Noda

Noda
Pernikahan yang Tak Biasa


__ADS_3

Arsen yang baru saja keluar dari kamar, langsung berdiri di samping Nadhea sambil melipat tangan di dada. Matanya menatap Kaivan dari ujung kaki hingga ujung kepala, seolah sedang merekam sosoknya dalam ingatan.


Kaivan membuka mulut dan hendak menyapa. Namun, gagal. Nadhea yang terlebih dahulu bicara.


"Mas, ini adalah lelaki yang kuceritakan waktu itu, yang mencintaiku dan berjanji akan melamarku di depanmu. Katanya, dia ingin bersikap jantan dan memintaku secara baik-baik."


Kaivan tersentak seketika, tak pernah membayangkan bahwa gadis barbar dan tipis otak yang ditemuinya di Puncak Rinjani akan segila itu. Kaivan terpaku dan tak bisa mengucap kata. Tatapan tajam dari suami si gadis membuatnya kesulitan menelan ludah.


"Iya, kan, Bang Kai?"


"Itu tidak benar. Aku___"


"Bang Kai, kok mengelak sih. Ayo ngaku! Mumpung Mas Arsen ada di sini," pungkas Nadhea menggoda Kaivan. Entah mengapa dia merasa senang membuat Kaivan jengkel.


"Jangan gila, aku tidak pernah mengatakan itu. Lagi pula aku akan menikah dengan Luna, seharusnya kamu bisa menghargaiku, bukan malah bicara yang tidak-tidak," kata Kaivan dengan tegas.

__ADS_1


Lantas, dia melangkah pergi meninggalkan Nadhea dan Arsen. Sepeninggalan Kaivan, Nadhea tertawa renyah. Beban-beban hidupnya seakan menguar tanpa sisa ketika menatap ekspresi kesal di wajah Kaivan. Entahlah. Mungkin dia benar-benar jatuh cinta dengan lelaki itu. Ah, sayang sekali sebentar lagi menjadi adik iparnya.


Detik berikutnya, Nadhea dan Arsen masuk ke kamar. Nadhea belum menghentikan tawanya, sedangkan Arsen sekadar menilik dengan tatapan enggan.


"Kamu tertawa renyah, Dhea. Apakah dia sosok yang berharga bagimu?" Arsen bertanya sambil mendaratkan tubuhnya di sofa. Lantas, menyulut sebatang rokok dan menyesapnya kuat-kuat.


"Andai saja dia bukan calon suaminya Luna, sudah pasti sangat berharga dalam hidupku," jawab Nadhea.


"Kamu menyukainya?"


"Awalnya aku sekedar kagum karena dia sangat menyayangi adik-adiknya. Lalu, perasaan itu dengan sendirinya berubah menjadi lebih dalam. Tapi, untuk kesekian kalinya harus Luna yang menang," ungkap Nadhea.


"Kapan kamu bertemu dengannya? Seingatku ... kamu tidak pernah datang ke kota ini sendiri," ujar Arsen.


"Aku bertemu dengannya bukan di sini, melainkan di Gunung Rinjani. Mas ingat, kan, waktu aku menyusul ke Lombok dan mendaki Rinjani?" Nadhea mendongak dan menatap suaminya.

__ADS_1


"Iya." Arsen menjawab singkat, lalu membuang batang rokok yang masih panjang.


"Mau ke mana, Mas?" tanya Nadhea ketika melihat Arsen beranjak dari duduknya.


"Kamar mandi."


Nadhea mengernyitkan kening. Mata beningnya memicing menatap kepergian Arsen. Selain tidak menoleh, lelaki itu juga tidak tersenyum. Bahkan, raut wajahnya terkesan dingin, seolah ada suatu hal yang menyinggungnya.


"Biasanya Mas Arsen menyuruhku mencari cinta, tapi kenapa sekarang seperti tidak suka?" gumam Nadhea. "Ah, iya, dia sangat anti dengan Luna, sedangkan Kaivan adalan calon suaminya. Mungkin, itulah yang membuat Mas Arsen enggan."


Pada waktu yang sama di ruangan yang berbeda, Arsen menatap tajam pada pantulan dirinya di cermin. Tubuh kekar, hidung mancung, bibir sensual, serta rahang yang ditumbuhi bulu-bulu tipis. Bukan gambaran yang buruk. Apalagi dengan kulit yang putih, dia tampak lebih muda dari umurnya. Namun, semua itu tak menjamin kisah asmaranya. Cinta yang sangat menggebu terpaksa kandas karena pengkhianatan.


"Argggghh!" geram Arsen dengan mata yang memejam.


Perlahan, ingatan tentang dua hari lalu melintas begitu saja, menyisakan rasa sakit yang teramat dalam.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2