Noda

Noda
Mengejutkan


__ADS_3

"Ada apa, Nak?" tanya Prawira ketika Nadhea sudah meletakkan ponselnya.


"Mas Arsen ingin aku ke sana dan polisi juga ingin bicara denganku. Pa, kenapa perasaanku mendadak nggak enak, ya?" Nadhea menatap ayahnya.


"Nggak enak bagaimana, Nak?"


"Entahlah, Pa." Nadhea mengambil segelas air dan meneguknya. "Hari itu, Mas Arsen meminta waktu satu minggu, entah apa tujuannya. Rencananya, lusa aku ke sana. Dia sudah janji akan menandatangani surat perceraian kami. Tapi, kenapa tiba-tiba hari ini dia memintaku ke sana?" sambungnya.


"Papa juga tidak bisa menebak, Nak. Tapi, kali ini Papa antar kamu."


"Jangan, Pa! Papa ada janji dengan relasi," sahut Nadhea.


"Papa khawatir sama kamu, Nak. Papa nggak bisa biarin kamu pergi sendiri."


"Tapi, Pa___"


"Kalau relasi ini mundur karena Papa membatalkan pertemuan, berarti belum rezeki. Sudah, jangan pikirkan itu! Biarkan Papa yang mengurusnya," pungkas Prawira.


Nadhea tak bisa lagi menolak, Prawira bersikeras mengantarnya ke Bandung. Alhasil, usai makan Nadhea segera menelepon Kaivan—meminta maaf karena tak jadi berkunjung, sedangkan Prawira langsung mencari tiket dengan penerbangan tercepat.

__ADS_1


Sembari menunggu jadwal terbang, Nadhea duduk sendiri di tepi ranjang. Jantungnya berdetak cepat dan perasaan pula bergejolak tak karuan.


"Kenapa rasanya begini? Apa yang kukhawatirkan? Mas Arsen dalam pengawasan polisi, jadi tidak mungkin berbuat macam-macam. Dia juga pasti baik-baik saja, buktinya tadi polisi tidak bicara apa-apa. Harusnya aku tenang-tenang saja, kan?" batin Nadhea berusaha menenangkan diri.


"Tapi ... ah," sambung Nadhea masih dalam batin.


_________________


Jarum jam sudah menunjukkan angka dua, tetapi Prawira dan Nadhea baru turun dari pesawat. Kendati penerbangan Surabaya-Bandung tak membutuhkan waktu lama, tetapi mencari tiket tercepat juga tidak mudah—lewat tengah hari mereka baru berangkat.


Tanpa membuang waktu, Nadhea langsung memesan taxi. Di sinilah mereka saat ini, di dalam taxi yang siap mengantar ke kantor polisi.


[Hati-hati! Kabari aku jika ada sesuatu.]


Setengah jam kemudian, mereka tiba di kantor polisi. Prawira dan Nadhea melapor pada petugas terkait kedatangannya. Lantas, mereka dipersilakan masuk. Usai berbasa-basi, polisi langsung menyampaikan kasus baru dari seorang Arsen William Osric.


"Pak Arsen telah mengakui semua kejahatan yang pernah dilakukan, di antaranya perdagangan obat terlarang dan senjata ilegal, menghilangkan nyawa demi kepentingan bisnis pribadi, juga menghilangkan nyawa kekasihnya beberapa tahun silam. Sekarang, semua aset milik Pak Arsen kami sita, dan sanksi untuk beliau adalah hukuman mati."


Nadhea menutup mulutnya ketika mendengar penjelasan polisi. Kendati selama ini sedikit mengerti bahwa Arsen bukan orang yang bersih, tetapi dia tak menyangka akan separah itu. Lebih tak menyangka lagi, Arsen mengakuinya dengan rinci. Kenapa?

__ADS_1


"Dari kesaksian Pak Arsen serta bukti yang kami kumpulkan, kami memutuskan untuk tidak melibatkan Anda. Selain tidak ada bukti yang mengarah kepada Anda, saat ini posisi Anda juga sebagai korban," sambung polisi.


"Terima kasih." Nadhea gemetaran. "Pak, haruskah hukuman mati? Maaf, bukannya saya menentang hukum, tapi ... mmm___"sambungnya.


"Saya paham maksud Anda, tapi yang namanya hukum harus tetap ditegakkan. Obat terlarang dan senjata ilegal yang diperdagangkan mencapai jumlah yang sangat besar. Pun dengan nyawa yang dihilangkan, total ada 27 nyawa, termasuk kekasihnya."


Nadhea mengangguk, "Baik, saya mengerti, Pak."


Lantas, polisi mempersilakan Nadhea untuk menemui Arsen. Namun, Nadhea diam sejenak, termenung dan memikirkan segala hal yang terjadi secara tiba-tiba.


Setelah berhasil menata hati, Nadhea beranjak dan melangkah menuju tempat Arsen. Bukan balik jeruji, melainkan ruangan tempat membesuk tahanan. Kali ini, Prawira juga tetap mendampingi.


Tak lama kemudian, Nadhea dan Prawira sudah tiba di sana. Mata Nadhea langsung beradu pandang dengan Arsen. Namun, bukannya sendu seperti dirinya, sorot mata Arsen malah berbinar.


"Mas Arsen," panggil Nadhea dengan pelan.


Pandangan matanya menyusuri seluruh tubuh Arsen. Tubuh tegap yang biasa dibalut setelan formal, kini hanya ditutupi kaus dan celana khas tahanan. Tangan yang biasa memegang pena dan berkas, sekarang hanya berhiaskan borgol. Perbedaan yang sangat kontras, bahkan menghilangkan wibawa dan kharisma.


Akan tetapi, ada satu hal yang menarik dari diri Arsen sekarang. Wajahnya terlihat ceria, pun dengan senyuman, tampak tulus tanpa paksaan. Seolah-olah Arsen adalah pribadi yang tak memiliki beban.

__ADS_1


"Terima kasih sudah bersedia meluangkan waktumu, Sayang." Senyuman Arsen makin melebar.


Bersambung....


__ADS_2