Noda

Noda
Hatiku Untuk Siapa?


__ADS_3

"Kirana!" sapa seorang lelaki, ketika pintu sudah kubuka lebar.


"Reza."


Aku mengernyit heran, untuk apa dia datang ke sini. Selama aku tinggal di sebelah butiknya, ini adalah pertama kalinya dia berkunjung ke rumah.


"Aku nggak disuruh masuk, Ra?" Dia menatapku sambil tertawa.


"Ehh sorry, ya udah masuk gih." Aku menjawab sembari membalas tawanya.


Kami berdua masuk ke rumah dan duduk di kursi ruang tamu, dengan pintu yang kubiarkan terbuka lebar.


"Kopi apa teh?" tanyaku padanya.


"Tidak usah. Sebenarnya ... aku ke sini karena ada perlu," jawab Reza, menolak tawaranku.


"Perlu apa?" Aku bertanya sambil menatap ke arahnya.


"Aku tidak dipecat, 'kan?" batinku dengan cemas.


"Mengajakmu jalan-jalan, mau 'kan?" Reza membalas tatapanku.


Aku menunduk, menggaruk lengan yang sebenarnya tidak gatal. Aku merasa tidak nyaman saat beradu pandang dengannya.


"Mau 'kan, Ra?" Reza kembali bertanya.


"Jalan-jalan ke mana?" Aku balik bertanya, tanpa menatapnya.


"Taman Hiburan, nggak jauh kok dari sini. Mau ya?"

__ADS_1


"Mmm baiklah ... tapi aku ganti baju dulu, ya," jawabku menerima ajakannya.


"Iya, aku tunggu." Reza berkata sambil tersenyum.


Lalu aku beranjak dan berjalan menuju ke kamar. Namun baru beberapa langkah, Reza kembali berbicara padaku.


"Pakai baju yang panjang, di luar dingin!"


Aku menoleh dan menatapnya sekilas, "iya."


Aku membuka pintu kamar sambil menggerutu kesal. Sebenarnya aku sangat enggan pergi bersama Reza, selain lelah, aku juga tidak nyaman dengannya. Namun, aku tidak enak jika menolak. Dia sudah menerimaku bekerja di butiknya, dia juga mau mengerti dengan kondisiku. Jadi mana mungkin aku membuatnya kecewa.


Aku membalut tubuhku dengan gaun panjang warna kuning gading, lantas aku memadunya dengan blazer warna senada, untuk menutupi lenganku yang terbuka. Rambut kubiarkan tergerai begitu saja, hanya menambahkan sedikit aksesoris di bagian depan. Kusambar tas selempang, lalu aku keluar dan menemui Reza.


"Cantik," puji Reza, yang kemudian kutanggapi dengan senyuman.


Kemudian kami berdua melangkah keluar. Reza membukakan pintu mobil untukku, dan juga memasangkan sabuk pengaman. Entah apa maksudnya, yang jelas itu membuatku semakin tidak nyaman.


Sekitar setengah jam perjalanan, aku dan Reza tiba di Taman Hiburan. Aku tersenyum, kala melihat gemerlap lampu yang berpendar indah di depan sana. Suasana hatiku yang sempat buruk, perlahan membaik dengan sendirinya.


"Ayo!" ajak Reza, yang tiba-tiba sudah membukakan pintu untukku.


"Aku bisa sendiri, Za." Aku berkata sambil melangkah turun.


"Tidak apa-apa." Reza menggenggam jemariku, dan mengajakku melangkah.


Perlahan, kutarik tanganku. Tidak nyaman jika berjalan dengan bergandengan. Namun, Reza kembali meraihnya. Kini dia menggenggamnya dengan lebih erat.


"Ramai, Ra. Nanti kalau kita terpisah, aku kesulitan mencarimu, soalnya aku juga tidak bawa ponsel," kata Reza.

__ADS_1


"Iya." Aku mengangguk, dan membiarkan jemariku dalam genggamannya.


Apa yang dikatakan Reza memang benar, suasana di sini sangat ramai. Entah karena malam Minggu, atau memang setiap harinya seperti ini. Reza terus mengajakku berbincang, dia bicara panjang lebar tentang segala hal. Mulai dari kebiasaan sehari-hari, sampai harapan terbesarnya.


"Baru kali ini aku melihatmu banyak bicara, Za," ucapku dalam hati.


"Kok kamu diem aja sih, Ra?" protes Reza. Sedari tadi memang hanya Reza yang berbicara, sedangkan aku, lebih sering jadi pendengar.


"Sebenarnya ... aku mau tanya sesuatu," ucapku tanpa ragu.


Tak henti-hentinya Reza mengulas senyuman, kupikir suasana hatinya sedang baik. Jadi tidak salah 'kan, jika sekarang aku kembali mengungkit tentang Mayra.


"Tanya apa?"


"Jawab jujur, ya," kataku padanya.


"Iya. Udah buruan tanya apa, penasaran nih," jawab Reza.


"Perasaanmu sama Mayra gimana? Dia cantik lho, udah gitu pinter, baik lagi. Dia paket komplit, Za, pasti nggak nyesel deh jadi pasangan dia," ujarku memuji Mayra.


Cukup lama aku menanti jawabannya, namun ia tak kunjung membuka suara. Kulihat ekspresi wajahnya datar, dan kurasakan genggamannya mengerat. Ada apa dengannya?


"Za!" panggilku dengan hati-hati.


"Cinta itu bukan dilihat dari cantik, pinter, atau baik, tapi perasaan itu tumbuh dari dasar hati. Aku tahu Mayra nyaris sempurna, tapi aku tidak mencintainya. Itu sebabnya aku tidak pernah menanggapi dia, aku tidak mau menyakitinya dengan harapan palsu," terang Reza.


"Oh, begitu ya." Aku menghela napas panjang, sedikit kecewa dengan jawaban Reza.


"Sorry, May. Aku sudah berusaha, tapi Reza tetap menutup hatinya. Aku tidak bisa memaksa dia, aku harap kamu bisa mengerti," ucapku dalam hati.

__ADS_1


"Kamu tidak penasaran, hatiku untuk siapa?"


Bersambung...


__ADS_2