
Aku menunduk, sembari menata perasaan yang kian bergejolak. Lelaki yang sebenarnya kusayangi, namun aku belum siap menjumpai. Terlalu fatal kesalahan yang kulakukan, terlalu dalam kekecewaan yang kutorehkan. Aku masih butuh waktu untuk menata hati, namun ternyata secepat ini keadaan mempertemukan kami.
"Kirana!"
Aku mendongak, menatap wajah Mas Denis yang berdiri tepat di hadapanku. Matanya menyipit, menilik bayi yang kugendong.
"Ke mana saja kamu! Pergi tanpa permisi! Inikah caramu berterima kasih pada Ibu! Hah!" hardik Mas Denis dengan pelototan tajam.
"Mas, aku pergi karena___"
"Diam! Aku tidak butuh penjelasan kamu. Sekarang ikut aku!" Mas Denis mencengkeram lenganku dengan erat.
Aku sempat ketakutan, karena dia menarikku dengan kasar. Namun baru saja aku beranjak, dokter angkat bicara dan membelaku.
"Tolong jaga sikap Anda! Bu Kirana baru saja melahirkan, tidak sepantasnya Anda berlaku kasar padanya." Dokter melepaskan cengkeraman Mas Denis, dan membimbingku duduk di tempat semula.
"Jangan ikut campur, Bu! Saya keluarganya!" teriak Mas Denis.
"Saya tidak peduli siapa Anda, yang saya tahu Bu Kirana adalah pasien saya. Saya tidak akan tinggal diam, jika Anda bertindak kasar. Lagipula ini rumah sakit, tidak diijinkan membuat keributan di sini," terang Dokter.
"Tapi Dok___"
"Jika ada masalah, selesaikan dengan baik. Tidak perlu emosi, apalagi main tangan!" pungkas Dokter dengan tegas.
Kulihat tangan Mas Denis mengepal, mungkin dia marah padaku. Deru napasnya pun tak beraturan, aku semakin yakin jika suasana hatinya sedang buruk.
Setelah mengumpulkan keberanian, aku mulai membuka suara. Aku berusaha mencairkan suasana.
"Bagaimana kabar Ibu, Mas?" tanyaku, pelan. Kendati niatku berteriak, namun nyatanya hanya suara lirih yang berhasil keluar.
"Kamu baru sadar jika punya Ibu! Belum puas kamu membunuh Ayah, iya! Dasar perempuan tidak tahu diri!" geram Mas Denis.
Aku tersentak mendengar ucapan Mas Denis. Apa maksudnya? Mungkinkah Ibu___?
Tidak, tidak mungkin. Ibu pasti baik-baik saja.
Belum sempat aku menjawab ucapan Mas Denis, tiba-tiba Bu Fatimah hadir di antara kami.
"Siapa Anda? Berani sekali berkata kasar pada Kirana?" Bu Fatimah menatap Mas Denis dengan tajam.
"Bunda, dia___"
"Apa kamu bilang? bunda? Kamu memanggil orang lain bunda, sampai kamu melupakan Ibu? Kamu lupa, betapa kerasnya perjuangan Ibu dalam membesarkan kamu! Keterlaluan kamu, Kirana!" pungkas Mas Denis dengan penuh emosi.
"Aku tidak melupakan Ibu, Mas. Aku hanya tidak mau kamu terus marah sama Ibu gara-gara aku. Aku hanya menjauh, agar hubungan kalian baik-baik saja. Aku___"
__ADS_1
"Apa kamu tidak punya mulut, atau kamu bisu! Kamu bisa pergi dengan cara yang baik, pamit, bicara yang jelas sama Ibu, bukan kabur tanpa permisi. Dimana etika kamu!" pungkas Mas Denis dengan intonasi yang lebih tinggi.
"Ibu tidak akan mengijinkan, jika aku pamit. Aku tidak punya pilihan lain, selain sembunyi-sembunyi," ucapku, pelan.
Aku tahu sikapku waktu itu salah, tapi apa lagi yang bisa kulakukan. Aku tidak mungkin bertahan di sana. Aku tidak mau menjebak Ibu dalam masalah.
"Terlalu banyak alasan!" Mas Denis membuang pandangan, tampak jelas jika ia sangat tidak suka padaku.
"Kirana, tolong jelaskan sama Bunda. Siapa dia dan apa masalahnya." Bu Fatimah mendekatiku, dan menggenggam lenganku.
"Dia kakakku, Bunda. Dia___"
"Kakak sepupu," pungkas Mas Denis. "Dia anaknya Tante, dia tidak punya ayah, jadi setelah Tante meninggal, dia ikut keluargaku. Orang tuaku yang membesarkan dia, tapi dia tidak tahu terima kasih. Dia malah mencorengkan aib yang besar, sampai Ayah meninggal karenanya. Apa salah jika aku marah?" sambungnya.
Bu Fatimah menghela napas panjang, "apa benar, Kirana?"
