
Lima tahun kemudian, hubungan Kaivan dan Nadhea makin harmonis. Meski terkadang ada perselisihan kecil, tetapi tidak membuat mereka sampai bertengkar apalagi merenggangkan hubungan. Keduanya sama-sama dewasa dan bisa mengendalikan emosi. Mereka tahu, dalam pernikahan masalah itu pasti ada, tinggal bagaimana menyikapinya.
Selain hubungan yang makin manis dan harmonis, Kaivan dan Nadhea juga mendapatkan kebahagiaan yang sempurna—kehadiran buah hati yang lucu dan cantik. Walau dulu Nadhea sempat pesimis karena usianya sudah banyak dan sebelumnya Arsen juga memperlakukannya dengan kasar, tetapi ternyata Tuhan masih menyayangi mereka. Setahun setelah menikah, benih milik Kaivan mulai tumbuh di rahim Nadhea, dan sembilan bulan kemudian lahir menjadi sosok mungil yang cantik.
Kini, bayi mungil itu sudah berusia 3 tahun. Kaivan dan Nadhea menyematkan nama Mutiara Danisha untuknya. Mereka bertiga tinggal di Bali dan menjalani kesehariannya di sana.
"Selalu cantik," puji Kaivan. Dia memeluk istrinya dari belakang, yang saat itu sedang berhias di depan cermin.
Malam ini, mereka akan makan malam bersama adik-adiknya. Selain untuk merayakan anniversary yang kelima, mereka juga merayakan keberhasilan Nadhea dalam melukis. Bulan lalu, lukisan surealisme karya Nadhea terjual dengan harga fantastis, saat mengikuti pameran di Paris. Kini, lukisan itu termasuk dalam jajaran lukisan termahal di Eropa.
"Kamu paling pinter ngerayu deh, Mas." Nadhea malu-malu. Tatapan Kaivan yang lekat dan penuh cinta, selalu saja membuatnya merona.
"Bukan merayu, Sayang, tapi bicara apa adanya. Kamu memang selalu cantik kok, apalagi kalau senyum dan malu-malu gini." Kaivan merengkuh tubuh Nadhea lebih erat lagi, juga membelai pipi mulus sang istri dengan lembut.
"Jangan lama-lama, Mas. Nggak enak sama Reya dan Luna," kata Nadhea.
Acara makan malam hari ini memang tidak hanya Athreya dan Kennan yang hadir, tetapi juga ada Luna dan suaminya—Malvino Davinson. Sejak menikah dengan Kaivan, hubungan Nadhea dan Luna makin membaik. Adiknya itu sudah bisa menerima kenyataan dan akhirnya mau membuka hati untuk lelaki lain. Tiga bulan yang lalu dia menikah dengan Malvin.
"Cium dulu baru keluar," pinta Kaivan yang langsung saja mendapat cubitan di lengan.
Kendati begitu, Nadhea tetap menuruti keinginan suaminya. Dia berbalik dan menghadap ke arah Kaivan. Sangat dekat, nyaris tidak ada jarak lagi di antara keduanya. Lantas, mereka saling menempelkan bibir dan merengkuh rasa manis dari diri masing-masing.
Usai mengusap bibir Nadhea yang basah karena ulahnya, Kaivan mengajaknya keluar. Digandeng mesra, seolah-olah pengantin baru yang masih kasmaran.
"Selalu adem deh kalau lihat Kak Kai dan Kak Dhea, romantisnya pakai banget," sanjung Athreya yang saat itu sedang memangku anaknya—Jendra Alghazani. Sementara Tiara, kala itu sedang dipangku Luna.
"Kita juga romantis loh, Sayang. Malah romantisan aku kalau dibanding Kaivan," sahut Kennan.
"Udah, jangan dilanjut. Udah pada jadi ayah, masih aja demen debat," sela Nadhea. Dia tahu benar bagaimana Kaivan dan Kennan jika sedang bersama. Tidak pernah akur, walau kadang yang didebatkan hanya hal sepele.
"Kak Reyvan udah sampai mana, Kak?" tanya Athreya beberapa saat kemudian.
"Tadi katanya udah deket, bentar lagi mungkin datang," jawab Kaivan.
__ADS_1
Sejak memegang perusahaan di Jakarta, Reyvan selalu sibuk dan jarang berkumpul dengan keluarga. Ambisinya memang tinggi, waktunya nyaris habis untuk mengejar target. Tak heran sekarang perusahaan yang dia pegang lebih besar dari perusahaan ayahnya.
Namun, pencapaian itu terkadang juga menjadi beban sendiri untuk keluarga. Karena terlalu fokus bekerja, Reyvan sampai tak memikirkan kehidupannya sendiri. Usianya sudah hampir menginjak kepala tiga, tetapi belum sekali pun menjalin hubungan dengan wanita. Padahal, Kirana dan Darren sudah tak sabar untuk menimang cucu darinya.
"Mudah-mudahan kali ini Kak Reyvan beneran datang. Aku udah kangen sama dia," ujar Athreya.
Pada acara-acara sebelumnya, memang kerap Reyvan berjanji datang, tetapi tiba-tiba batal karena pekerjaan yang mendesak. Hari raya tahun kemarin pun, dia juga tidak pulang. Hanya berkabar via ponsel saja.
"Cariin jodoh, Kai, biar dia nggak kerja mulu." Luna ikut menimpali. Dia juga paham seperti apa Reyvan.
