
"Maafkan Luna, Kaivan. Tolong maafkan." Rania membuka suara setelah beberapa saat diam tanpa kata. Kali ini, matanya tidak sekadar meredup, melainkan juga menitikkan beberapa tetes air.
"Saya paham, Tante. Saya cuma ingin berbicara dengan dia. Akhir-akhir ini hubungan kami sedikit renggang, mungkin sudah saatnya untuk ngobrol panjang. Yah, dari hati ke hati. Biar nggak ada lagi kerenggangan di antara kami," jawab Kaivan.
"Ini bukan tentang Nadhea, Kai. Luna ada kesalahan lain, tolong maafkan dia." Kali ini Prawira yang menyahut.
"Kesalahan lain? Apa maksudnya, Om?" Kaivan bertanya cepat.
Sebelum mendapat jawaban, Kaivan terlebih dahulu disuguhi tangisan putus asa dari Rania. Kaivan makin heran, berbagai dugaan buruk mulai memenuhi pikirannya.
"Kemarin sore Luna di tangkap polisi atas kasus pembunuhan. Itu sebabnya kami belum bisa ke Bandung semalam," tutur Prawira, yang lantas membuat Kaivan terperangah.
"Maafkan Om, gagal mendidik dia dengan baik. Sekarang, Om terserah padamu. Jika kamu memilih lanjut, tentunya Om sangat senang. Tapi, jika kamu memilih mundur, Om juga paham. Om sadar kesalahan Luna memang fatal," sambung Prawira ketika Kaivan belum menemukan kata untuk bicara.
"Mas, jangan____"
"Kaivan calon suami Luna, Ma. Sudah seharusnya dia tahu apa yang terjadi pada Luna. Sudah seharusnya juga kita pasrah pada keputusan Kaivan, lanjut atau tidak," pungkas Prawira.
__ADS_1
"Tapi, Mas, ini pasti berat untuk Luna." Rania makin menangis. Dia masih tak percaya bahwa anak satu-satunya mendekam di penjara dalam waktu yang lama.
"Dia sudah dewasa, konsekuensi ini harusnya sudah dipikirkan sebelum bertindak."Prawira mengembuskan napas kasar. " Kita terlalu memanjakan dia," sambungnya.
"Om, Tante, tolong jelaskan dengan detail! Siapa yang dibunuh Luna, rival bisnisnya atau siapa? Ini benar-benar perbuatan Luna atau ada seseorang yang menjebaknya?" Kaivan bertanya cepat. Kendati selama ini tahu bahwa sifat Luna kurang baik, tetapi Kaivan tak pernah berpikir tentang pembunuhan. Terlalu ekstrem untuk seorang wanita.
"Rega, lelaki masa lalunya," jawab Prawira diiringi embusan napas berat.
Rania pun menggigit bibir, tak tega melihat musibah yang menimpa anaknya. Karier dan nama baik yang sekian lama diperjuangkan, sekarang sudah hancur berantakan. Calon suami yang tampan dan mapan, mungkin sebentar lagi memutuskan hubungan.
Kaivan tak langsung menjawab. Dia memikirkan sejenak jawaban Prawira. Perlahan, ingatannya tertuju pada malam ketika Rega menemuinya dan bicara panjang lebar tentang Luna. Lantas, dia bertanya tentang rincian perkara dan Prawira menjelaskan dengan gamblang. Rania hanya menangis saat mendengarnya.
"Saya akan menemuinya, Om." Kaivan beranjak dan pergi meninggalkan calon mertuanya. Meski mereka berulang kali memanggil, Kaivan tak peduli. Hatinya terlalu sakit menerima kenyataan tentang Luna.
_________________
Aura dingin dan tajam terpancar jelas dari sorot mata Kaivan. Langkah kakinya mengayun cepat meninggalkan mobil yang diparkirkan di halaman kantor polisi. Sedih, marah, kesal, semua bercampur menjadi satu dan mengacaukan perasaan. Bagaimana tidak, wanita yang amat dicintai justru mengkhianati. Kenyataan ini jauh lebih pahit dari segala prasangka yang dia pikirkan sejak di Bandung.
__ADS_1
Tanpa menoleh ke sana kemari, Kaivan berjalan masuk dan hendak menemui penjaga—guna meminta izin untuk membesuk Luna.
Namun, belum sempat tiba di sana, Kaivan berpapasan dengan seorang lelaki. Karena tidak fokus dengan langkahnya, bahu Kaivan menyenggol lelaki itu. Keduanya saling mendongak dan mata mereka beradu sekejap.
Lelaki berambut cokelat itu memutar bola mata, kemudian pergi tanpa mengucap sepatah kata. Sementara Kaivan, masih terpaku sambil berpikir keras. Sosok yang baru saja hadir mengingatkannya pada seseorang yang punya peran penting dalam hidupnya saat ini.
"Tunggu!" Kaivan menoleh dan berteriak ketika lelaki itu sudah berjalan beberapa langkah.
"Ada apa?"
Kaivan melayangkan tatapan tajam, menilik dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tanpa membuka suara, Kaivan berjalan dan berhenti tepat di hadapan lelaki itu.
"Apa kita saling kenal?" tanyanya. Dia heran melihat ekspresi Kaivan yang seolah tidak asing dengannya.
Bersambung...
Minal Aidin Wal Faidzin untuk kakak pembaca yang ikut merayakan. Mohon maaf lahir dan batin atas kesalahan yang kulakukan, baik yang kusadari maupun yang tidak.
__ADS_1
Maaf baru sempat up, beberapa hari sibuk di real life. Malam ini juga cuma up 1, tapi insya Allah mulai aktif lagi.
Makasih ya udah setia menunggu. Lope banyak banyak kakak pembaca.