
Detak jarum jam yang menggantung di dinding ruang tamu, menjadi satu-satunya suara yang mengisi kesunyian di antara kami.
Aku dan Daniel sedang duduk berhadapan dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Hatiku berdebar, menantikan kalimat demi kalimat yang akan dia lontarkan.
Senja sudah lama padam, aku pula sudah selesai menunaikan shalat maghrib berjamaah. Selama menunggu, Daniel bermain dengan Dara. Meskipun sebelumnya tak pernah bersua, namun Dara sangat senang berada dalam dalam dekapan Daniel. Apakah sekuat itu ikatan batin antara ayah dan anak?
Beberapa detik lalu, Bu Fatimah mengajak Dara ke ruang tengah. Beliau memberikan kesempatan untuk kami bicara empat mata, mungkin beliau sudah tahu jika Daniel adalah ayah kandung Dara.
"Terima kasih, Ra, kamu sudah menyematkan nama Dara untuk anak kita," ucap Daniel, memecah keheningan.
"Itu nama yang bagus, aku pun menyukainya." Aku menjawab sambil menunduk.
Aku tak berani beradu pandang dengan Daniel. Manik cokelat miliknya masih cukup mampu menggetarkan hati dan jiwaku. Sekian lama kami tak bersua, sekian lama aku berusaha menghapus rasa, tapi ternyata sia-sia. Upayaku untuk melupakannya, tak ada hasil yang berarti. Cinta ini tetap terpatri dan hati ini tetap terkunci, hanya untuknya.
"Ya Allah, kenapa rasa ini masih jelas ada. Padahal aku berusaha melupakannya. Tolonglah hamba, Ya Allah, hamba tidak ingin terus-terusan tersiksa rasa yang salah," ucapku dalam hati.
"Kirana, maafkan aku. Aku telah salah menilai keadaan, aku bodoh dalam memahami situasi. Aku sudah menghancurkanmu, dan aku juga menempatkanmu dalam posisi yang sangat sulit. Aku benar-benar minta maaf, Kirana," terang Daniel.
Aku tersenyum masam, ingatan tentang Reza kembali melintas dalam ingatan. Perlahan aku menggigit bibir, menahan rasa perih yang menguar dari luka lama.
"Kupikir Reza tulus mencintaimu, itu sebabnya aku menempatkanmu di sana, karena kita sudah tidak ada harapan untuk bersama. Aku sama sekali tidak menyangka, jika dia hanyalah orang suruhan Mama. Maafkan aku yang sangat terlambat menyadari semua ini, Kirana," sambung Daniel.
Aku masih bergeming, terlalu sulit untuk mengucapkan sepatah kata. Sebenarnya aku pun berhutang maaf padanya. Aku pernah memaki dan menganggapnya tidak bertanggung jawab. Aku sempat salah menilainya.
"Aku langsung terbang pulang, setelah tahu kebenaran ini. Akan tetapi, sangat sulit untuk menemukanmu. Sekian lama mencari, aku tidak juga mendapatkan titik terang, dan ... baru hari ini aku berhasil menemukanmu." Lagi-lagi masih Daniel yang berbicara.
"Kamu tahu dari mana, kalau ... Reza itu tidak tulus?" tanyaku dengan gugup.
"Rena yang memberitahuku. Sehari setelah kau pergi, dia meneleponku dan menceritakan semuanya. Dia minta tolong padaku untuk mencarimu, dia khawatir sama kamu," jawab Daniel yang lantas membuatku menganga tak percaya.
"Rena?" Aku mengulangi ucapan Daniel sambil mengangkat wajah.
Selama ini, hubunganku dengannya tidak cukup baik. Lalu mengapa dia mau memikirkan aku?
__ADS_1
"Sebenarnya dia baik, tapi terkadang mulutnya memang pedas. Dia tidak tahu kalau aku ada di Medan. Setelah tahu aku di sana, dia mencoba mencarimu, Kirana, tapi tidak berhasil." Daniel menggeleng pelan.
"Aku pergi jauh kala itu." Aku menghela napas panjang. "Daniel, aku ... aku juga minta maaf, aku sempat salah menilaimu. Maafkan aku, ya," sambungku.
"Bukan salah kamu, memang keadaan yang sengaja membuat kita salah paham," sahut Daniel.
Suasana di antara kami kembali sunyi. Namun kali ini bukan hanya detak jarum jam yang terdengar, melainkan juga deru napas berat yang saling bersahutan.
Aku sedang menata perasaanku, sembari meyakinkan diri jika aku baik-baik saja tanpa Daniel. Aku yakin Daniel pun juga sama. Dilihat dari diamnya, dia pasti bergelut dengan perasaannya sendiri.
"Kirana."
"Daniel."
Aku kembali menunduk sambil menautkan jemari. Rasa canggung itu kian menjadi, kala kita saling memanggil di detik yang sama.