"Kalau aja dia mau, udah dari, Lun. Tapi ... ya gitulah, selalu nggak ada waktu," jawab Kaivan.
Ketika mereka asyik berbincang, tiba-tiba pelayan datang dan memberitahukan bahwa Reyvan sudah tiba. Semua yang ada di sana berbinar, terutama Athreya. Dia sudah tak sabar untuk memeluk kakaknya.
"Maaf, aku telat." Kalimat pertama yang Reyvan lontarkan ketika tiba di hadapan kakak dan adiknya.
"Nggak apa-apa, Kak Reyvan beneran datang aja aku udah seneng," jawab Athreya sambil menghambur ke pelukan Reyvan. "Kangen tahu."
Setelah itu, dia menggendong kedua keponakannya dan menciumi mereka. Reyvan juga membawa hadiah untuk Jendra dan Tiara.
Setelah puas berbincang dan saling peluk, mereka semua pindah ke ruang makan. Aneka macam hidangan sudah tersaji di meja, mulai dari makanan pembuka, penutup, sampai minuman yang beragam jenis.
Usai makan malam, mereka berkumpul di ruang tengah sambil menikmati camilan ringan. Kelucuan Jendra dan Tiara yang menjadi topik utama dalam candaan mereka.
"Rey, ikut aku bentar!" ajak Kaivan di sela-sela tawa yang menyelimuti ruangan itu.
Reyvan mengangguk dan kemudian mengikuti langkah kakaknya, yang ternyata menuju teras. Di sana, mereka duduk berhadapan. Untuk sejenak Kaivan hanya diam, sedangkan Reyvan mengambil sebatang rokok dan menyulutnya.
"Apa setelah ini kamu langsung kembali?" tanya Kaivan mengawali perbincangan.
"Nggak, Kak. Aku ke sini sambil lihat proyek. Ada klien yang mau bangun hotel di sekitar Sanur, aku yang disuruh desain," jawab Reyvan.
Kaivan mengembuskan napas kasar, ternyata kedatangan adiknya itu tidak murni untuk menemuinya, melainkan ada embel-embel bisnis.
__ADS_1
"Papa dan Bunda menunggu kamu. Udah kangen mereka," kata Kaivan.
Reyvan tidak langsung menjawab. Sejujurnya dia juga merindukan mereka, tetapi mau bagaimana lagi jadwal sangat padat. Tidak ada waktu luang untuk pulang ke Malang.
"Mereka sudah tua, apa kamu nggak kasihan? Kerja boleh, tapi jangan sampai lupa waktu. Lihat, umurmu sudah semakin tambah, tapi belum sedikit pun memikirkan masa depan. Mengejar uang dan kedudukan nggak akan ada habisnya, pasti selalu kurang dan kurang. Sekarang kamu udah mapan loh, udah saatnya mikirin nikah. Dan ... jangan lupa juga kunjungi Papa dan Bunda, mereka selalu menanti kepulanganmu," sambung Kaivan dengan panjang lebar.
Reyvan menjentikkan abu rokoknya sambil memijit pelipis. Harapannya, dia bisa mengembangkan perusaan yang dia pegang sampai menjadi perusahaan besar yang menduduki jajaran teratas. Sekarang, dia baru mencapai setengah perjalanan. Sebenarnya, di Ibu Kota sana dia sudah punya kekasih, gadis Indo-Spanyol yang bernama Elleane Zee. Reyvan sangat mencintainya dan berniat melamarnya setelah proyek di Bali ini rampung.
"Malah diam," tegur Kaivan.
Reyvan tersenyum, "Baik, Kak. Nanti akan kuusahakan pulang sebelum kembali ke Jakarta. Dan ... soal pernikahan yang Kakak sebutkan tadi, tenang aja aku udah punya calon kok. Tinggal menunggu waktu yang tepat aja untuk melamarnya dan mengenalkannya pada Bunda."
"Kamu serius?" tanya Kaivan penuh curiga. Pasalnya, selama ini dia tak pernah melihat kedekatan Reyvan dengan wanita.
Reyvan memang tak pernah mengumbar kemesraan di media sosial, hubungannya dengan Elle hanya kawan-kawan dekat saja yang tahu. Rencananya, Reyvan akan jujur pada keluarga setelah Elle menerima lamarannya.
"Iya." Reyvan tersenyum makin lebar.
*****
Maaf ya baru sekarang up bonus chapter-nya. Terima kasih banyak untuk yang masih bersedia fav dan mampir lagi kemari.
Jadi, seperti itulah akhir Kaivan dan Nadhea. Dia punya anak cewek, kalau Athreya dan Kennan anaknya cowok. Hubungan Nadhea dengan Luna juga membaik, Luna udah move on dan nikah sama Malvin.
Kok Reyvan belum bahagia?
Ya, dia memang belum, masih tahap berjuang. Dia sedikit berbeda dengan kakak dan adiknya. Reyvan punya ambisi yang tinggi, sampai-sampai nggak sempat pacaran sampai dewasa. Tapi, sekarang dia udah punya wanita yang dicintai, namanya Elleane Zee.
Tapi, benarkah harapan dia menikah dengan Elle berjalan mulus? Entahlah, cari tahu yuk di ceritanya Reyvan. Aku buat novelnya dengan judul Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan). Ini cerita tentang Reyvan dan Elle.
Yang berkenan silakan mampir yah😊😊😊
__ADS_1