Noda

Noda
Foto Yang Mengejutkan


__ADS_3

Detak jantungku kian terpacu, aku takut alasan itu membawa luka yang mengoyak jiwa. Ini adalah satu-satunya titik terang untuk membenahi titian usang, aku tidak akan sanggup jika titik ini kembali dihapus.


"Sorot matamu, mengingatkan Bunda pada Arina, dia adalah anak Bunda yang sudah tiada. Seandainya dia masih hidup, mungkin umurnya tidak beda jauh denganmu, Nak. Sejak menatapmu di malam itu, ingatan Bunda langsung tertuju padanya. Bertemu dengan kamu, seolah Bunda menemukan kembali anak Bunda yang telah lama tiada," terang Bu Fatimah yang kemudian membuatku terperangah.


"Bunda___"


"Maaf," bisik Bu Fatimah.


"Tidak apa-apa, Bunda, justru aku yang minta maaf, kehadiranku membuat luka Bunda kembali menganga." Kupeluk tubuh Bu Fatimah dengan erat. Kurasakan tubuhnya gemetaran, mungkin luka itu memang mengguncang jiwanya.


"Kamu tidak keberatan, 'kan, jadi anak Bunda?" bisik Bu Fatimah.


"Tidak, Bunda," jawabku sembari menikmati rangkulannya yang hangat.


________


Sang surya semakin condong ke arah barat, sinarnya yang terik perlahan meredup dan menghangat. Aku dan Bu Fatimah sudah tiba di pusat kota, bangunan yang kokoh dan padat, mengingatkanku pada beban yang berat. Kota Malang, akhirnya aku kembali lagi ke tempat ini. Nindi, Reza, Daniel, peluang untuk bersua kini kembali terbentang di depan mata.


"Takdir membawaku kembali ke kota ini, semoga di sini juga aku menemukan jalan untuk keluar dari kubang luka." Aku membatin sembari mengulas senyum getir.


Mobil membelok ke arah kanan, melewati jalan yang sangat tidak asing bagiku. Aku menunduk dan menghela napas panjang, kutepis semua kenangan yang pernah terajut di tempat itu.


"Kirana, kamu kenal tempat ini?" tanya Bu Fatimah, mungkin beliau menyadari ekspresiku yang tiba-tiba murung.


"Iya, Bunda. Aku pernah mengenyam pendidikan di kampus depan," jawabku, tanpa mengangkat wajah.

__ADS_1


"Maksudmu Universitas Trijaya?" tanya Bu Fatimah.


"Iya. Bunda tahu?" Aku bertanya sembari menoleh.


"Tahu dong, keponakan Bunda ada yang kuliah di sana, namanya___"


Belum sempat Bu Fatimah meneruskan kalimatnya, tiba-tiba ada pemotor yang melawan arus. Bu Fatimah kelabakan, dan nyaris menabraknya. Beruntung, laju mobil masih bisa dikendalikan, sehingga tidak terjadi kecelakaan. Namun, kami berdua sangat kaget dan gemetaran.


"Astagfirullahal 'adhiim. Alhamdulillah, Ya Allah, Engkau masih melindungi hamba." Bu Fatimah menghela napas lega. "Aduh, sembrono sekali itu orang, nggak sayang nyawa apa," sambungnya, menggerutu.


Aku mengambil botol mineral yang tinggal setengah, lantas aku meneguknya hingga tandas. Aku sangat kaget dengan kejadian barusan.


"Kirana, kamu tidak apa-apa, Nak?" Bu Fatimah menggenggam lenganku.


"Tidak, Bunda, hanya sedikit kaget." Aku menggeleng sambil tersenyum.


Tak lama kemudian, mobil melintas di depan Universitas Trijaya. Aku menoleh dan menatapnya hingga menghilang dari pandangan. Rasa perih kembali menyayat hati. Kebersamaanku dengan Daniel, tampak nyata dalam ilusi, kami tertawa bersama, bercanda, berjalan berdua, dan mengukir cinta yang seindah senja. Ahh, semua tinggal kenangan, sebuah kisah yang meninggalkan luka terdalam.


_______


Lantunan azan magrib berkumandang, beriringan dengan deru mobil yang baru saja berhenti di garasi. Aku sudah tiba di rumah Bu Fatimah, rumah megah yang tak kalah bagusnya dengan rumah Mayra. Aku turun dan menatap ke sekeliling, halaman rumah yang sangat indah. Ada air mancur, dan berbagai jenis bunga yang tumbuh subur di sekitarnya, sangat terawat.


"Ayo, Kirana," ajak Bu Fatimah.


"Iya, Bunda." Aku mengangguk dan mengikuti langkah beliau.

__ADS_1


Aku tercengang, ketika memasuki rumahnya. Aku disambut dengan perabotan yang mewah dan elegan, aku yakin setiap barang yang ada di sini, bukan barang murah. Pernak-pernik yang berkilauan, menghiasi setiap sudutnya. Aku benar-benar takjub karenanya.


"Kirana, langsung mandi, ya, setelah itu kita shalat sama-sama. Tadi Bunda sudah menyuruh Bibi menyiapkan sedikit pakaian untuk kamu." Bu Fatimah membukakan pintu ruangan yang berada tepat di hadapanku.


"Iya, Bunda." Aku mengangguk dan masuk ke kamar.


Aku langsung membersihkan diri, dan membalut tubuhku dengan piyama panjang warna cokelat. Aku melangkah keluar, dan ternyata Bu Fatimah sudah menungguku di sana. Beliau tersenyum dan memberiku mukenah.


"Kita shalat di masjid, ya. Tidak apa-apa walaupun sudah terlambat, nanti shalat sendiri sama Bunda," ucap Bu Fatimah.


"Iya, Bunda." Aku mengangguk dan berjalan di samping beliau.


Kami melangkah menuju masjid yang berada tepat di samping rumah.


Tak lama kemudian, kami tiba di masjid. Banyak anak-anak kecil yang menyambut kami, mereka menyalami kami dan semuanya kompak berteriak 'kangen, Bunda'. Setelah menanggapi mereka, kami pun shalat bersama. Usai shalat, aku bersimpuh dan memanjatkan rasa syukur kepada Allah. Tak lupa juga memohon ampunan, dan memohon petunjuk untuk jalan hidupku setelah ini.


"Kirana, kamu pulang duluan, ya, Bunda masih menemani anak-anak di sini. Nanti kembalilah, dan shalat isya' berjamaah, ya," ucap Bu Fatimah seusai berdoa.


"Iya, Bunda." Aku mengangguk dan beranjak pergi. Kini aku tahu, Bu Fatimah adalah guru ngaji di masjid ini.


Aku berjalan pulang dengan perasaan lega, aku semakin yakin jika Bu Fatimah adalah orang yang tulus. Kubuka pintu utama dengan pelan, lantas aku melenggang masuk sambil mengukir senyuman.


Namun tak lama kemudian, senyumku memudar. Mataku menatap bingkai foto yang dipajang di atas meja sudut, di ruang tamu. Aku mendekat dan menilik wajah yang terlukis di dalam bingkai. Tubuhku mematung seketika, bahkan aliranku darahku seakan berhenti saat ini juga.


Bersambung...

__ADS_1


Hayo tebak, siapa keponakannya Bu Fatimah?


Daaannnn kira-kira foto siapa yang Kirana lihat?


__ADS_2