aku sudah berjanji untuk menikah dengan Kak Darren." Aku mengambil napas, sebelum meneruskan ucapan.
"Ada alasan di balik semua hal yang terjadi, Za. Kita pernah salah paham, lalu kita tak saling jumpa dalam waktu yang lama. Mungkin ... karena Allah memang tidak menggariskan jalan untuk kita. Jodoh adalah cerminan diri, Za. Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, dan begitu pun sebaliknya. Mungkin menurut takdir, aku tidak layak untukmu, itu sebabnya kita tidak diberi kesempatan untuk bersama," terangku dengan panjang lebar.
"Aku tidak setuju dengan teori itu. Aku mencintaimu, Ra, aku ingin menikah denganmu." Reza masih tetap pada keinginannya.
"Maaf, Za, aku tidak bisa," jawabku.
"Kirana___"
"Tolong mengertilah, Za." Aku kembali menunduk. "Takdir Allah itu maha indah. Allah tidak akan mematahkan asamu, kecuali untuk menggantinya dengan yang lebih baik. Percayalah," sambungku.
"Tapi aku maunya kamu, Ra. Aku sampai kehilangan jati diri karena kehilangan jejakmu. Aku frustrasi. Aku tidak tahu bagaimana caraku melewati hari, jika kamu benar-benar menikah dengan orang lain," ucap Reza dengan pelan.
"Dekatkan dirimu kepada Allah dan hindari segala hal yang negatif. Kesedihan adalah seruan dari Allah agar kita datang pada-Nya. Aku pernah ada di posisi terendah, dan aku bisa bertahan berkat keyakinan itu. Aku yakin, kamu pun bisa melakukannya, Za." Kuulas senyum untuknya.
Reza tak menjawab, ia hanya membuang pandangan sembari mengepalkan tangan. Mungkin dia kecewa dengan keputusanku.
"Za," panggilku, setelah hening dalam waktu yang lama.
"Aku hargai keputusanmu, walaupun itu sangat menyakitkan. Mungkin ... setelah ini aku tidak akan jatuh cinta lagi." Reza menjawab, tanpa mengalihkan pandangan.
"Jangan sebut namanya." Reza menoleh seketika. "Aku hampir memakai narkoba gara-gara dia," sambungnya.
"A ... apa?" Aku tersentak.
"Saat aku terpuruk, dia menawarkan barang itu sebagai pelarian. Aku nyaris menerimanya, Ra. Apakah seperti itu, cerminan cinta yang tulus?" Reza menatapku dengan lekat.
Aku diam dan berpikir keras. Apa maksud Mayra? Bukankah dia hanya perantara, lantas mengapa menawarkannya pada Reza? Apakah sekarang dia menjadi penjual?
"Apakah sudah selesai?" tanya Kak Darren. Entah sejak kapan dia menghampiriku.
"Sudah." Reza menyahut, sebelum aku sempat membuka suara.
"Kalau begitu, ayo pergi, Sayang," ajak Kak Darren.
"Sebentar." Aku menjawab sembari menatap Reza. "Berjanjilah untuk tidak melakukan hal negatif, termasuk meneguk alkohol," sambungku.
Reza beranjak dari duduknya sambil tersenyum, "doakan semoga hatiku kuat untuk menepati janji itu."
__ADS_1
Aku ikut beranjak dan hendak menjawab ucapannya. Namun, belum sempat kulakukan, ia sudah kembali bicara.
"Sekali saja kamu menyakitinya, aku tidak akan segan-segan untuk menghajarmu. Sekarang aku menyerah, tapi jika sedetik saja kamu menyia-nyiakan dia, aku akan membawanya pergi dari sisimu ... selamanya." Reza menepuk bahu Kak Darren. Lantas ia pergi, tanpa menunggu jawaban kami.
Dalam hati aku merasa lega dan resah. Lega karena Reza menerima keputusanku, tetapi juga resah karena banyak luka yang ia pancarkan. Aku tak bisa berbuat banyak, aku hanya bisa mempercayakan semuanya kepada Tuhan. Semoga hati Reza terbuka untuk cinta yang lain, sehingga ia bahagia tanpa diriku.
____________
Waktu berjalan begitu cepat. Siang dan malam yang kulalui, mengantarku pada titik terpenting dalam hidup, yakni pernikahan. Setelah satu bulan lamanya aku menunggu, akhirnya hari itu tiba jua.
Sejak seminggu yang lalu, aku mengirimkan kabar bahagia ini untuk orang-orang terdekat, tak terkecuali Daniel dan Mayra.
Awalnya, Daniel meminta Dara untuk tinggal bersamanya, selagi aku berbulan madu. Namun, aku menolak. Aku teringat dengan sikap ibunya di masa lalu. Bukan berprasangka buruk, hanya saja aku tidak tenang membiarkan Dara di sana. Kalaupun aku tidak bisa membawanya, ia akan kutitipkan pada Ibu atau Bu Fatimah.
Detik ini, aku berbaring di ranjang sembari menatap langit-langit kamar. Esok pagi aku dan Kak Darren akan duduk di depan penghulu dan bersaksi dengan kalimat suci. Terlalu membayangkan hal itu, aku sampai tak bisa memejamkan mata. Padahal, saat ini sudah memasuki dini hari.
"Aku terus saja deg-degan. Rasanya masih seperti mimpi," gumamku dalam kesendirian.
Setelah hamil dan putus kuliah, aku tak berani bermimpi untuk menikah dan memiliki suami. Aku merasa ternista dan tak layak dijadikan istri. Akan tetapi, semua pikiran itu perlahan memudar berkat hadirnya Kak Darren. Ia membantuku mendapatkan kembali kepercayaan diri, juga membantu menyalakan api cinta yang sempat padam.
Di saat aku sedang larut dalam pikiran, tiba-tiba aku dikejutkan oleh dering ponsel. Aku bergegas meraihnya karena kupikir itu adalah Kak Darren. Akan tetapi aku salah, ternyata Reza yang menelepon.
Aku mengernyitkan kening. Sejak bertemu di restoran waktu itu, kami tak saling menelepon ataupun berkirim pesan. Mengapa sekarang tiba-tiba menghubungi dan di waktu dini hari. Ada apa ini?
"Assalamu'alaikum," sapaku dengan jantung yang makin berdetak cepat.
Reza menjawab salamku dengan cepat dan kemudian bicara panjang lebar. Aku tersentak dan langsung bangkit kala mendengar penuturannya.
"Ini tidak mungkin," ucapku dalam hati.
Aku menutup mulut sembari menahan air mata yang siap menetes.
Bersambung...
Hai Kakak semua, maaf ya sekian lama nggak up bab baru. Masih ada kesibukan yang nggak bisa ditinggalkan. Mulai sekarang, Insyaa Allah akan lebih rutin lagi upnya.
Terima kasih ya, masih setia menunggu dan mendukung karyaku.
I LOPE YU ALL
__ADS_1