
Dengan jantung yang berdegup kencang, aku mengusap tombol hijau di layar. Satu detik kemudian, suara wanita mengalun lembut di pendengaran. Hatiku sangat panas, sampai-sampai kesulitan menjawab sapaannya. Karena aku sekadar diam, wanita di seberang sana kembali bersuara. Namun, baru satu kata yang kudengar, tiba-tiba Kak Darren sudah muncul di sampingku.
"Sayang, jangan sembarangan menerima telepon." Kak Darren mengambil ponsel dari genggamanku, lantas mematikan sambungan telepon dan memasukkannya ke saku celana.
"Tadi ... getar terus, jadi ... kuterima," jawabku dengan pelan dan sedikit gugup. Bagaimana tidak, mengetahui bahwa sang penelepon adalah wanita dan mungkin dia-lah yang kerap ditemui. Luka dalam hati tak bisa lagi dijelaskan dengan kata-kata.
"Lain kali jangan diangkat, panggil aku saja. Takutnya itu rekan penting, nanti dikira aku tidak profesional," kata Kak Darren.
"Iya, Kak. Maaf, ya, tadi kebablasan." Aku berusaha tersenyum.
"Iya tidak apa-apa." Kak Darren mengusap puncak kepalaku. "Mmm ... tadi kamu lihat, siapa yang menelepon?" sambungnya sedikit gelagapan.
"Tidak, tadi langsung kuangkat," jawabku.
"Oh."
"Maaf, Kak, andai nanti aku bersikap kurang ajar. Aku tidak akan menyerah sebelum tahu siapa Angel. Kamu bermain api di belakangku, aku pun akan bermain licik denganmu." Aku membatin sambil menatap Kak Darren yang sedang menyisir rambut.
"Kenapa, Sayang?" tanyanya, mungkin merasa risih karena aku terus memandangnya.
"Ganteng." Aku memuji sambil melayangkan senyuman termanis.
"Kamu menggodaku, Sayang?" Kak Darren menoleh dan menaikkan alisnya.
Aku beranjak dan menghampirinya, lantas menggelayut manja di lengan kekarnya.
__ADS_1
"Lusa adalah tanggal tamuku. Kalau dua malam nanti kita lewati begitu saja, mungkin ... minggu depan baru bisa. Udah hampir seminggu lho kamu ... nggak itu. Nggak kangen ya, Kak?" Sengaja kubuka satu kancing kemejanya dan kumainkan jemari di dadanya.
"Sayang ... ini ... masih pagi." Kak Darren menggenggam tanganku dan berusaha menahan gerakanku.
Aku tersenyum sambil terus menggodanya. Di sela-sela tindakan itu, kulirik raut wajahnya yang terlihat cemas dan gugup. Akhir-akhir ini, dia memang jarang menyentuhku. Hal itu membuatku makin yakin bahwa dia ada main di luar sana.
"Sayang, hari ini ada rapat pagi dan aku tidak boleh absen. Nanti malam saja, ya," ucap Kak Darren.
"Beneran, ya?"
"Iya." Kak Darren tersenyum lebar, tetapi tampak nyata bahwa itu pura-pura belaka.
Sambil tertawa renyah, aku menghambur ke pelukannya. Berbicara manja dan merayunya pulang lebih awal. Kak Darren mengiakan tanpa banyak protes. Aku sangat lega mendengarnya. Walau hal itu belum pasti ditepati, tetapi setidaknya ada harapan.
"Ayo." Kak Darren melepaskan pelukan dan kemudian mengecup keningku dengan mesra. Lantas, kami keluar kamar dan berjalan bersama menuju meja makan.
________________________
Jarum jam baru menunjukkan pukul 09.00 pagi, tetapi aku sudah berada di toko bunga. Setelah Kak Darren berangkat kerja, aku langsung mandi dan bergegas pergi membeli sedikit kebutuhan. Tadi aku sudah pamit dan Kak Darren pun mengizinkan.
Usai membeli satu barang yang paling utama, aku singgah sebentar di toko bunga dan membeli satu buket mawar putih. Nanti malam, aku akan menghadiahkannya untuk Kak Darren.
"Semoga dia suka dan rencanaku bisa berjalan dengan lancar," batinku ketika buket bunga sudah diserahkan padaku.
Usai membayar, aku langsung melangkah keluar toko. Namun, langkahku terhenti saat melihat wanita paruh baya yang amat familiar—ibunya Daniel, beliau juga membawa buket mawar putih. Aku hendak mendekat dan menyapa, tetapi urung karena ada ibu-ibu lain yang terlebih dahulu menghampiri beliau. Karena jarak kami tidak jauh, aku bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
__ADS_1
"Tumben beli bunga, Jeng?"
"Iya, mau kubawa ke makam, Mbak. Sudah setahun saya tidak mengunjunginya."
"Yang sabar ya, Jeng. Saya ikut prihatin, tapi ... mungkin inilah yang terbaik."
"Iya, Mbak. Terima kasih, ya."
Detik berikutnya, mereka masuk ke mobil masing-masing, sedangkan aku hanya terpaku di tempat semula. Ke makam, kira-kira siapa yang akan diziarahi?
Satu pertanyaan yang terus berputar dan menyita waktuku dalam beberapa menit lamanya.
Masih teringat jelas bagaimana nada bicara ibu Daniel saat menjawab pertanyaan kawannya, seolah menyimpan luka yang besar. Selain itu, kawannya turut prihatin dan menyuruh bersabar, artinya orang yang ada di makam adalah orang yang memiliki hubungan dekat dengan ibu Daniel.
Sudah setahun lebih, Daniel menghilang dan tidak pernah lagi menghubungi. Kak Darren pernah mencoba menelepon, tetapi nomor Daniel tidak aktif, pun dengan akun media sosial. Aku pernah berpikir, mungkin dia bekerja ke luar kota atau justru ke luar negeri. Namun, setelah mendengar perbincangan barusan, aku berpikir lain.
"Daniel adalah anak tunggal. Otomatis orang terdekat Tante adalah Om Markus dan Daniel. Bulan lalu, Om Markus masih baik-baik saja di bui. Mungkinkah___?" Kupejamkan mata sambil mengembuskan napas kasar. "Tapi ... jika benar dia tiada, pasti kabarnya sudah beredar. Ini ... tidak ada kabar apa pun, seharusnya dia masih baik-baik saja. Namun ... di mana dia sekarang?" sambungku masih dengan suara pelan.
Ucapan Daniel saat terakhir kali menelepon kembali terngiang dalam ingatan. 'Memutuskan akhir hidup', apakah dia benar-benar nekad?
"Ya Allah, semoga dia baik-baik saja," doaku dalam hati.
Walau rasa cinta sudah tidak ada, tetapi dia tetaplah orang yang pernah istimewa. Aku tidak rela jika dia mengakhiri hidupnya hanya karena cinta—yang bertumpu padaku. Ahh, semoga saja tidak. Semoga ada keajaiban yang membuatnya baik-baik saja.
Bersambung....
__ADS_1