"Iya, Bunda. Maaf, aku tidak menceritakan hal ini. Aku hanya tidak mau mengumbar aib ibu kandungku." Aku menjawab sambil menunduk.
"Tidak apa-apa. Bunda paham dengan posisi kamu," kata Bu Fatimah.
Mas Denis melipat tangannya di dada, mungkin dia kesal melihat kedekatanku dengan Bu Fatimah.
"Sekarang apa yang Anda inginkan?" Bu Fatimah bertanya sambil menatap Mas Denis.
"Apa? Ibu sakit apa, Mas?" tanyaku dengan intonasi tinggi. Aku langsung beranjak, dan menatap Mas Denis.
Apa ini alasannya, mengapa Mas Denis ada di sini?
"Temui saja, Ibu sedang dirawat di sini," jawab Mas Denis, tanpa menoleh. Kendati demikian, nada bicaranya lebih ramah dari sebelumnya.
"Bunda." Aku menoleh dan menatap Bu Fatimah.
"Ayo kita temui, Nak. Suster, kami titip Dara, ya." Bu Fatimah mengambil Dara yang masih terlelap. Lantas, beliau menyerahkannya pada perawat.
"Iya, Bu. Saya akan membawanya kembali ke ruangan," jawab Perawat.
Dokter dan perawat melangkah pergi meninggalkan kami. Tak lama kemudian, kami pun ikut beranjak. Mas Denis berjalan di depan, sedangkan Bu Fatimah mendorong kursi rodaku. Kami bersama-sama menuju ke tempat Ibu.
"Ya Allah, semoga Ibu baik-baik saja. Ampuni dosa-dosa hamba yang membuatnya menderita." Aku membatin sambil mengusap wajahku dengan telapak tangan. Saat ini, hatiku benar-benar gelisah.
Lima menit kemudian, kami tiba di kamar rawat yang paling ujung. Aku melihat Mas Bayu dan Mbak Diana sedang duduk di kursi tunggu. Mata kami saling beradu, dan Mas Bayu langsung beranjak setelah itu.
"Kirana!" Mas Bayu memanggilku, tanpa mengalihkan pandangan. Ekspresinya sulit kuartikan, entah apa yang dia pikirkan.
"Mas Bayu, Mbak Diana," sapaku, ketika jarak kami semakin terkikis.
__ADS_1
Mas Bayu masih tak menjawab, dia hanya menatapku dengan pandangan yang entah apa maknanya. Hanya Mbak Diana yang tersenyum sambil menggenggam lenganku.
"Bagaimana kabarmu, Ra? Kamu ... sakit ya?" tanya Mbak Diana.
"Aku habis melahirkan, Mbak." Aku menjawab sambil tersenyum kaku.
"Di mana bayimu? Cewek apa cowok?" Mbak Diana kembali bertanya.
"Cewek, Mbak. Aku titipkan sama dokter," ucapku.
Setelah berbasa-basi sebentar, Mas Denis membuka pintu ruangan. Kami masuk dan menghampiri tubuh renta yang meringkuk di atas ranjang. Kendati posisi Ibu membelakangiku, namun aku bisa melihat jelas, jika tubuh beliau jauh lebih kurus dari terakhir kami bertemu.
"Maafkan aku, Ibu," ucapku dalam hati.
Kuulurkan tangan dan kugenggam lengan beliau, "Ibu."
Ibu bergerak pelan, namun tak lantas menoleh. Hanya deru napasnya yang kudengar semakin berat.
"Ibu nggak lapar, Nak. Jangan paksa Ibu," kata Ibu dengan suara parau.
"Ini ... Kirana, Bu," ucapku, tanpa melepaskan genggaman.
Seketika, Ibu langsung menoleh. Mata cekungnya mendadak berair saat menatapku. Sebelum buliran bening itu menetes, kupeluk erat tubuh Ibu, kulepaskan rasa rindu yang sekian lama membelenggu.
"Bagaimana kabar Ibu?" bisikku.
"Kenapa kamu pergi, Kirana? Kamu tinggal di mana sekarang? Siapa yang menjagamu? Ibu khawatir, Nak." Ibu menjawab dengan berbagai pertanyaan.
"Aku baik-baik saja, Bu. Cucu Ibu sudah lahir." Aku berkata sambil menitikkan air mata.
Aku bahagia, karena bisa bertemu dengan Ibu. Namun di sisi lain aku juga sedih, ketika melihat kondisi beliau.
"Benarkah? Di mana dia?" tanya Ibu dengan antusias. Beliau melepaskan pelukannya, dan menggenggam lenganku dengan sorot mata yang berbinar.
Belum sempat aku menjawab pertanyaan Ibu, tiba-tiba suara Bu Fatimah mengejutkan kami.
"Mbak Ambar!"
Aku mengernyit heran, mungkinkah mereka saling mengenal?
Kulihat, tatapan Ibu pun berubah tegang, ketika beradu pandang dengan Bu Fatimah. Ada apa gerangan?
"Imah!" gumam Ibu, pelan, namun dapat kudengar dengan jelas.
Bersambung...
__ADS_1