"Bicaralah," kata Daniel. Dia mengulas senyum lebar yang masih sama manis seperti dulu.
"Aduh, ingin rasanya aku lari dari tempat ini. Aku sudah berjanji untuk menjaga pandangan, tapi dia benar-benar menodai mataku. Ahh, godaan syetan tampan ini namanya," gerutuku dalam hati.
"Kamu tahu dari mana kalau aku ada di sini?" tanyaku dengan hati-hati.
"Minggu lalu, temanku melihatmu di toko. Dia sedang belanja dan katanya kamu bercanda dengan karyawan di sana. Sebenarnya, aku ingin secepatnya menemukan kamu ... tapi ada sedikit kendala, jadi baru hari ini aku bisa mencari informasi tentangmu. Aku tadi pergi ke toko, dan bertanya pada karyawan di sana, kebetulan ada Bu Fatimah juga. Setelah aku bertanya-tanya dan memberikan penjelasan, Bu Fatimah mengajakku ke sini," jawab Daniel dengan panjang lebar.
"Oh, begitu." Aku mengangguk pelan.
Sesungguhnya aku ingin tahu, kendala apa yang sedang Daniel alami. Melihat raut wajahnya yang sendu, aku yakin kendala itu tidak sederhana. Akan tetapi, aku ragu untuk menanyakannya.
"Waktu itu kamu ke mana, Ra?" tanya Daniel.
"Aku hendak pergi ke Turen, tapi gagal. Aku bertemu Bunda di jalan, dan ... aku memutuskan untuk ikut beliau. Berkat Bunda, aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik," jawabku, tidak berbohong, namun juga tidak menjelaskan secara detail.
"Apa kamu melewati masa sulit, Kirana?" tanya Daniel. Dia menatap lekat ke arahku.
__ADS_1
"Aku tidak menganggapnya sulit, karena aku berhasil melewatinya." Aku menggeleng sambil tersenyum.
"Maafkan aku, Kirana. Aku berjanji, tidak akan ada kedua kali. Ke depannya, kita akan melewati suka duka bersama-sama," ucap Daniel.
Aku mengernyit heran, apa maksudnya?
"Aku ingin menjaga Dara dan juga kamu, selamanya," sambung Daniel dengan bersungguh-sungguh.
"Niel, apa maksudmu? Kita berbeda, kita tidak bisa bersama." Kutatap wajah Daniel yang masih menampilkan raut sendu.
"Di Indonesia memang tidak boleh, tapi kita bisa melakukannya di luar negeri. Kita akan menikah dengan keyakinan yang berbeda, Kirana. Aku tidak tega membiarkanmu melewati segalanya sendiri, aku ingin selalu ada di sampingmu." Daniel hendak menggenggam tanganku, namun aku menghindarinya.
"Maaf," ucap Daniel, dan aku menanggapinya dengan anggukan.
"Kita tidak bisa melakukannya, Niel. Dalam keyakinanku, tidak sah menikah dengan lelaki yang Non Muslim. Lagipula, suami adalah imam, dia yang akan membimbing istrinya untuk mencium wangi surga. Lantas, jika imam itu tidak sekeyakinan, bagaimana mungkin dia akan membimbing istrinya. Maaf, Daniel, aku benar-benar tidak bisa," tolakku, lengkap dengan alasan panjang.
"Sebenarnya, dalam keyakinanku pun tidak jauh beda, tapi kita tidak punya pilihan lain, Kirana.
Jika pernikahan kita memang tidak sah, aku siap menjaga diri. Aku tidak akan menyentuhmu sampai akhir nanti. Aku hanya ingin menjaga kamu dan anakku. Aku ingin Dara bahagia, punya orang tua seperti anak yang lainnya," terang Daniel, masih tetap pada keinginannya.
"Apa yang kamu bicarakan, Niel? Pernikahan itu bukan permainan. Jangan sampai kita menodai ikatan suci dengan sesuatu yang salah, dosa, Niel.
Lagipula, kita tidak mungkin selamanya menjaga diri. Tanpa ikatan saja kita melampaui batas, lalu bagaimana jika kita tinggal satu atap dan ada surat nikah? Kita pasti tidak bisa menahan diri, Daniel." Kuteguk segelas teh manis yang nyaris dingin. Kubasahi tenggorokanku yang mulai mengering.
Senyap. Untuk sekian detik lamanya, Daniel hanya berdiam diri. Dia mengerjap cepat sambil menghela napas yang terdengar berat.
"Kirana," panggilnya, di menit yang kedua.
"Hmmm." Aku meliriknya sekilas.
"Kalau aku ikut keyakinanmu, apa jawabanmu akan berubah?" tanya Daniel.
Aku tersentak mendengar pertanyaan Daniel. Mata cokelatnya memang menyiratkan keseriusan, namun aku juga menangkap sekelumit luka yang tergurat jelas di wajahnya.
__ADS_1
Bersambung...