Noda

Noda
Pengakuan Daniel


__ADS_3

Deru napas yang berat, menjadi satu-satunya suara yang kudengar saat ini. Beberapa menit yang lalu, aku masih mengumpat dan memaki di dalam kamar. Namun sekarang, aku sudah duduk di sofa ruang tamu, bersama Daniel. Kendati bibirku menolak keras kehadirannya, tapi hati ini tergerak untuk menjumpai.


Hampir lima menit kami duduk berhadapan, namun tak ada sepatah kata pun yang kami lontarkan. Entah diriku yang terlalu naif, atau memang seperti itulah kenyataannya, kulihat Daniel memandangku dengan tatapan sendu.


"Apa yang kau pikirkan, Kirana, dia sudah punya penggantimu, mana mungkin mau menatapmu dengan sendu. Heh, mimpimu terlalu tinggi," ejek salah satu sisi di dalam hatiku.


"Jangan gegabah, Kirana. Kau pernah menjalin cinta cukup lama dengannya. Bukan hal yang mudah untuk menghapus dirimu dan semua kenangan tentangmu. Bijaklah dalam bersikap, mungkin dia punya kesulitan yang tidak kamu tahu," sanggah sisi baik dalam sanubari.


Aku menghela napas panjang, lantas kutepis semua suara hati yang membawaku dalam dilema.


"Baiklah, akan kudengarkan apa yang dia bicarakan. Biarkan ini menjadi pertemuan terakhir antara aku dan dia. Kuterima semua luka dan sakit yang dia berikan, kegagalan ini akan kujadikan pelajaran di masa depan," ucapku dalam hati.


"Daniel!"


"Kirana!"


Aku membuang muka, mengapa dia memanggilku di saat aku sedang memanggilnya, benar-benar kebetulan yang menjengkelkan.


"Bicaralah lebih dulu," ucap Daniel.


"Aku tidak ingin bicara. Aku hanya ingin mendengarkan hal penting yang akan kau katakan. Cepatlah, aku tidak punya banyak waktu!" ujarku dengan sinis.


"Maafkan aku yang selama ini tidak menghubungimu dan tidak menemuimu. Mama dan Papa tidak merestui hubungan kita, itu sebabnya aku menjauhimu. Aku melakukan itu ... demi kebaikanmu. Maafkan aku yang hanya bisa bertanggung jawab dari jauh, Kirana."

__ADS_1


Aku tersentak mendengar penjelasan Daniel. Emosiku mulai membuncah mendengar kalimat terakhirnya. Bertanggung jawab, bertanggung jawab seperti apa yang dia bicarakan? Dasar lelaki tidak punya hati!


"Jangan mengarang cerita, Daniel! Jangan mencari alasan demi membersihkan nama baikmu! Aku sudah tahu semuanya, aku tahu tentang hubunganmu dengan Nindi. Jadi ... tidak perlu menjelekkan orang tuamu demi menutupi kebejatanmu!" bentakku dengan pelototan tajam.


"Kirana, ini tidak seperti yang kamu kira. Nindi hanyalah gadis yang dipilih oleh Mama dan Papa. Aku tidak mencintainya, aku tidak menerima perjodohan ini."


"Bohong!" teriakku dengan cepat. "Aku pernah melihatmu jalan dengan Nindi, kamu tersenyum dan tertawa bahagia bersama dia," sambungku.


"Kami hanya berteman, Kirana. Kami tidak___"


"Nindi mencintaimu, aku tahu itu." Aku beranjak dan kutatap wajah Daniel yang masih memasang raut sendu.


"Tapi aku tidak mencintainya, Kirana, yang kucintai tetap kamu," ujar Daniel. Dia ikut beranjak dan berdiri di hadapanku.


"Aku tidak bohong, Kirana. Aku bicara apa adanya. Aku mencintai kamu, aku tidak bisa menikahi perempuan lain, termasuk Nindi. Besok aku akan terbang ke Medan, menyusul Paman yang tinggal di sana. Aku akan bekerja lama, Kirana. Ini adalah konsekuensi yang harus kuterima, karena menolak perjodohan yang Mama berikan," terang Daniel yang lantas membuatku terdiam.


"Itulah alasanku, kenapa menempatkan kamu di sini, Kirana. Aku punya kesulitan dengan orang tuaku, dan aku akan merasa tenang jika ada yang menjagamu. Perbedaan ini memaksa kita untuk berpisah, dan aku harus menerima kenyataan itu. Satu-satunya jalan untuk menghapuskan perasaanku adalah ... melihatmu bahagia dengan cinta yang lain."


Kali ini, bukan hanya tatapan sendu yang kulihat, melainkan juga bulir air mata. Dalam hati aku bertanya-tanya, mengapa Daniel menangis? Jika dia memang mencintaiku, mengapa selama ini sama sekali tak peduli? Mengapa ia malah melimpahkan semua tanggung jawabnya pada Reza?


"Maafkan aku yang tidak bisa menemanimu saat lahiran nanti, maafkan aku yang tidak bisa membantumu mengasuh anak kita kelak. Tapi aku janji, Kirana, aku akan tetap bertanggung jawab. Meskipun aku jauh di sana, tapi aku akan tetap melakukan kewajibanku seperti semula. Saat aku pulang nanti, aku harap kamu sudah bahagia, Kirana." Daniel melangkah mendekatiku dan hendak memelukku.


Aku mundur dan menghindari sentuhannya. Dia terus-menerus bicara tentang tanggung jawab, padahal selama ini hanya kontrakan dua bulan yang ia berikan. Apakah menurutnya itu cukup? Aku bekerja keras demi kebutuhan sehari-hari dan untuk biaya lahiran nanti, terkadang malah Reza yang membantuku, bukan Daniel.

__ADS_1


"Kirana!" Daniel menatapku dengan lekat.


"Simpan air mata palsumu, dan pergilah secepatnya. Aku tidak peduli kamu mau ke Medan, ke luar negeri, atau ke luar angkasa sekalian. Jangan bicara tentang tanggung jawab! Apa yang kamu berikan itu tidak cukup, tidak bisa disebut tanggung jawab! Pergi sekarang! Aku muak melihatmu, Daniel!" teriakku dengan penuh emosi.


"Kirana, aku___"


"Pergi!" pekikku dengan pelototan tajam.


"Kirana___"


"Pergi!" Lagi-lagi kubentak dia dengan kasar.


"Aku akan pergi. Jaga diri baik-baik, Kirana, semoga kamu bahagia. Aku mencintaimu, aku bahagia jika kamu bahagia," ucap Daniel.


"Persetan dengan cinta! Cepat pergi!" umpatku masih dengan nada tinggi.


"Dara, Niki, nama yang telah kupikirkan selama ini. Aku tidak memaksamu untuk menerimanya, tapi aku akan senang jika kamu mau menyematkannya. Aku harap suatu saat nanti, aku bisa bertemu dengan kalian ... dengan keadaan yang lebih baik. Maafkan aku, Kirana."


Daniel melangkah pergi, meninggalkan aku yang masih terpaku. Sikapnya, ucapannya, seolah-olah menyiratkan ketulusan yang nyata. Namun, mengingat sikapnya selama ini, apakah itu cerminan dari perasaan yang tulus?


"Tidak." Aku menggeleng. "Daniel tidak sebaik itu. Dia lelaki yang kejam, dia lelaki yang tidak punya hati," ucapku di sela-sela tangis yang mulai pecah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2