Noda

Noda
Dilema Athreya


__ADS_3

Pada waktu yang sama, di kediaman Kirana. Di sebuah kamar di lantai dua, seorang gadis duduk di tepi ranjang sambil menatap layar ponsel. Dia adalah Athreya. Matanya menatap lekat pada barisan huruf yang dikirimkan oleh Kennan.


[Apa sudah sesuai dengan keinginanmu? Atau masih ada yang kurang? Katakan saja, aku akan melakukan apa pun demi membuatmu nyaman. Aku sangat mencintaimu, Athreya.]


Athreya menggigit bibir, tak tahu harus bagaimana membalas pesan Kennan. Di satu sisi, dia bahagia karena masih ada yang bersedia mencintai tanpa mempermasalahkan kesalahan. Namun, di sisi lain dia merasa sedih, mengapa yang mencintainya lelaki sesempurna Kennan—yang jangankan berhubungan bebas, dekat dengan wanita saja tak pernah.


Athreya merasa kejam jika menerima cinta Kennan. Dirinya sudah ternoda, sedangkan Kennan begitu mulia, sangat tidak adil. Kennan berhak mendapatkan wanita yang sama-sama mulia, yang jauh lebih baik darinya.


Akan tetapi, Athreya tak bisa mengatakan 'tidak', apalagi jika mengingat sikap Kennan waktu di Jakarta.


Saat itu, Athreya baru sehari siuman. Karena Kaivan sedang ke Bandung dan Reyvan sedang pulang ke Malang, maka Kennan yang menawarkan bantuan ketika Athreya bosan dan ingin keluar kamar. Dengan sigap, Kennan mendorong kursi roda Athreya dan mengajaknya jalan-jalan di taman rumah sakit.


"Kak Kennan nggak kerja?" tanya Athreya memulai perbincangan. Dia bertanya demikian karena sejak kemarin Kennan tak beranjak dari rumah sakit.


"Enggak. Habis lembur beberapa hari, jadi sekarang istirahat dulu."


"Oh."


Setelah itu, hening untuk beberapa saat. Baik Kennan maupun Athreya tidak ada yang membuka suara. Athreya tetap duduk di kursi roda, sementara Kennan duduk bangku, di depan Athreya. Sesekali keduanya beradu pandang dan saling melemparkan senyuman.


"Aku gagal, nggak bisa mengikuti jejak Kak Kaivan dan Kak Reyvan. Mereka berhasil wisuda dan mendapat gelar, tapi aku___" Athreya menunduk, meratapi kesalahan yang menghancurkan segalanya. Ia larut dalam penyesalan.

__ADS_1


"Berhenti kuliah bukan berarti gagal, Athreya. Masih ada banyak jalan untuk mencapai keberhasilan. Dulu, Kaivan juga pernah gagal waktu SMA. Tapi buktinya, dia berhasil menjadi fotografer," sahut Kennan.


"Beda, Kak. Kak Kaivan hanya tidak lulus, dengan mengulang sudah beres semuanya. Tapi aku, Kak Kennan juga tahu persis masalahku. Semua orang akan memandang sebelah mata. Apa pun caraku memperbaiki diri, tidak akan bisa mengubah keadaan. Selain dalam karier, aku juga gagal dalam hal lain. Aku sudah kehilangan masa depan, Kak." Athreya mulai berkaca-kaca.


"Pikiranmu terlalu jauh, Athreya."


"Itu kenyataan. Walaupun karier bisa didongkrak Papa, tapi bagaimana dengan yang lain? Seorang wanita tidak cukup dengan cantik dan pintar saja, tapi juga ... perawan," kata Athreya. Nada suaranya sangat pelan ketika mengucap kata perawan.


"Nggak ada teori seperti itu, Athreya. Buktinya, sekarang kakakmu juga mengejar janda. Eh, bukan, masih istri orang." Kennan tersenyum lebar. Mungkin, niatnya menghibur Athreya.


