Noda

Noda
Makan Malam Bersama


__ADS_3

Bu Fatimah menatapku sambil tersenyum manis, membuatku semakin salah tingkah dan berat untuk memberikan jawaban. Apa yang harus kulakukan?


"Apa begini saja, coba temui dia dan cobalah bicara dengannya. Siapa tahu dengan begitu, kamu bisa memilih keputusan yang tepat," kata Bu Fatimah.


"Ber ... bertemu dengannya?" tanyaku dengan gugup. Entah mengapa hati ini kembali berdebar saat Bu Fatimah mengatakan pertemuan.


"Iya. Supaya kamu bisa lebih yakin dengan keputusanmu nanti," jawab Bu Fatimah.


"Mmm, baiklah." Aku memutuskan untuk bertemu dengannya.


Kupikir-pikir memang lebih baik jika bersua terlebih dahulu. Dengan bercakap sebentar, mungkin aku bisa menentukan, pilihan mana yang harus kuambil.


"Kalau begitu nanti malam, ya? Bunda akan menghubungi dia dan mengajaknya makan malam di sini." Bu Fatimah tersenyum lebar.


Entah mengapa, beliau tampak gembira saat aku setuju untuk bertemu dengan keponakannya.


"Iya, Bunda." Aku menjawab sembari mengangguk.


"Kirana." Bu Fatimah menggenggam lenganku. "Dia memang tidak pandai mengungkapkan perasaannya, tapi dia memiliki rasa yang tulus. Terkadang ... sikapnya membuat orang lain salah paham, tapi di balik tindakannya itu, dia memiliki cinta yang luar biasa. Bunda harap kamu mau mempertimbangkan dia," sambung Bu Fatimah.


Aku tercengang seketika. Kalimat yang Bu Fatimah lontarkan seolah-olah menyiratkan bahwa lelaki itu memiliki cinta untukku. Apakah dia sudah tahu tentangku?


"Bunda," panggilku.


"Iya." Bu Fatimah menatapku.


"Apakah keponakan Bunda ... sudah tahu siapa aku?" tanyaku, ragu-ragu.


"Nanti malam kamu akan menemukan jawabannya. Maaf, Bunda tidak bisa memberitahunya sekarang. Biar jadi kejutan," jawab Bu Fatimah, yang lantas membuat hatiku semakin berdebar.


Sekian detik lamanya aku hanya diam. Mencerna kata-kata Bu Fatimah yang jauh dari dugaan. Sedangkan Bu Fatimah hanya tersenyum. Beliau melepaskan genggamannya dan kembali melanjutkan aktivitas. Membiarkan diriku bertanya-tanya sendiri dalam hati.


"Bun ... Bunda," panggilku, setelah hening dalam waktu yang lama.


"Hmmm." Bu Fatimah menoleh sekilas.


"Keponakan Bunda bukan Daniel, 'kan?" tanyaku dengan hati-hati.


Bu Fatimah mengerutkan kening, lantas tertawa dengan keras. Kemudian, beliau kembali menatapku dengan lekat.

__ADS_1


"Atas dasar apa kamu mengira demikian, Kirana?" Bu Fatimah berkata, tanpa menghentikan tawanya.


"Aku___"


"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Ayo tanam lagi. Tidak perlu menebak-nebak, nanti malam kamu akan tahu siapa dia," pungkas Bu Fatimah.


Aku tak bisa lagi membantah beliau. Terpaksa aku meredam rasa penasaran yang mengganggu dalam benak. Aku menghela napas panjang dan kembali mengisi pot dengan tanah.


________


Senja sudah jauh berlalu, kini tinggal malam yang datang membayang. Kerlip bintang dan sinar jingga rembulan, mengintip dari celah tirai yang sedikit tersingkap.


Aku masuk ke kamar dan meletakkan sajadah serta mukenah di atas sofa. Aku baru saja salat isya' berjamaah di masjid. Kini, pikiranku kembali tak menentu. Beberapa menit lagi, aku akan bertemu dengan keponakan Bu Fatimah. Lelaki yang katanya mau menerima masa laluku, serta lelaki yang bisa saja menjadi calon suamiku.


"Seperti apa sosoknya, benarkah dia mau menerimaku?" gumamku seorang diri.


Kupandangi wajahku yang memantul di dalam cermin. Tidak terlalu buruk. Akan tetapi, masa laluku yang jauh dari kata baik.


Kendati sekarang yang terlihat adalah wajah teduh yang senantiasa bersembunyi di bawah kerudung. Namun tak menutup kenyataan, bahwa wajah ini pernah terjerumus dosa dalam waktu yang cukup lama.


