Noda

Noda
Luna Pingsan


__ADS_3

Mobil avanza putih yang baru saja melaju kencang di jalan raya, kini berhenti di halaman Queen Galery. Pria paruh baya yang tak lain adalah Prawira, menyambutnya dengan tergopoh-gopoh.


"Pa, ada apa dengan Luna? Dia baik-baik aja, kan?" tanya Nadhea dengan cepat.


"Mudah-mudahan saja iya, Nak," jawab Prawira. "Ayo sekarang ke bandara, penerbangan kita satu jam lagi. Papa sudah memesan tiket tercepat."


"Baik, Pa." Nadhea mengangguk dan kemudian beralih menatap Kaivan. "Bang, nggak apa, kan, ikut ke Surabaya?" ucapnya.


"Iya." Kaivan menjawab sambil tersenyum.


Lantas, Kaivan dan Nadhea masuk sebentar ke dalam galeri, mengambil baju dan barang lain untuk dibawa ke Surabaya. Sementara Prawira, memarkirkan mobil ke dalam galeri. Lalu, mereka bertiga berangkat ke bandara setelah taxi yang dipesan tiba di sana.


______________


Setelah menempuh perjalanan udara selama satu jam lamanya, Prawira, Nadhea, dan Kaivan tiba di Surabaya. Mereka tidak langsung pulang, melainkan ke rumah sakit Polri—rumah sakit yang merawat Luna saat ini.


Menurut keterangan polisi, Luna tiba-tiba pingsan setelah mengamuk. Sekarang pun dia belum sadar, tekanan darahnya sangat rendah dan detak jantungnya sangat lemah.

__ADS_1


"Pak, apa yang terjadi dengan anak saya?" tanya Prawira ketika tiba di depan ruangan Luna. Tampak di sana Luna sedang terbaring lemah. Satu tangannya dipasang infus dan satu lagi dipasang borgol yang dikaitkan dengan tepi brankar.


"Kami belum tahu pasti apa penyebabnya. Tapi, kemungkinan besar ini berkaitan dengan mantan istri Anda."


"Maksud Bapak?"


"Kemarin, Bu Ambar datang membesuk Nona Luna. Beliau mengatakan bahwa bulan depan akan melangsungkan pernikahan. Setelah itu, Nona Luna tampak murung. Bahkan, semalam dia tidak tidur dan hanya melamun. Tadi siang, tiba-tiba dia mengamuk. Dia menjambaki rambutnya dan mencakari tubuhnya sendiri. Setelah itu, dia pingsan sampai sekarang," terang polisi dengan panjang lebar.


"Ambar," gumam Prawira. Ingatannya langsung tertuju pada wanita yang bertahun-tahun menemani hidupnya. Dalam setahun terakhir, dia tak tahu lagi bagaimana kabar wanita tersebut.


"Silakan, tapi jangan masuk bersamaan."


"Baik, Pak." Nadhea beralih menatap Kaivan. "Aku masuk dulu, ya," ucapnya.


"Iya." Kaivan mengangguk sambil tersenyum.


Nadhea membuka pintu ruangan dengan perlahan, pun saat melangkah menghampiri Luna. Mata wanita itu terpaku pada sosok adik yang terbaring lemah. Rambut dan wajahnya tampak kusut, tubuhnya kurus, dan beberapa memar menghiasi lengannya. Keadaan Luna saat ini jauh berbeda dengan Luna yang dulu.

__ADS_1


"Luna, apa yang terjadi sama kamu? Kenapa tiba-tiba seperti ini? Apa ada yang salah jika Mama menikah?" ucap Nadhea sambil menggenggam lengan Luna.


Detik berikutnya, tangan Nadhea beralih ke wajah Luna. Dia rapikan rambut Luna yang sedikit berantakan di sana.


"Baik-baiklah, Luna, jangan seperti ini. Aku sudah menyisihkan uang, tunggulah sebentar, aku akan membantu membebaskan kamu," sambung Nadhea.


Meski dulu perlakuan Luna sangat tidak baik, tetapi Nadhea tidak menyimpan kebencian yang mendalam, cukup kecewa sepintas saja. Bagaimanapun juga, Luna adalah adiknya. Sebagai seorang kakak, Nadhea akan selalu menyayanginya.


Setelah cukup lama melihat Luna, Nadhea keluar dan berganti Prawira yang masuk ke sana. Pria itu menunduk sedih. Dalam hati sangat tidak tega melihat putri bungsunya terluka.


"Bang Kai, kamu tidak ingin menjenguk Luna?" tanya Nadhea ketika Prawira sudah keluar dan Kaivan tetap bergeming di tempatnya.


Bersambung...


Halo Kakak semua, terima kasih ya masih setia dengan novel Noda. Maaf kalau upnya nggak rajin, dan maaf juga kalau belum bisa bales komentar. Di RL lagi ada sibuk—meneliti perkembangan populasi cicak yang merayap di dinding.


Nanti, kalau udah senggang aku usahain rajin ya, sekalian aku bales komentar-komentar Akak Tersayang.

__ADS_1


__ADS_2