"Sok tahu, deh. Kak Kaivan 'tuh cintanya masih sama Mbak Luna." Athreya sedikit tersenyum.


Sebelum Kennan menyahut, Athreya kembali bicara. Kali ini, senyumnya sudah hilang entah ke mana.


Sesungguhnya, sedikit kurang etis bercerita panjang pada Kennan. Pasalnya, dia adalah lelaki, sedangkan masalah itu sangat privasi. Namun, Athreya juga butuh tempat untuk berbagi, demi meringankan beban yang menyesakkan. Athreya tak bisa bercerita pada Kirana karena ibunya adalah wanita yang amat-sangat berperasaan. Athreya tak ingin menambah beban untuknya. Alhasil, Kennan-lah yang mendengar keluh kesah. Toh dia juga tahu masalahnya, begitulah pikir Athreya.


"Yang udah terjadi emang nggak bisa diubah lagi, tapi bukan berarti tidak bisa diperbaiki. Athreya, kamu jangan pesimis! Mungkin, sebagian lelaki ada yang mempermasalahkan hal itu. Tapi percayalah, hanya sebagian kecil! Sebaliknya, masih ada banyak lelaki yang tak peduli dengan hal itu. Jadi, tetaplah semangat. Pada saatnya, akan ada lelaki yang mencintaimu dengan tulus, yang mau menikahi dan memuliakan hidupmu tanpa mengungkit masa lalu." Kennan bicara panjang lebar guna menenangkan Athreya.


Athreya tertawa masam, "Kedengarannya seperti dongeng, Kak."


"Athreya___"

__ADS_1


"Mana bisa aku optimis dan percaya dengan teori Kak Kennan, setelah mengalami semua ini. Jangankan orang lain, yang melakukan saja tidak bersedia menikahi. Ah, konyol sekali kalau aku berharap lebih. Semua akan sia-sia, Kak," sahut Athreya sembari mengusap air mata yang mulai menetes.


Kennan mengembuskan napas panjang, "Yah, aku memang tidak tahu pasti bagaimana sifat lelaki yang ada di luar sana. Aku bicara seperti tadi karena berkaca pada diriku sendiri. Athreya, andai tidak ada yang sanggup menerimamu, biarkan aku yang menjadi satu-satunya."


Athreya mendongak seketika. Untuk beberapa detik, matanya beradu pandang dengan Kennan.


"Mak-maksud Kak Kennan?"


"Ketika kamu koma, aku berjanji akan bicara jujur jika kamu bangun. Tapi, kemarin aku belum berani berterus terang, nyaliku menciut saat berhadapan denganmu. Sekarang, kamu sendiri yang memeberi celah. Jadi, aku tidak akan segan untuk mengatakan segalanya. Athreya, aku mencintai kamu. Rasa ini sudah ada sejak lama. Kamu adalah satu-satunya gadis yang pernah aku cintai," ungkap Kennan.


"Kak Kennan___"


"Apa pun keadaan kamu sekarang, bagiku kamu tetap istimewa. Tak peduli bagaimana pendapat orang lain tentangmu, menurutku kamulah yang paling sempurna. Athreya, aku sangat mencintai kamu. Jika boleh lancang, aku ingin menikah dan hidup bersamamu." Kennan memotong ucapan Athreya.


"Ah, kenapa dia malah mengikuti mauku?" batin Athreya ketika lamunannya sudah buyar.


"Benarkah dia menginginkanku?" Athreya kembali membatin. Lantas, menggeleng-geleng ketika mengingat ucapannya beberapa hari lalu 'aku menyukai lelaki yang penampilannya seperti remaja'.


Ada sekelumit rasa sesal di benak Athreya ketika mengingat penampilan Kennan yang berubah drastis—penampilan ala remaja yang menyerupai Gara. Sebenarnya, Athreya tidak bermaksud mengubah sosok Kennan menjadi Gara. Hanya saja, dia memang suka menatap lelaki yang penampilannya seperti Gara.


"Aku bingung. Apa yang harus kulakukan setelah ini?"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2