Noda

Noda
Cinta Untuk Athreya


__ADS_3

Kaivan kembali menghampiri Athreya, yang saat ini sudah menunduk sambil mencengkeram ujung baju.


"Kenapa jangan?" tanya Kaivan dengan pelan. Namun, Athreya masih diam, justru tangis tertahan yang terdengar.


"Aku nggak beneran marah, hanya ingin meluruskan sesuatu. Athreya, adikku yang paling cantik, coba jelaskan apa pun yang kamu rasakan. Kakak akan menjadi pendengar yang paling baik." Kaivan tersenyum sambil memegang erat kedua lengan Athreya.


"Kak Kai nyebelin!" teriak Athreya sembari mendongak, memperlihatkan titik-titik air yang membasahi pipinya.


"Ayo duduk!" ajak Kaivan.


Athreya tak menolak ketika Kaivan membimbingnya duduk. Lantas, dia mencurahkan semua gejolak dalam benak saat hatinya sudah tenang.


"Aku merasa nyaman dengan Kak Kennan, sikapnya lembut dan baik, nggak beda jauh sama Kak Kai. Tapi, aku takut. Dia masih sempurna, nggak kayak aku yang ... ah, aku nyuruh dia mengubah penampilan karena aku memang suka penampilan seperti itu, juga aku ingin tahu, sebatas mana Kak Kennan mau membuktikan cintanya. Aku mau tahu dia beneran tulus apa enggak," terang Athreya.


"Seseorang mau mengubah penampilan demi dirimu itu memang menarik, tapi lebih menarik lagi jika dia bisa membuatmu suka dengan apa yang ada padanya."


"Kak___"


"Bukti cinta bukan seperti itu, Reya, melainkan sanggup menjaga sikap, hati, dan harga dirimu. Selain itu, berani datang membawa orang tuanya ke hadapan orang tuamu. Terakhir, berani mengucap janji di hadapan walimu. Itulah bukti cinta yang sesungguhnya," pungkas Kaivan.


Athreya terdiam, mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Kaivan.


"Andai ada orang lain yang mengejarmu, apa kamu rela jika Kennan menyerah?" tanya Kaivan.


Athreya menggeleng, "Aku nyaman sama dia. Dia adalah orang pertama yang datang saat aku terpuruk. Aku nggak rela dia pergi, apalagi kalau dia benar-benar tulus. Tapi ... di sisi lain aku juga nggak yakin, aku takut menerima dia."


"Seandainya dia benar-benar tulus, apa kamu bisa mencintai dia?" Lagi-lagi Kaivan melayangkan pertanyaan.


"Aku akan belajar," sahut Athreya.


"Yakin bisa?"

__ADS_1


"Akan kuusahakan. Aku tidak akan menyia-nyiakan orang yang mencintaiku dan mau menerima keadaanku." Athreya menjawab dengan sungguh-sungguh.


"Dengan penampilan khas dia, bukan ala-ala remaja seperti kemarin. Kamu yakin masih nyaman?"


Athreya mengangguk, "Aku akan memahami apa yang Kak Kai sampaikan tadi."


Kaivan tersenyum dan kemudian memeluk Athreya. Sembari mengusap lengan adiknya, Kaivan membatin, "Semoga dia benar-benar tulus, Reya. Dengan keadaan yang seperti sekarang, bisa bersanding dengan lelaki seperti Kennan adalah anugerah yang istimewa."


____________________


Senja sudah lama padam, tetapi Kennan baru tiba di kediaman Kaivan, entah apa yang membuatnya terlambat. Kaivan pun tak mempermasalahkan hal itu meski tadi sempat memberi waktu setengah jam.


Saat ini, mereka bertiga duduk di ruang tengah, menikmati teh hangat dan kue kering yang baru saja disajikan pelayan.


"Ngapain kamu dekatin Reya?" tanya Kaivan membuka perbincangan.


"Aku cinta sama dia." Kennan menatap Kaivan sekilas, kemudian beralih menatap Athreya.


"Kamu yakin? Dengan keadaannya yang nggak sempurna, kamu beneran bisa mencintai dia dengan tulus? Walaupun kita sahabat, tapi kalau kamu mempermainkan dia, aku nggak akan segan-segan mendaratkan bogeman di wajahmu, sampai cacat permanen biar kamu nggak laku lagi!" ujar Kaivan diiringi tatapan tajam.


