
Aku mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Kuulangi berulang kali, guna menenangkan hati yang mulai bergejolak.
Kini terjawab sudah semua misteri yang sempat menghantui. Wajar saja waktu itu Mayra tahu tentang keterlambatan Daniel, rupanya dia memang tahu rahasianya. Sedangkan untuk kata 'menghancurkan' yang Mayra lontarkan, ternyata yang dia maksud adalah persahabatan, bukan yang lain.
"Apa ini, May, yang membuat Nindi tak pernah menghubungiku?" tanyaku padanya.
"Maaf, Ra, soal itu aku tidak tahu. Aku sudah lama tidak berteman dengannya," jawab Mayra yang lantas membuatku terperangah.
"Apa! Kenapa, May? Apa ini ada hubungannya denganku?" tanyaku dengan cepat.
Mayra menghela napas panjang sembari mengeratkan genggamannya.
"Apa aku salah, Ra, kalau marah padanya? Dia dekat dengan Daniel, dan waktu aku bertanya tentang itu, dengan mudahnya dia menjawab, bahwa perasaan itu sudah ada sejak kamu dan Daniel masih bersama. Apakah itu sikap seorang sahabat?" Lagi-lagi jawaban Mayra membuatku tersentak.
__ADS_1
"Nindi," gumamku dengan pelan. Kendati banyak hal yang ingin kuungkapkan, namun hanya sepatah kata itu yang mampu kulontarkan.
"Aku pernah bilang sama kamu, satu-satunya orang yang kupercaya adalah dirimu. Itu karena aku sudah tahu bagaimana sifat Nindi, aku ikut kecewa dengannya, Ra. Kamu sedang kesusahan, dan dia memanfaatkan keadaanmu demi kepentingannya sendiri. Aku benar-benar tidak suka dengan sifatnya, sangat egois dan tidak punya hati," kata Mayra.
Kuusap sudut mataku yang mulai basah, entah mengapa diri ini sangat cengeng. Padahal bukan sekali-dua kali aku merasakan luka, namun air mata itu masih saja ikut berperan. Ya sudahlah, tidak ada yang bisa kulakukan, selain pasrah dan menerima suratan takdir yang telah digariskan.
Jika Daniel memang tidak diciptakan untukku, baiklah, aku akan berusaha melupakan dia dan menghapus perasaanku untuknya, walaupun aku tahu itu bukanlah hal yang mudah.
Aku akan berprasangka baik pada Tuhan, percaya jika ada hikmah di balik kejadian. Mungkin, lewat kehilangan inilah, Tuhan mengirimkan sosok imam yang akan membimbingku mencium bau surga. Ahh, semoga saja.
"Makasih ya, May." Kusunggingkan senyum lebar, ada secercah cahaya yang mulai berpendar dalam jiwaku.
Dalam hati aku sangat bersyukur, Tuhan masih membiarkan sahabat sebaik Mayra, bertahan di sampingku.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Reza pamit undur diri. Dia pergi ke dapur dan membuatkan minuman untuk kami. Aku memanfaatkan situasi ini untuk bicara dengan Mayra.
"May," panggilku. "Soal yang tadi, kamu jangan salah paham, ya. Aku tidak mencintainya, May," sambungku, menjelaskan.
Mayra melepaskan rangkulannya, lantas dia menatapku sambil tersenyum.
"Aku yang seharusnya minta maaf. Aku sadar, dari dulu ... Reza tidak pernah menanggapi perhatianku. Seharusnya aku tidak memaksakan perasaan ini, Ra. Maaf ya," ucap Mayra.
"Kenapa jadi kamu yang minta maaf, perasaanmu nggak salah, May. Reza aja yang aneh. Ahh, seharusnya dia tidak melakukan ini." Aku menggerutu kesal, menyayangkan sikap Reza yang pasti mengecewakan Mayra.
"Dia tidak aneh. Kamu memang istimewa, Ra, kamu pantas dicintai. Kirana, jangan memikirkan aku. Jika hatimu menerima kehadiran Reza, terima saja cintanya. Aku yakin, saat ini kamu butuh sosok seperti dia. Percayalah, aku tidak apa-apa."
Gemetar hatiku mendengar ucapan Mayra. Kendati ia bicara sambil tersenyum, namun dari sorot netranya, aku menangkap kepiluan yang berusaha ia sembunyikan. Mayra, dia sahabat yang tetap ada meski aku sedang terpuruk. Dia terlalu baik untuk kusakiti. Lagipula, aku tidak mencintai Reza. Aku tidak mau menjadikannya pelarian dan tumpuan, sementara hatiku masih terpaut pada cinta yang lain.
__ADS_1
Bersambung...