Noda

Noda
Sah


__ADS_3

Kaivan terpaku cukup lama ketika Nadhea sudah tiba di hadapannya. Paras cantik yang berpoles mekap, sungguh tak ada duanya bagi Kaivan. Dia terpesona sampai lupa mengedip. Setelah lengannya disenggol Darren, baru dia tersadar dan menunduk.


Di sisi lain, Nadhea juga mengalami hal yang sama. Dia terpesona dengan wajah calon imam yang tampak segar nan menawan. Berbalut kemeja dan jas warna putih, juga peci dengan warna senada, Kaivan terlihat lebih gagah dari sebelumnya.


Nadhea banyak menunduk ketika duduk di samping Kaivan. Detak jantungnya melebihi batas normal hingga tubuhnya sedikit gemetaran. Entah apa yang membuatnya segugup ini.


"Aku mau live loh, Kak Kai. Jangan sampai salah ya," goda Athreya.


"Jangan bikin malu kaum Adam, Kai." Kennan turut menimpali.


"Kalian apaan sih. Bisa diem, nggak?" sungut Kaivan.


"Kamu kelihatan gugup, aku ya jadi ragu sama kemampuanmu." Kennan tersenyum miring.


"Sembarangan kalau ngomong!"


"Lidah bisa bohong, tapi keringat enggak, Kai. Tuh, segede jagung." Kennan menunjuk kening Kaivan yang memang berkeringat. "Harusnya ... keringetannya itu entar malem, bukan sekarang," sambungnya dengan bisikan.


"Belum pernah ngerasain kepalanku, ya?" Kaivan memelotot tajam. Namun hanya ditanggapi tawa renyah oleh Kennan.


"Bisa kita mulai? Mas Kaivan, Mbak Nadhea, sudah siap?" tanya penghulu menghentikan candaan Kennan.


"Siap, Pak." Kaivan dan Nadhea mengangguk bersamaan.


Setelah semua diam, penghulu mulai mengucap basmallah dan doa. Karena Prawira sudah pasrah padanya, maka penghulu langsung menjabat tangan Kaivan dan memulai ijab kabul.


"Saya nikahkan engkau Kaivan Diratama Alshaki Bin Darren Alfando dengan Nadhea Queenaya Binti Prawira Adhitama dengan mas kawin tujuh puluh lima gram emas dibayar tunai."


"Saya terima nikahnya Nadhea Queenaya Binti Prawira Adhitama dengan mas kawin tujuh puluh lima gram emas dibayar tunai."


"Bagaimana, Saksi, sah?"


"Sah!"


Teriakan dari para saksi membuat Kaivan bernapas lega. Dia telah berhasil melaksanakan ijab kabul. Wanita serupa bidadari yang kini duduk di sebelahnya, telah sah menjadi pasangan halalnya.


Dengan tangan yang masih gemetaran, Kaivan meraih kepala Nadhea hingga berada tepat di bawah wajahnya. Lantas, Kaivan melafazkan doa pengantin.


"Allahumma inni as 'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltahaa 'alaih."

__ADS_1


Usai melafazkan doa, Kaivan mencium puncak kepala Nadhea. Kemudian, Nadhea meraih tangan Kaivan dan menciumnya cukup lama.


"Alhamdulillah. Mari kita panjatkan puji syukur kehadhirat Allah SWT. yang mana telah menyatukan anak-anak kita dalam ikatan pernikahan, ikatan suci yang diridhai Ilahi," ucap penghulu. Kemudian, beliau memimpin doa dan selawat.


"Terima kasih sudah memilih putriku, Nak. Tolong jaga dia dengan baik. Satu pintaku, jangan pernah menyakitinya. Jika dia bersalah, nasihatilah dengan halus. Atau jika kesalahan itu tak bisa dimaafkan, maka kembalikan dia padaku dengan cara yang patut. Aku tidak bisa melihatnya menderita, Nak," ujar Prawira ketika Kaivan sungkem padanya.