Tak lama kemudian, aku beranjak dan bergegas keluar kamar. Kuembuskan napas kasar sambil melangkah menuju ruang makan. Ternyata, Bu Fatimah sudah ada di sana. Beliau membantu Bibi menyajikan makanan di atas meja.


"Iya, Bunda." Aku mengangguk sambil tersenyum.


Kemudian, aku membantu Bibi mengambil piring. Aku menyibukkan diri, guna meredam gejolak yang semakin detik semakin menjadi.


Setelah semuanya tertata rapi, aku duduk di kursi sambil menautkan jemari.


Aku gugup dan salah tingkah, seakan-akan yang hendak kutemui adalah calon suami yang sebenarnya. Ahh, betapa payahnya diriku.


Beberapa menit kemudian, bel rumah berbunyi. Bibi dan Bu Fatimah beranjak menuju pintu utama, sedangkan aku, aku tetap bergeming di tempatku. Aku lebih memilih menunggu, daripada menyambut.


Perbincangan samar-samar mulai tertangkap dalam indra pendengaran. Semakin lama, suara itu semakin mendekat ke arahku. Dalam diam, aku mengernyitkan kening. Rasanya, suara itu sangat familiar. Tidak hanya sekali-dua kali aku mendengarnya. Siapa dia?


Aku beranjak dan menoleh, ketika sosok itu sudah tiba di belakangku. Aku terkejut dan mematung seketika. Lelaki yang berdiri di depan netraku adalah lelaki yang amat kukenal. Lelaki yang dengannya aku sering berbincang dan terkadang dibuat bingung dengan sikap anehnya. Apakah dia keponakan Bu Fatimah?


"Kirana, bagaimana kabarmu?" tanyanya, sebelum aku berhasil menenangkan diri.


Aku menunduk dan menghindari tatapannya. Mendengar dia bicara, aku semakin gugup dan salah tingkah. Mengapa?

__ADS_1


"Kak ... Kak Darren," sapaku, tanpa mengangkat wajah.


"Lama tidak bersua, bagaimana keadaanmu?" Suaranya kembali mengalun lembut.


"Aku baik, Kak. Mmmm, apakah ... apakah___"


"Iya. Aku keponakan Mama Imah," pungkas Kak Darren, seolah tahu apa yang hendak kutanyakan.


"Silakan duduk." Aku berkata sembari menarik kursi yang ada di depanku.


"Nah sekarang, ayo makan dulu, mumpung masih hangat. Nanti, kita berbincang lagi setelah perut kenyang, biar lebih nyaman," kata Bu Fatimah. Lantas beliau duduk di samping Kak Darren.


"Kirana, kenalkan ini keponakan Bunda, Darren Alfando. Dulu, dia kuliah di universitas yang sama dengan kamu," sambung Bu Fatimah.


"Iya, Bunda, kami ... kami saling kenal." Aku menjawab sembari tersenyum kaku.


"Aku senang, Ra, ternyata anaknya Mama Imah itu kamu," kata Kak Darren.


Aku tersenyum sambil menatapnya sekilas. Entah senang seperti apa yang dia maksud, aku masih kurang paham.


Kemudian, kami mulai mengisi piring kami dengan aneka hidangan yang telah disediakan. Gurat tawa tampak jelas di wajah Bu Fatimah dan juga Kak Darren. Namun, tidak dengan wajahku. Aku merasa gugup dan kurang nyaman. Duduk satu meja dengan Kak Darren, rasanya ada yang aneh.


"Ini minumnya, Kak." Kutuangkan teh hangat ke dalam gelas, lantas kusodorkan ke hadapan Kak Darren. Aku berusaha memecah kecanggungan dengan obrolan ringan.


"Terima kasih," jawab Kak Darren. Kemudian ia meraihnya dan meneguk hingga menyisakan setengah.


Aku kembali menunduk, menatap makanan yang masih utuh di dalam piring. Lantas aku menyendok dan hendak menyuapnya. Namun, niatku terhenti kala mendengar Kak Darren membuka suara.


"Manis," ucapnya, pelan.


Aku tersentak dan langsung menatapnya. Kak Darren sedang memandangi gelas yang ada dalam genggamannya. Aku mendengus kesal, ternyata sekadar teh yang dia puji.


"Aduh, kenapa juga berharap aku yang dipuji. Memangnya aku seistimewa itu apa, ge-er banget sih aku," gerutuku dalam hati.


Lalu aku melanjutkan suapanku.


"Kalau tersenyum, pasti lebih manis," sambung Kak Darren yang lantas membuatku tersedak.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2