Noda

Noda
Tiba di Bandung


__ADS_3

Lelaki asing yang belum diketahui namanya, mendekati Kaivan dan menggenggam bahunya dengan erat. Sebelum Kaivan bicara, lelaki itu sudah membisikkan sesuatu di telinganya.


"Ada tahi_lalat di dada dan di paha kiri."


Kaivan mengernyit, tak mengerti dengan maksud lelaki itu.


"Itu ciri-ciri Aluna Aldamaya, calon istri kamu." Lelaki itu melepaskan genggaman dan bicara dengan intonasi normal.


"Apa maksudmu?" tanya Kaivan. Dadanya mulai bergemuruh mendengar ucapan lelaki asing, yang entah apa statusnya. Pasalnya, lelaki itu menyebutkan bagian tubuh Luna yang seharusnya tak dilihat orang.


"Aku adalah mantan kekasihnya. Aku yang mendapat keperawanannya. Asal kamu tahu, Kaivan, Luna tidak sebaik yang kamu kira. Kami sudah sering menghabiskan malam bersama. Kau tahu, dia sangat liar di ranjang." Lelaki yang tak lain adalah Rega terkekeh-kekeh. Dia menertawai ekspresi Kaivan yang penuh kekesalan.


"Jangan mengacaukan hubungan kami dengan dusta gilamu. Aku tak akan pernah percaya!" jawab Kaivan dengan intonasi tinggi.


"Aku tidak berdusta. Aku memang sering tidur dengan Luna, saat dia masih remaja. Kemudian, setelah bekerja dan sukses, dia operasi selaput dara. Kamu terlalu payah, Kaivan, mau saja dikelabuhi perempuan liar seperti Luna. Kamu___"


"Tutup mulutmu!" Kaivan mencengkeram kerah kemeja Rega. "Jangan bicara apa pun tentang Luna! Aku yang lebih mengenal dia, paham!" sambungnya masih dengan nada tinggi.


Rega tertawa renyah, lantas melepaskan cengkeraman Kaivan dengan santai.


"Panggil dia 'Oh, Al' maka kamu akan melihat ekspresi yang berbeda. Itu adalah panggilanku untuknya ketika bercinta," ucapnya.

__ADS_1


"Jangan___"


"Buktikan! Lalu nilai sendiri ucapanku benar atau tidak. Ada baiknya telanjangi juga dia, agar kamu tahu bahwa tahi_lalat itu memang ada. Tidak perlu takut, aku yakin dia akan senang kamu ajak tidur," pungkas Rega tanpa menghentikan tawa.


"Pergi!" bentak Kaivan dengan tangan yang mengepal.


"Oke." Rega tersenyum lebar. "Kuharap kamu bukan pengecut yang tidak berani membuktikan ucapanku, Brother," sambungnya.


Kaivan terpaku cukup lama, bahkan sampai Rega menghilang dari hadapannya. Apa yang barusan didengar sungguh mengacaukan pikiran. Kendati selama ini Kaivan yakin bahwa Luna gadis baik-baik, tetapi penjelasan mantannya tadi sangat serius. Terlebih lagi, akhir-akhir ini Luna membuatnya kecewa—perihal Nadhea.


"Benarkah Luna gadis yang seperti itu? Ya Allah, kenapa makin ke sini makin banyak hal yang membuat bimbang. Apakah ini ujian sebekum pernikahan, atau justru takdir yang memang Engkau gariskan?" batin Kaivan di tengah keraguan.


Jauh di depan sana, Rega menatap puas. Lelaki itu yakin bahwa sebentar lagi Luna dan Kaivan akan berpisah. Lantas, ada kesempatan untuknya kembali bersama Luna. Dengan begitu, tidak ada masalah lagi dalam keuangannya.


______________


Enam hari telah berlalu sejak Kaivan berjumpa dengan Rega. Selama itu, Kaivan disibukkan dengan pekerjaan. Selalu saja berangkat pagi dan pulang larut malam. Sampai detik ini, Kaivan belum sempat membuktikan ucapan Rega—memanggil Luna dengan sebutan 'Oh, Al'.


Awalnya, Kaivan masih positive thinking. Namun, sejak dua hari terakhir dia mulai berprasangka buruk. Pasalnya, Luna selalu mengabaikan telepon dan pesan darinya. Dalam 48 jam, hanya satu pesan yang Luna kirimkan, itu pun sekadar mengabari kesibukan. Entah benar atau tidak, Kaivan enggan menebak.


[Aku akan berangkat ke Bandung. Mungkin, tiga hari lagi aku kembali.]

__ADS_1


Usai mengirim pesan untuk Luna, Kaivan langsung menyimpan ponselnya, tanpa menunggu pesan balasan terlebih dahulu. Pikirnya percuma karena Luna belum tentu menghiraukannya.


"Woi, pagi-pagi udah ngelamun!" tegur Kennan diiringi tepukan keras di bahu.


"Sembarangan," sahut Kaivan dengan asal. Lantas, dia naik ke mobil Pajero miliknya, yang kemudian disusul oleh Kennan.


"Ada masalah lagi sama Luna?" tanya Kennan.


"Nggak ada." Kaivan menghidupkan mesin mobil dan melajukannya. Kali ini, dia tak ingin berbagi dengan siapa pun, termasuk Kennan.


Kennan pun paham. Dia tak bertanya lagi dan memilih sibuk dengan ponselnya. Dalam beberapa jam perjalanan, mereka sekadar diam dan tak saling bicara.


Tepat pukul 04.00 sore, mereka tiba di Kota Bandung. Mereka langsung menuju Hotel Permata—tempat yang sudah dipesan oleh Chandra. Kaivan dan crew yang lain akan menginap di sana.


Sebelum turun dari mobil, Kaivan terlebih dahulu memeriksa ponselnya. Ada beberapa pesan dari adik dan orang tuanya, tetapi tak ada satu pun dari Luna. Bahkan, pesan Kaivan tadi pagi juga belum dibaca.


Karena perasaannya makin tak nyaman, Kaivan memutuskan untuk menelepon Luna. Satu kali-dua kali tak mendapatkan jawaban. Setelah panggilan ketiga, barulah Luna menerimanya.


"Hallo," sapa seseorang di seberang.


Kaivan terpaku. Jangankan untuk menyahut, menelan ludah saja dia kesulitan. Bukan Luna yang menjawab teleponnya, melainkan seorang lelaki yang entah siapa gerangan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2