"Saya akan menjaganya dengan baik, Pa. Insha Allah, tidak akan pernah saya kembalikan kepada Papa. Saya ingin mendampingi dan membahagiakan dia seumur hidup saya," jawab Kaivan dengan sungguh-sungguh.


"Terima kasih, Nak. Papa hanya bisa memberikan doa, semoga Allah senantiasa melindungi langkah kalian, memberikan kemudahan atas apa yang kalian harapkan." Prawira memeluk Kaivan sambil menepuk punggungnya.


Kamudian, berganti Nadhea yang sungkem. Dipeluknya tubuh Nadhea dengan erat, seolah tak rela jika nanti hidup berjauhan.


"Suamimu adalah lelaki yang baik, berbaktilah padanya. Papa tak bisa memberikan bekal apa pun, hanya doa yang bisa Papa panjatkan untuk kalian. Maafkan kesalahan Papa, Nak, semoga hari ini adalah awal dari kebahagiaanmu," kata Prawira dengan mata yang berkaca-kaca.


"Jangan meminta maaf, Pa, bagiku Papa adalah ayah yang terbaik. Terima kasih, Pa, sudah merestui kami. Jangan pernah bosan mendoakan kami." Nadhea menjawab sambil menjatuhkan air mata.


Menit selanjutnya, mereka sungkem pada Kirana dan Darren. Lain halnya dengan Darren yang hanya memberikan sepenggal nasihat, Kirana menjatuhkan banyak air mata ketika memeluk Kaivan dan Nadhea.


"Jaga istrimu dengan baik, Nak. Sekarang kamu yang bertanggung jawab atas hidupnya. Jangan sekali pun menyakitinya, ingat, bundamu juga wanita. Jika kamu menyakiti istrimu, sama saja dengan menyakiti Bunda."


"Aku tidak akan melakukan itu, Bunda. Aku sangat mencintainya," jawab Kaivan seraya menghapus air mata ibunya.


"Nak, terima kasih sudah memilih Kaivan yang banyak kekurangan. Tolong maafkan dia andai nanti belum bisa memberikan apa yang kamu harapkan. Nak, Bunda sangat menyayangimu. Jangan sungkan untuk berterus terang jika kamu butuh sesuatu. Anggaplah Bunda ini seperti ibu kandungmu," ucap Kirana ketika memeluk Nadhea.


Nadhea tak mampu lagi bicara panjang lebar. Dadanya sudah sesak dan ia tak bisa menahan tangis. Dalam diri Kirana, Nadhea menemukan sosok ibu yang selama ini tak pernah dimiliki. Nadhea sangat bersyukur, Tuhan memberinya kesempatan untuk menjadi bagian dari keluarga Kirana—keluarga yang sangat hangat dan harmonis.


Usai menangis haru, Kaivan dan Nadhea menerima ucapan selamat dari saudara dan kerabat dekat, termasuk crew Beauty Wedding Organizer. Banyak di antara mereka yang memberikan hadiah.


Acara selanjutnya adalah makan bersama. Kali ini, Kaivan dan Nadhea tidak ikut serta. Mereka justru ke


kamar dengan alasan menyimpan hadiah.


Setibanya di kamar—di lantai dua, Kaivan meletakkan beberapa kotak hadiah ke atas meja. Lantas, menghampiri sang istri yang sedang memandangi setiap jengkal ruangan.


Meski sudah lima hari penuh tinggal di sana, tetapi Nadhea belum sekali pun masuk ke kamar Kaivan. Dia tak menyangka jika dinding kamar itu penuh dengan fotonya, ada yang sendiri dan ada pula yang bersama Kaivan. Sejak menangani cabang Beauty Wedding Organizer di Bali, mereka memang sering menghabiskan waktu di wisata-wisata sana.


"Sayang, ada apa?" Kaivan bertanya seraya mengambil mahar dari tangan Nadhea—tiga set perhiasan yang ditata indah dalam kotak kaca. Lalu, meletakannya di meja.