"Kamu berani nikahin dia?" Kaivan kembali bertanya.


"Sangat berani, Kai. Kalau memang Athreya mau, aku siap nikahin dia kapanpun. Sekarang, besok, lusa, atau___"


"Hah! Ini pernikahan, Kak, bukan sekedar dinner!" teriak Athreya.


"Kamu pikir nikah itu mudah, ngurus surat-suratnya aja nggak kelar sehari-dua hari." Kaivan turut menyela.


"Mudah, asal ada wali, ada saksi, ada mahar, udah sah kok. Surat-surat, kan, bisa nyusul, penting akad dulu," sahut Kennan dengan cepat.


"Aku nggak rela kalau adikku kamu nikahin siri!" seru Kaivan.

__ADS_1


"Kan, sementara, Kai. Lagian ... ngurus surat juga nggak lama kok, cuma hitungan hari. Soalnya kan Athreya lajang, bukan ... istri orang." Kennan tersenyum lebar sambil melirik Kaivan.


"Jangan sembarangan! Aku juga nggak mencintai istri orang." Kaivan menyahut cepat.


"Loh, emang siapa yang ngomongin kamu?" Kennan makin tertawa.


Kaivan tidak menjawab, sekadar memelotot tajam sambil menggerutu tak menentu.


"Athreya, kamu ... beneran mau mempertimbangkan aku?" tanya Kennan. Dia menatap Athreya tanpa memedulikan Kaivan yang masih kesal.


Athreya mengangguk pelan, "Iya. Aku juga ... menunggu janji Kak Kennan yang tadi."


Di sebelahnya, Kaivan mengernyit. Dia tidak mengerti dengan pembahasan itu. Namun, lain halnya dengan Kennan. Dia tersenyum dan sedikit menegakkan duduknya. Lantas, merogoh sesuatu dari dalam saku dan berlutut di hadapan Athreya.


"Aku tidak akan membuatmu menunggu lama. Begitu kamu menerimaku, maka aku akan melingkarkan cincin di jari manismu. Maaf kalau ini nggak romantis, selain karena momennya dadakan, di sini juga ada hati jomlo yang harus kita jaga. Jangan sampai hatinya patah, kasihan, yang diharapkan jadi pengobat luka masih anteng di pelukan orang," ucap Kennan lengkap dengan senyum yang terus mengembang.


Athreya tertawa, lesung pipinya tampak jelas dan amat menawan di mata Kennan. Kemudian, pipinya bersemu ketika Kennan meraih tangannya dan melingkarkan cincin permata di jari manisnya.


"Aku nggak nyangka, Kak Kennan akan melakukannya secepat ini," ucap Athreya.


Kennan tersenyum, "Aku mengerti kamu, Reya. Melihat ekspresimu di VC tadi, aku berpikir akan ada hal baik di antara kita. Dan ternyata ... benar."


"Nggak usah sok hebat. Mau aku tunjukkan chat-ku tadi? Pas kasih tahu kalau Reya setuju dan aku menyuruh kamu kasih bukti keseriusanmu," sela Kaivan sebelum Athreya menjawab.


"Kamu jangan nyebelin ya, Kai!" Kennan beranjak sambil menatap kesal ke arah Kaivan. "Kamu udah janji mau merahasiakan hal ini," sambungnya.


"Calon-Adik-Ipar-Yang-Berhasil-Karena-Bantuan-Kakak-Ipar, demi menjaga perasaan jomlo, kamu nggak boleh marah. Harus bisa menahan emosi, oke?" Kaivan bicara sambil menyeruput teh dengan elegan, seolah tidak ada yang salah dengan ucapannya.


"Kamu___"


"Kak, jangan kesal. Aku udah tahu dari tadi kok, bahkan ... aku juga tahu kalau Kak Kennan terlambat karena beli cincin. Tadi, Kak Kai kasih lihat chat-nya Kak Kennan," pungkas Athreya yang lantas membuat Kennan menganga.

__ADS_1


"Dasar sahabat laknat, tadi suruh aku kasih kejutan, tapi rencanaku dibeberkan ke orangnya. Kamu juga, Reya, kenapa harus bilang, sih? Kenapa nggak diem aja biar aku nggak kena mental." Kennan membatin sambil memijit pelipisnya.


Bersambung.....


__ADS_2