
Kumandang adzan subuh menggema, memecah kesunyian pagi. Langit masih gelap, dingin angin berembus menerobos senyap. Aku berdiri di atap rumah milik Mayra, menjemur handuk yang baru saja kupakai. Aku melayangkan pandangan ke sana ke mari, gemerlap lampu kota, laksana pantulan kerlip bintang yang bertabur di angkasa raya.
"Mayra, di mana kamu?" gumamku seorang diri.
Dua jam yang lalu, Mayra pergi mengantarkan barang ke pelanggan, yang tidak kuketahui di mana tempatnya. Meskipun menurut Mayra ini sudah yang kesekian kali, namun aku tetap khawatir. Dia adalah sahabatku, aku takut barang terlarang itu mengantarnya pada jurang yang kelam.
"Ya Allah, semoga Mayra baik-baik saja. Berikanlah kemudahan untuk dia," ucapku pelan.
Pandanganku beralih pada masjid besar yang berdiri kokoh di antara rumah-rumah mewah bak istana. Ada rasa rindu di dalam hati untuk mencari ketenangan di sana. Sejak aku melepaskan mahkota, aku tak pernah lagi menginjakkan kaki di tempat suci. Aku terlena dalam kenikmatan dunia, hingga lupa dengan kewajibanku sebagai umat manusia. Kebodohan yang hakiki, yang kini mengantarku pada titik terpahit.
"Ibu, apa Ibu sudah tahu jika aku pergi? Apa Ibu mencariku, apa Ibu sedih dengan kepergianku?" kubisikkan tanya pada angin yang terus menerpa.
Biasanya, Ibu bangun sebelum adzan subuh. Beliau adalah wanita yang taat, tak pernah meninggalkan shalat, walaupun sibuk dan penat. Satu hal yang seharusnya kujadikan panutan, tapi ternyata, aku terlalu bodoh dan malah menyimpang jauh dari apa yang Ibu ajarkan.
Kumandang adzan sudah berakhir, buana kembali sunyi dan lengang. Udara pagi masih setia menghantarkan hawa dingin yang menusuk tulang, namun tak membuatku bergeming dari tempat yang sekarang. Kendati tubuh ini sudah menggigil, namun kaki ini masih berat untuk kuajak melangkah. Ada secercah niat untuk menghadap Sang Ilahi, tapi satu sisi dalam hati, tetap menahanku di sini, berdiam dan melakukan hal yang tidak pasti.
Setelah cukup lama bergelut dengan perasaan, akhirnya aku berhasil membujuk hati. Disaksikan fajar yang nyaris menyingsing di kaki langit timur, aku mengayunkan kaki dan menuju ke kamar.
__ADS_1
Semerbak wangi lily blossom menyeruak di hidung, ketika aku membuka pintu kamar Mayra. Kendati ruangan ini sangat mewah dan elegan, namun aku merasa hampa. Entah karena tidak ada Mayra, atau karena aku sudah terbiasa dengan kamarku yang sederhana.
Aku menghela napas panjang, dan mengembuskannya dengan kasar. Dalam hati, aku berusaha menguatkan diri sendiri. Setelah ini, aku harus terbiasa dengan sesuatu yang disebut 'hampa'.
"Aku pasti bisa, aku pasti bisa!" gumamku berulang kali.
Lalu aku mengambil mukenah dan sajadah milik Mayra yang diletakkan di atas rak. Lantas kubentangkan sajadah itu, dan kubalut tubuhku dengan kain putih nan panjang. Aku berdiri menghadap kiblat dan melaksanakan ibadah wajib yang sekian lama kuabaikan.
Usai melaksanakan shalat, aku bersimpuh dan menengadahkan tangan. Berkeluh kesah dan mengadu atas segala hal yang terjadi dalam hidupku. Aku memohon ampunan, serta petunjuk untuk masa yang belum kulalui. Aku berharap, Tuhan memberikan ketegaran bagi jiwaku yang telah rapuh.
Sang surya sudah menampakkan keanggunannya, sinar jingga nan memesona menyinari hamparan dunia. Mega-mega putih berarak, menghiasai bentangan langit biru. Lukisan pagi yang indah dan cerah, namun sayang, keindahan itu tak menjamah sanubari.
Aku duduk di balkon kamar, mencengkeram teralis besi, sembari menatap beningnya air kolam di bawah sana. Berkali-kali kulirik jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan, sudah pukul 08.00 pagi. Aku berdesis pelan, aku masih menunggu Mayra yang hingga saat ini belum memberi kabar. Ada apa gerangan? Katanya, dia akan kembali sebelum matahari terbit, tapi mengapa ia belum muncul sampai matahari hampir merangkak tinggi.
"Kamu di mana sih, May?" tanyaku, entah pada siapa. Jangankan makhluk bernyawa, angin pun enggan berembus di sekitarku saat ini.
Di saat aku masih terjebak dalam kekhawatiran, tiba-tiba kudengar ketukan pintu samar-samar. Aku meninggalkan balkon dan berjalan mendekati pintu. Aku membukanya dengan lebar, dan kudapati sosok pelayan yang menatapku sambil mengernyitkan kening.
__ADS_1
"Saya Kirana, temannya Mayra, saya baru semalam datang ke sini," terangku dengan senyuman ramah, aku menjawab kebingungan yang terpancar di raut wajahnya.
"Oh begitu, maaf ya, Non, tadi saya tidak tahu. Mmm ngomong-ngomong, Non Mayra mana, Non?" tanya Bibi itu padaku.
"Mayra sedang keluar sebentar, ada sedikit urusan," jawabku.
"Aduh, terus bagaimana ini."
"Ada apa, Bi?" tanyaku padanya. Bibi itu tampak panik, bahkan berkali-kali ia menggaruk kepalanya yang entah gatal, entah tidak.
"Bi!" panggilku.
"Anu, Non. Itu ... itu di depan ada polisi, mereka mencari Tuan Damar dan Nyonya Julia. Tuan dan Nyonya 'kan sedang di luar kota, jadi kalau Non Mayra juga tidak ada, lantas siapa yang menemui mereka."
Aku terperangah dengan ucapan Bibi. Jantungku seakan berhenti berdetak, kala mendengar kata polisi. Bermacam-macam dugaan buruk mulai memenuhi isi kepalaku. Mayra, aku tidak rela jika dia mendekam di penjara.
Bersambung...
__ADS_1