"Kamar kamu ... kesehariannya begini, Mas?" Nadhea balik bertanya. Sejak dikenalkan pada Kirana sebagai calon istri, Nadhea mengubah sebutan 'Bang Kai' menjadi 'Mas Kai'.

__ADS_1


"Iya."


Mendengar jawaban serius dari suaminya, Nadhea menunduk sambil mengulum senyum.


Kaivan makin mendekat dan dengan cepat tangannya merengkuh pinggang Nadhea, hingga tak ada lagi jarak di antara keduanya.


"Kalau senyum jangan disembunyiin." Kaivan menggoda Nadhea sambil meraih dagunya.


Nadhea terpaksa mendongak dan menatap wajah Kaivan yang berada tepat di atasnya. Beruntung blush on yang dikenakan hari ini cukup tebal, jadi dia bisa menyamarkan pipi yang mungkin semerah tomat saking malunya.


"Mas___" Nadhea bergumam lirih ketika wajah Kaivan kian mendekat.


Wanita itu tidak menghindar, hanya memejam sambil mencengkeram jas Kaivan. Ada perasaan takut ketika mengingat hal apa yang akan dilakukan Kaivan padanya.


"Aku akan melakukannya dengan lembut," bisik Kaivan saat menyadari perubahan raut wajah Nadhea. Dia maklum dengan tindakan istrinya karena dulu pernah mengalami hal buruk terkait 'itu'.


Setelah ketegangan Nadhea sedikit mengendur, Kaivan meraih tangan wanita itu dan meletakkannya di atas bahu. Sedangkan wajahnya, langsung mendekat dan mengikis jarak yang tinggal beberapa senti.


Satu detik kemudian, Kaivan memagut lembut bibir merah merekah yang rasanya semanis madu. Tak ada niat untuk melepaskan meski ciuman itu berlangsung lama. Entahlah, seakan ada candu yang membuatnya ingin terus mereguk. Bahkan, tanpa sadar tangan Kaivan sudah bergerak liar di tubuh istrinya.


"Mas," bisik Nadhea di sela-sela ciumannya.


"Sangat manis," sahut Kaivan sambil mengusap ujung bibir Nadhea yang masih basah.


"Lagi, ya?"


Tanpa menunggu jawaban, Kaivan kembali mereguk kenikmatan dari bibir Nadhea. Dia ingin menguras habis rasa manis yang mampu menjalarkan rasa hangat di sekujur tubuh.


Setelah olahraga lidah berulang kali, Kaivan membaringkan tubuh Nadhea di atas ranjang, dengan sangat lembut. Meski belum ada kelopak mawar dan bunga melati, tetapi harum parfum masing-masing mampu membangkitkan hasrat hingga mencapai puncaknya.


Perlakuan lembut Kaivan, perlahan meraibkan rasa takut dan trauma dalam diri Nadhea. Sepenuhnya, dia telah menerima perlakuan Kaivan, seintim apa pun itu.


Namun, baru saja Kaivan memulai aksinya, pintu kamar diketuk dari luar. Kaivan mengumpat kesal dan dengan terpaksa beranjak dari ranjang.


"Kai, keluarga Om Reza datang. Turun dulu gih, temuin mereka. Anunya nanti malam aja!" teriak Kennan dari luar ruangan.


"Jangan sembarangan! Aku lagi bukain hadiah, penasaran apa yang kamu kasih ke aku!" sahut Kaivan dengan intonasi yang tak kalah tinggi. Dia makin kesal karena apa yang diucapkan Kennan memang klop dengan kenyataan.


"Maksudku ya anu itu. Kamu mengarahnya ke anu yang mana?" Kennan tertawa keras.

__ADS_1


Kaivan tak menjawab, hanya mengepalkan tangan dengan erat. Beruntung, pintu kamar tidak dibuka jadi Kennan tidak tahu aksi konyolnya.


Bersambung....


__ADS_2