
Tak lama kemudian, salah satu polisi memanggil Nessa dan mendudukkannya di dekat Kaivan. Dia dimintai keterangan terkait informasi yang dibawa Anton.
"Saudari Nessa, siapa yang Anda temui di Kantor Victoria?" tanya polisi.
Nessa terdiam dan tidak berani menjawab barang sepatah kata.
"Cepat katakan! Siapa yang kau temui di sana?" timpal Darren dengan tegas.
"Saya disuruh Pak Kaivan untuk mengantarkan barang kepada Bu Luna," jawab Nessa dengan mata yang memejam. Dia sudah tenggelam jauh dalam dusta, entah semua itu bisa menyelamatkannya atau tidak.
"Apa maksudmu? Aku tidak pernah menyuruhmu menemui Luna!" bentak Kaivan.
"Harap tenang, Pak Kaivan! Saat ini, kami sedang menyimpulkan satu dugaan," ujar polisi.
"Maksudnya, Pak?"
__ADS_1
Sebelum memberikan jawaban, polisi menatap Nessa dengan intens. Gadis muda itu langsung pucat pasi, seakan tak ada harapan lagi untuk selamat.
_______________________
Di salah satu sudut Kota Bandung, seorang wanita sedang duduk di ayunan, di belakang rumahnya. Rambut digulung asal, sedikit yang menjuntai meriap dipermainkan angin. Namun, sang empunya tak peduli. Dia tetap memegang pensil dan mencorat-coretkannya di atas lembaran putih. Dia sedang melakukan hobi yang ditentang keras oleh keluarganya, yakni melukis.
"Kamu manis," gumamnya pada lukisan yang masih setengah jadi. Dengan senyum yang mengembang, dia menatap gambar lelaki yang sedang tersenyum sambil memegang kamera.
"Kamu hanya bisa kumiliki dalam imajinasi. Tapi, terima kasih, sudah hadir dalam hidupku walaupun sangat singkat. Maaf, aku pinjam karaktermu untuk rangkaian diksiku."
Wanita itu meletakkan pensil dan lembaran yang tadi digenggam. Lantas, meraih buku tebal yang berwarna biru terang. Tanpa memudarkan senyuman, dia mengusap-usap gambar sampul dan tulisan 'Sayap-Sayap Patah'.
Dengan mata yang masih berkaca-kaca, wanita itu mengamati buku novelnya. Kendati bahagia, tetapi ada kesedihan yang bersarang di hatinya. Bagaimana tidak, dia tak bisa membanggakan mahakarya yang dihasilkan. Walaupun novel itu sekarang sedang laris-larisnya, bahkan beberapa hari lalu sempat dipinang oleh PH, tetapi tidak ada yang tahu bahwa itu adalah karyanya.
Perlahan, wanita itu membalikkan bukunya dan membuka halaman terakhir, tepat pada Bionarasi. Di saat orang lain dengan bangga menyertakan foto, menuliskan nama lengkap dan kota asal, dia hanya menuliskan dua kalimat saja, tanpa foto dan tanpa informasi pribadi.
__ADS_1
'GREY, bukan penulis dengan gelar sarjana. Jangan bertanya tentang pendidikan, putih abu-abu terpaksa kutanggalkan dalam separuh jalan.'
Wanita itu menatap miris pada kalimat yang disusunnya pada beberapa waktu lalu, ketika novelnya dipinang penerbit. Lantas, dia mengembuskan napas kasar ketika mengingat kisah hidupnya, yang mana harus putus sekolah dan kini membuat dirinya sangat sensitif dengan 'pendidikan'. Serangkaian kisah pahit yang kemudian ditulis dalam sebuah cerita, karena dia tidak punya tempat untuk berbagi, selain Tuhan. Itu sebabnya, dia tidak berani menunjukkan identitas asli. Sayap-Sayap Patah adalah murni kisah nyata.
"Biarlah sekarang orang tidak tahu bahwa aku yang berdiri di belakang Grey. Yang penting aku terus berusaha. Semoga suatu saat nanti aku bisa menunjukkan karyaku dengan judul dan nama pena yang berbeda. Sayap-Sayap Patah biarlah menjadi novel tanpa identitas asli, dengan begitu aib orang-orang di sekitar tidak akan tersebar," ucapnya.
Kemudian, tangannya kembali meraih lembaran kertas dan pensil. Sembari menyelesaikan karya lukisnya, dia tersenyum dan memamerkan giginya yang gingsul.
"Jika boleh egois, aku ingin merayu Tuhan dan mengharap Dia menjodohkan kita. Tapi ... sepertinya itu sulit." Wanita itu mengembuskan napas panjang. "Wahai lelaki yang punya senyuman termanis, siapa pun yang kamu cintai, aku tetap mengagumimu dalam diam," sambungnya.
Kemudian, untuk sejenak dia mendongak dan menatap sang surya yang mulai condong ke arah barat. Pikirannya menerawang jauh ke kota seberang, membayangkan lelaki yang disayangi—walau tak pernah peduli sedang terbaring lemah di rumah sakit.
"Menunggu lusa rasanya sangat lama," ucapnya pelan.
Lantas, dia menunduk dan kembali mengamati karya lukisnya.
__ADS_1
"Dunia ini sangat sempit," ucapnya.
Bersambung...